Lalu Lintas Jakarta Lebih Ramah Dengan Bekerja Bersama #UbahJakarta

Jakarta, identitas metropolitan yang melekat pada kota ini sesungguhnya bukan tanpa alasan. Kota yang memiliki banyak kantor-kantor pusat baik pemerintahan dan swasta, serta puluhan bahkan ratusan pusat hiburan seperti mall menjadikan kota metropolitan ini sebagai tempat pengharapan masyarakat secara luas, bukan hanya oleh warga Jakarta melainkan juga para warga pendatang dari kota lain di Indonesia.




Pendatang atau umumnya dikenal sebagai perantau, merupakan hal umum di Jakarta. Selain untuk menempuh pendidikan, harapan mencari pekerjaan layak dengan gaji yang besar juga digantungkan banyak masyarakat luar kota metropolitan ini. Dan seiring berkembangnya penduduk Jakarta, selain membuat perekonomian Jakarta menjadi semakin menantang, ternyata juga membawa pekerjaan besar yang harus di atasi secara bersama-sama, hal itu tentu saja adalah tentang kemacetan lalu lintas.


PERMASALAHAN



Macet, itu adalah kata yang sangat melekat dengan wajah Jakarta. Jika para pembaca sekalian melintas di jalan-jalan protokol Jakarta, memang kita semua dapat melihat bahwa ruas jalanan Jakarta memang ternyata sangat lebar, namun ternyata pada jam-jam tertentu, sebut saja pada jam berangkat kerja di pagi hari, jam istirahat di siang hari, dan jam pulang kantor dari sore hingga malam hari, jalan-jalan tersebut berubah menjadi sangat tidak ramah.

Penat, kesal, jengkel, ikhlas, dan pasrah mungkin adalah beberapa kata yang sering muncul di pikiran para pengguna jalan di Jakarta. Rasa-rasanya untuk menempuh perjalanan sekitar 25 kilometer saja, paling tidak membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan yang diakibatkan oleh padatnya lalu lintas di Jakarta.

Selain karena banyaknya warga yang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi dari pada menggunakan transportasi umum, kesadaran berlalu-lintas yang baik dan benar nyatanya kurang dimiliki sebagian besar pengguna jalan di Jakarta.

Tidak sedikit kita bisa melihat banyak pengguna jalan yang menerobos lampu merah, berhenti pada area penyebrangan (Zebra Cross), atau bahkan dengan sengaja memarkir kendaraan di bahu jalan yang menyebabkan sempitnya lajur kendaraan. Dan hal-hal tersebut juga diperparah oleh rasa tidak ingin mengalah antar sesama pengguna jalan. Dikarenakan alasan ingin segera tiba di tempat tujuan


SOLUSI

Jika berbicara permasalahan tentang kemacetan kota Jakarta, tentu sampai kapanpun tidak akan pernah berakhir. Hal tersebut dikarenakan banyak warga hanya berpikir bahwa sang dalang yang harus menyelesaikan permasalahan tersebut hanyalah sang kepala daerah, tentu saja adalah Bapak Gubernur.

Menumpukan semua tanggung jawab kepada satu individu, tanpa pernah berpikir untuk ikut serta berkontribusi dalam memberikan solusi ternyata adalah suatu cara yang salah. Mengapa demikian? Karena sebagai kepala daerah, banyak sudah peraturan dan kebijakan yang dirumuskan namun tentu saja kita semua mengenal dengan baik kalimat sakti yang cukup populer di masyarakat yakni "Peraturan dibuat untuk dilanggar", benar begitu bukan? Saya rasa sebagian pembaca cukup mengamini kalimat tersebut.

Namun saya pun yakin dan percaya, bahwa didalam hati dan sanubari pembaca pasti mengerti dan memahami bahwa pernyataan tersebut diatas adalah salah, namun apa boleh buat, istilah kepepet dan menganggap enteng terkadang membuat kita menggampangkan segalanya, sehingga secara tidak langsung membuat kita melanggar beberapa peraturan dijalanan, meski kita tahu bahwa hal tersebut berkenaan tentang keselamatan kita sendiri.
Apa hubungannya peraturan dengan keselamatan?
Tentu saja, peraturan yang dibuat oleh pemerintah adalah merupakan cara untuk melindungi warganya. Namun entah kenapa, terkadang sifat kita yang terlalu memudahkan dan menganggap semua akan baik-baik saja justru terkadang membuat kita celaka.

