Periode Transformasi Kehidupan Seorang Perantau

Pada kesempatan kali ini saya akan share tentang sedikit cerita transformasi atau pergantian kehidupan dari seorang perantau atau lebih tepatnya perantau dari seorang mahasiswa menjadi seorang pekerja atau karyawan.

Pengalaman Mahasiswa Merantau di Jakarta
Merantau -
Image source : https://www.pexels.com

Hari ini, saya diminta  oleh salah satu Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, kampus almamater sarjanaku di Universitas  Borobudur yaitu Dr. Ir. H. Edi Barnas, MM untuk menghadiri sebuah interview dalam rangka akreditasi jurusan Sistem Informasi.

Tanpa berpikir panjang, sebuah undangan dari seorang yang saya hormati sebagai mantan alumni Resimen Mahasiswa, jawaban iya pun saya berikan dan menyanggupi permintaan beliau. Dan tepat pukul 11.00 WIB saya tiba di salah satu ruangan di lantai 7 Gedung D, untuk bersiap menghadapi sang penguji dari Badan Akreditas Nasional.

Yang juga ada dalam sudut ruangan, yakni para junior saya yang saat ini masih berkuliah di semester 4, dan juga ada yang masuk masa-masa 'kramat' yakni, skripsi.

Dalam pandangan saya, sosok mereka mengingatkan saya pada seorang pribadi Ichsan, beberapa tahun yang lalu. Pandangan yang masih menyala-nyala, berdiri tegap dengan kebanggaan sebagai mahasiswa yang juga seorang Menwa dengan menjabat sebagai seorang pimpinan. Pandangan rindu atas kenangan lama pun muncul.

Ketika berada dalam suasana menunggu sang penguji, saya mencoba membuka pembicaraan kepada para junior saya itu, tentang minat mereka, rencana skripsi sampai keinginan bekerja dimana.

Dan yang tak lupa  juga kami bahas, tentang masalah pernikahan tentu obrolan ini saya tujukan kepada rekan-rekan alumni yang juga hadir pada kesempatan itu.

Yah masih seputar, kapan nikah, siapa yang udah nikah, yang udah nikah anaknya udah berapa dan lain sebagainya. Dan juga saling bertanya, "Lu nikah kapan coy?", contoh pertanyaan horor yang menghantui para pria di usia 24 tahun yang masih bujang.

Singkatnya, usai berbincang-bincang dengan para asesor Badan Akreditasi, beberapa diantara kami pun bersepakat untuk sekedar nongkrong di salah satu sudut kampus, dan sepanjang perjalanan atau sejauh kaki melangkah. Masih teringat setiap momen kenangan yang ada di lingkungan kampus.

Rasanya, atmosfir kenangan lama itu seakan memberikan suasana hangat tersendiri bagi pikiran ketika itu. Teringat betul bagaimana kebanggaan saya sebagai seorang anggota Menwa, menjadi mahasiswa yang cukup terkenal di kampus karena sering ngadain event dari berbagai bendera(organisasi) yang dimana pada saat kuliah memang saya aktif, bahkan terbilang hiper-aktif.

Kenangan itu yang benar-benar sangat seru jika dikenang, dan mungkin pahit jika dijalani ketika itu.

Bagaimana tidak, pada tahun 2010 awal berkuliah. Dengan kiriman Rp 500.000 sebulan sebagai anak Tentara, saya harus bisa bertahan hidup. Dan meski berpedoman menghalalkan segala cara untuk tetap hidup, tapi saya berusaha berada pada koridor jalan yang lurus-lah. 

Yang mana ketika itu, saya masih berangan-angan terhadap sesuatu, sehingga hal tersebut menjaga saya untuk tidak melakukan hal-hal aneh dan kelewat batas dan itu terjaga hingga saat ini.

Dan malam ini, saya di telepon oleh seorang teman seperjuangan ketika di Menwa Borobudur. Aldi Handoyo, seorang sarjana teknik sipil yang saat ini sedang merintis karir di sebuah perusahaan konsultan konstruksi yang mengundang saya untuk berjumpa disela-sela waktu cuti bekerjanya dari proyek di kota Palembang.

Tanpa pikir panjang, saya menjawab undangannya, dan lokasi berjumpa yaitu di wilayah Banjir Kanal Timur daerah duren sawit, Jakarta Timur.

Perjumpaan kami tentu tidak hanya berdua, ada juga seorang kawan yang juga dulu aktif di Menwa, yang juga menjadi teman tidur saya ketika di Kontrakan Nusantara dulu.

Dalam perjumpaan itu, kami seakan terbawa mesin waktu mengenang masa-masa indah saat di perkuliahan dulu.

Masa-masa aktif di Menwa, kekuarangan duit, menjauhi teman ketika dekat dengan seseorang dan lain sebagainya.

Sampai-sampai obrolan kami puun mengarah kepada uang jajan yang kami miliki ketika masih kuliah, dibandingkan saat ini ketika sudah bekerja.

Kami bertiga mengamini, memang seiring bertambahnya penghasilan maka keinginan atau gaya hidup rasa-rasanya semakin ikut meninggi. Jika jaman kuliah uang Rp 500.000 bisa bertahan untuk satu bulan, untuk sekarang rasa-rasanya 3 hari saja bisa dengan mudahnya habis entah kemana.

Dan ketika itu, bukan hanya saya yang merasakan hal tersebut, kedua kawan saya pun ternyata merasakan hal yang sama. Semakin besar penghasilan ternyata membuat kita akan semakin boros karena berasumsi cadangan stok masih banyak.

Dalam obrolan candaan itu kamu pun bersepakat, rasanya penghasilan tanpa diiringi oleh rasa syukur, sepertinya tidak akan pernah cukup.


Tidak terasa,7  tahun sudah merantau di kota Jakarta. Di mulai dengan status sebagia mahasiswa hingga menjadi seorang karyawan, memang perjalanan yang panjang.

Dan hal-hal keren itu baru terasa keren, karena kita telah jauh meninggalkannya.


Ichsan Yudha Pratama

Rakyat Biasa Yang Cinta Keragaman Nusantara
Running Enthusist | Web Developer | Blogger | Google Local Guides

Love to code, code to love.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar