Rabu, 25 Oktober 2017

Alasan Yang Menyelamatkan Saya dari Narkoba

Ketika memutuskan merantau untuk melanjutkan studi, pada dasarnya kita pun sesungguhnya harus mempersiapkan diri tentang berbagai macam ancaman dan kemungkinan yang akan datang menghampiri diri kita.

Apalagi ketika akan merantau ke Jakarta seperti yang saya lakukan pada tahun 2010 lalu. Sedikpun tidak ada mimpi atau cita-cita untuk berkuliah di Jakarta, namun ternyata Allah Subhanahu wa ta'ala berkata lain.

Pada bulan september 2010 atas ijin kedua orang tua saya pun berangkat ke Jakarta untuk menempuh studi strata satu (Sarjana) dengan melanjutkan kompetensi komputer yang telah saya miliki dari Sekolah Menengah Kejuruan jurusan teknik komputer dan jaringan dulu.

Setibanya di Jakarta, dengan identitas anak kampung dari pelosok Jawa Timur, membuat saya harus ikut berbaur dengan para anak gaul kota metropolitan lainnya. Meskipun dengan selera fashion ala kadarnya, sepatu kets biru, celana jeans dan kaos polo berkerah saya pun dalam beberapa kesempatan mencoba mengakrabkan diri dan ikut aktivitas 'nongkrong' ala anak metropolitan lainnya.

Namun, ternyata dalam beberapa kesempatan dengan secara sadar saya pun pada akhirnya melihat mereka mengkonsumsi benda yang dulunya sering di bawa oleh ayah saya, dari hasil penggerebekan diskotik di wilayah kota Mojokerto.

Ya, ayah saya seorang serdadu. Berdinas di Detasemen Polisi Militer Kodam Brawijaya V/2 membuat ayah saya beberapa kali berkesempatan untuk melakukan operasi tindak disiplin bagi prajurit di wilayah kota Mojokerto. Salah satu agendanya yaitu merazia tempat-tempat hiburan yang kadang kala dalam operasi tersebut pun disita beberapa narkoba dari para pengunjung.

Ketika itu, ayah saya pun dengan pendekatannya sebagai seorang ayah yang ingin mengajari anaknya tentang bahaya narkoba, menunjukkan pada saya seperti apa itu narkoba. Memang saya masih ingat betul, ketika duduk di bangku sekolah dasar, sering sekali petugas dari Puskesmas yang datang melakukan penyuluhan tentang bahaya penyalahgunaan Narkotika, namun pada penyuluhan itu hanya gambar-gambar serta ancamanlah yang saya dapatkan dari para dokter itu.

Namun, dengan keisengan ayah yang menunjukkan pada saya, sehingga saya pun pada akhirnya dapat melihat langsung seperti apa benda yang dapat membunuh jutaan generasi calon pemimpin Indonesia itu.

***

Cara Menghindari Narkoba
Illustration Smoke by Ander Burdain

Ketika saya melihat dengan mata kepala sendiri bahwa rekan-rekan saya mengkonsumsi benda-benda terlarang itu, membuat saya pun berpikir "Apakah seperti ini saya harus bergaul?" Pertanyaan saya pun segera saya jawab sendiri "Tidak!"

Sebagai seorang mahasiswa perantauan, identitas 'anak kolong' atau anak serdadu merupakan identitas yang harus selalu saya bawa untuk membuat saya sadar dan menjaga diri. Apalagi ketika sudah mengingat wajah ibunda di rumah, tak sampai hati jika harus melihat Ibunda menangis karena memikirkan anaknya yang tengah merantau untuk berkuliah namun terjerat hal buruk seperti Narkoba.

Memang, dalam beberapa obrolan, banyak rekan yang berkata bahwa saya perlu mencicipi barang itu. Namun kembali lagi saya berpikir, "Untuk makan saja susah, ngapain lagi harus bikin susah diri." Kira-kira seperti itu lah pertahanan diri yang saya sampaikan kepada mereka.

Meskipun selanjutnya mereka pun berkata sambil menunjukkan benda yang dipegangnya "Ini gele murah kali, sama aja kayak rokok" Dan untungnya, ketika itu ingatan untuk menjadi seorang prajurit yang telah saya cita-citakan sejak lama muncul tiba-tiba dalam ingatan. Sehingga membuat saya pun selalu menolak hal-hal tak berguna seperti itu.

***

Kalau kembali diingat-ingat, begitu banyak kesempatan rekan-rekan saya mencoba mengajak saya untuk mengkonsumsi barang haram tersebut. Namun ternyata, hingga detik ini saya mampu untuk menjaga diri untuk tidak terpengaruh, dari mana asalnya keteguhan itu?

Mimpi menjadi prajuritlah yang menyelamatkan saya.

Memiliki keinginan menjadi seorang prajurit, ternyata hingga detik ini membuat saya selalu membuat batas kanan dan kiri pada perjalanan hidup saya. Dimana, hal itu membuat saya untuk tetap berjalan lurus meski harus berjalan pelan bahkan berlari hingga detik ini saya masih berada pada jalur yang memperoleh restu orang tua saya.

Karena, untuk menjadi seorang prajurit, tentu diperlukan mental, fisik, bahkan jiwa yang bersih atau sehat. Rokok, bahkan narkoba sekalipun merupakan hal-hal yang tentu akan meruntuhkan semua keinginan itu.

Jadi, ketika di luar sana banyak sekali rayuan agar saya dan pembaca sekalian mengkonsumsi narkoba, coba ingatlah hal apa yang Anda inginkan di dunia ini. Dan bayangkan jika Anda menjadi seorang pecandu narkoba.

Selain materi, teman, bahkan keluarga akan hilang dari hidup Anda. Karena mengkonsumsi narkoba sama saja menggali kuburan sendiri.

Sebagai seorang anak muda, banyak sekali impian yang ingin saya capai karena ingin memberikan kebanggaan kepada kedua orang tua dan juga keluarga besar. Meskipun gagal, hingga detik ini saya pun terus mencoba dan terus mencoba.

Salah satu pengalaman saya tentang mengikuti seleksi penerimaan Perwira Prajurit Karir yang berakhir pada kegagalan pada tahun 2015 lalu, sesungguhnya selalu menjadi motivasi untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

Dan seringkali pun saya menceritakan hal ini kepada para junior di Jawa, dan siapapun yang saya temui. Bahwa untuk merantau di Jakarta membutuhkan tekad yang benar-benar kuat untuk menjaga diri menghindari dari pergaulan negatif yang merugikan.

Semua kita bisa dapatkan di Kota Metropolitan ini, teman yang unik, pacar yang cantik, kegiatan kuliah yang keren, pelatihan dari Kementerian yang bagus, kesempatan bekerja yang luas, begitu juga tentang Narkoba, tempat prostitusi dan lain sebagainya.

Merantaulah dengan Hati, pulanglah dengan Prestasi.

Posting Komentar

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search