Tidak memakai helm, berkendara melawan arus, dan menerobos lalu lintas merupakan contoh hal-hal sepele yang terkadang tanpa sadar kita anggap enteng namun nyatanya bisa membawa bahaya yang cukup besar bagi diri kita dan orang disekitar kita.

Dan untuk mengatasi hal tersebut dan yang perlu kita pahami bersama adalah :

Biasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa.

Itu adalah hal yang harus  kita tanamkan baik-baik didalam sanubari kita, dan mari kita tularkan kepada orang-orang terdekat kita.

Mulai sekarang, mari kita bersama-sama berusaha berkontribusi bagi kota Jakarta, dimulai dari hal paling kecil dan dimulai dari diri kita dan orang-orang disekitar kita. Karena sebuah kota yang memanusiakan manusia, harus dimulai dari manusia yang saling menghargai bukan?

Toh jika memiliki kota yang memiliki lalu lintas lancar, dengan fasilitas umum yang baik dan terawat akan membuat kita sebagai warga juga ikut bangga bukan.

Transjakarta #KINILEBIHBAIK

Bagi Anda yang ingin agar lalu lintas Jakarta bisa menjadi lebih ramah, yuk bersama-sama kita lakukan beberapa hal-hal di bawah ini:
  1. Menggunakan Transportasi Umum
  2. Mematuhi Rambu-Rambu Lalu Lintas
  3. Ikut Menjaga Fasilitas Umum 
Kota yang baik, selain sarana dan prasarana yang mendukung harus diiringi juga dengan tingkah dan perilaku para warga yang sadar. Ya, sadar terhadap permasalahan sekitar dan mau ikut serta berkontribusi membawa perubahan baik meski hanya melalu hal-hal kecil.

Karena, untuk membuat sebuah perubahan besar menjadikan kota Jakarta memiliki lalu lintas yang ramah harus dimulai dari beberapa perubahan-perubahan kecil misalnya dimulai dari kesadaran warganya untuk patuh terhadap rambu-rambu lalu lintas, dan lebih memilih menggunakan transportasi umum dari pada kendaraan pribadi.

Sadar atau tidak, meskipun dalam diri kita ingin agar transportasi Jakarta menjadi lebih baik, namun kita hanya bisa mengutuk lalu lintas yang padat melalui media sosial, hal tersebut nyatanya hanya membuang-buang energi kita tanpa sedikitpun memberikan perubahan untuk Jakarta.

Dan jika kita berpikir, bahwa jika beralih ke transportasi umum akan memakan waktu perjalanan menjadi lebih lama, atau ongkos yang dihabiskan menjadi lebih besar, ternyata hal tersebut tidak sepenuhnya benar.

Biaya transportasi yang terbilang mahal, secara logika disebabkan oleh jumlah pengguna yang minim sehingga membutuhkan biaya ekstra bagi kendaraan tersebut untuk beroperasi. Coba Anda bayangkan, jika pengguna transportasi umum banyak, selain jumlah armada yang akan menjadi lebih banyak, biaya transportasi juga akan menjadi lebih murah.

Salah satu contoh transportasi massal yang baik beroperasi saat ini adalah Busway. Dengan membayar Rp 3.500, kita bisa berjalan dari terminal pinang ranti Jakarta Timur hingga terminal Grogol, Jakarta Barat. Bisa dibayangkan jika menggunakan kendaraan pribadi, dengan jarak yang sama berapa biaya yanag harus kita keluarkan belum lagi ditambah dengan letih untuk menempuh perjalanan sejauh itu.

Dan hanya dengan membayar Rp 3.500 kita telah memiliki kendaran yang bisa mengantarkan kita kapan pun kita mau, kita tidak perlu memikirkan masalah biaya perawatan bus, biaya ganti oli, biaya servis bus serta biaya pajak kendaraan yang tentu sangat mahal yang mana hal tersebutlah yang harus dipikirkan setiap bulan atau setiap tahun oleh para pemilik kendaraan.

Pernah berpikir demikian? Semoga pernah.

INOVASI

Setelah kita paham bahwa untuk menciptakan kota yang modern harus dimulai dari perubahan etika masyarakatnya, selanjutnya yuk kita bahas kira-kira apa saja sih inovasi yang bisa kita buat untuk berkontribusi mempopulerkan gaya hidup modern kota metropolitan yang sesungguhnya.

Gaya Hidup

Untuk mulai menjadi warga kota metropolitan yang budiman, bisa kita mulai dengan mencontoh perilaku warga dari negara modern lainnya. Sebut saja para warga negara Jepang, atau Negara-Negara di kawasan eropa, yang nyatanya lebih memilih menggunakan transportasi umum dibandingkan menggunakan kendaraan pribadi.

Selain dikarenakan biaya transportasi yang terbilang hemat, dengan menggunakan transportasi umum, kita bisa menghemat pengeluaran untuk bahan bakar kendaraan, biaya perawatan, dan pembayaran pajak kendaraan. Cukup menarik bukan?

Mengoptimalkan Waktu Perjalanan

Menggunakan gadget pada saat berkendara tentu saja sangat berbahaya bukan. Namun, hal ini dihalalkan banyak pengendara dengan alasan untuk membunuh kebosanan saat berada dalam kemacetan.

Padahal, dengan meggunakan gadget saat berkendara entah itu mengakses media sosial, membaca berita, dan lain sebagainya dapat mengganggu konsentrasi dan juga membuat lalu lintas menjadi tidak lancar.

Sepele memang, namun nyatanya berdampak yang cukup besar dalam kehidupan kita sehari-hari bukan.

Dan tentu akan menjadi lain cerita ketika kita menggunakan transporatasi umum, waktu kita di dalam kendaraan dapat kita gunakan untuk membaca buku, mengakses berita dan melakukan hal-hal produktif lainnya. Tanpa perlu khawatir tentang kendaraan tersebut karena kita memiliki pengemudi yang tentu profesional.

Digitalisasi Transportasi melalui Aplikasi

Jika kendaraan bermotor saja bisa sangat membantu kehidupan kita saat ini oleh salah satu perusahaan dikarenakan teknologi yang dipasang pada perangkat telepon seluler, tentu saja transportasi umum lainnya seperti Busway, KRL, Kopaja, Bajaj dan Angkot pun dapat dilakukan hal serupa tentunya. Apalagi 2 tahun lagi warga Jakarta dapat menikmati salah satu transportasi modern yaitu MRT Jakarta. Tentu hal ini akan mrubah wajah Jakarta menjadi lebih baik. Dan Jakarta dapat menjadi kota metropolitan sesungguhnya jika seluruh warganya mau ikut serta bekerja bersama #UbahJakarta.

Dengan menciptakan aplikasi yang dapat mengetahui posisi transportasi umum, jadwal keberangkatan, jumlah penumpang serta pembayaran elektronik menggunakan e-wallet atau smart card sepertinya dapat menjadi daya tarik untuk meningkatkan kenyamanan kita untuk menggunakan transporatasi umum tentunya.


KESIMPULAN

Untuk menciptakan Jakarta menjadi kota yang modern dengan lingkungan yang manusiawi, tentu membutuhkan kontribusi dari seluruh warganya untuk Bekerja Bersama. Karena, sikap acuh dan tak peduli sebagaian besar warga, hanya akan menghambat terciptanya kota modern yang menjadi kota yang nyaman bagi setiap warga didalamnya.

Dan untuk menjadikan Jakarta menjadi kota modern, tidak membutuhkan setiap warga harus menjadi Gubernur, cukup berkontribusi dengan hal-hal kecil dari lingkungan sekitar, maka hal tersebut akan membawa dampak besar bagi kota tercinta kita, Jakarta.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog MRT Jakarta. #UbahJakarta  #LombaBlogMRTJakarta



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.