Rasanya Bagai Pulang Pantukhir



Hari ini mungkin adalah  hari yang cukup bersejarah dalam hidup saya, karena pada akhirnya saya bisa bersilaturahmi ke rumah seseorang yang memiliki anak gadis yang begitu saya cintai. Tapi tentu ceritanya tidak semanis itu.

Seperti tingkah laku saya yang lain, bahwa tidak pernah merencanakan sesuatu dan langsung mengeksekusi apa yang terlintas dalam pikiran. Ya hari ini merupakan hari yang telah saya putuskan pada satu hari sebelumnya, yaitu saya memutuskan untuk bertamu ke kediaman Pak Haji Marjuk, ayah dari Cucu Malihah.

Pada hari sebelumnya sesaat setelah saya memutuskan bahwa hari libur akan saya gunakan untuk bersilaturahmi ke Bogor, dimalam itu saya pun merasa susah beristirahat. Meski telah mempersiapkan diri untuk istirahat lebih awal, setidaknya 4x saya terbangun di tengah malam karena tidak sabar untuk menunggu pagi.

Rasa-rasanya, kepergian saya ke Bogor pagi harinya merupakan momen yang besar dalam hidup saya. Dan memang begitu adanya.

Pagi tiba, setelah beberes rumah saya pun tanpa pikir panjang menghitung segala macam yang akan saya kerjakan nanti. Mulai dari durasi perjalanan, kapan saya tiba, apa yang harus kerjakan dan bagimana tahapan saya bertamu ke kediaman.

Selama perjalanan dari Jakarta - Bogor menggunakan motor, otak rasanya seperti bermain dengan alam pikirnya sendiri. Sedangkan mulut tak habis-habisnya melafalkan mantra-mantra sebagai percakapan pembuka untuk memulai berbicara maksud kedatangan saya ke kediaman.

Sepanjang jalan raya bogor, saya pun merasa perjalanan sangat ringan dan seperti tak ada dongkol sedikitpun dengan keadaan macet yang ada.

Meski hujan berganti panas dan hujan lagi, berbekal dengan jas hujan saya pun tak menghentikan laju kendaraan sekedar untuk berteduh, dikarenakan waktu saya berangkat pukul 09.30 haruslah tiba pada jam 11.00 WIB, dengan waktu yang telah kuperhitungkan dengan tepat, sekitar pukul 11.00 WIB saya pun tiba di Kota Bogor disambut dengan tumpukan angkot yang memadati jalan dikawasan Kebun Raya Bogor.

Setibanya di Kota Bogor, mata pun mulai mencari letak Bakery terdekat, sebagai modal bertamu saya memutuskan untuk sekedar membawa Brownies. Entahlah, hanya makanan itu yang terlintas dalam pikiran saya.

Setelah membeli beberapa kotak brownies, hujan pun mulai turun kembali selepas saya meninggalkan Bakery, dengan berdoa agar hujan agar sebentar berhenti sampai saya bertemu dengan warung nasi padang sekedar untuk merapel sarapan dan makan siang.

Namun nampaknya hujan pun sudah tak tahan untuk mendinginkan suasana kota Bogor, ketika hujan saat saya masih dalam perjalanan, tiba-tiba mata pun secara langsung menemukan warung nasi padang dan segera saya memarkirkan kendaraan.

Maksud dan tujuanku makan setidaknya untuk mengurangi gemetar ketika menghadapi sesuatu yang belum pernah kulakukan sebelumnya.

Dan seusai makan, kiranya hujan sangat berpihak kepada saya. Dan untuk mendukung penampilan setidaknya tidak memperparah, saya pun mampir ke salah satu tempat penyedia jasa cuci motor. Cara ini saya dapatkan dari seniorku Kapten Angga, beliau pernah berpesan dalam setiap penampilan usahakan tampil rapi dan maksimal baru show off. Yah semoga cara ini bisa sedikit menaikan percaya diri, bahwa saya bukan orang yang jorok. Pencintraan sikit lah.

Sudah makan, motor sudah bersih, selanjutnya saya pun menyiapkan amunisi tambahan. Saya pun mampir ke salah satu gerai minimarket di kawasan perumahan untuk membeli 2 buah coklat. Karena saya tahu bahwa di rumah itu ada balita, dan balita mana yang pernah menolak cokelat ?

Setelah mendapatkan cokelat, ternyata waktu menunjukkan waktu 12:10 WIB, tepat seperti perhitunganku, bahwa saya harus melaksanakan ibadah sholat dhuhur dulu agar nanti ketika dalam perbincangan kami tidak terputus  oleh adzan dhuhur.

Setelah menunaikan ibadah sholat dzuhur, menyemprotkan sedikit deodoran cair ke baju, dengan berucap bismillah saya pun memacu motor perlahan menuju kediaman.

Setibanya di kediaman, saya memarkir kendaraan tepat didepan pagar ruman Pak Haji Marjuk, beberapa kali salam, akhirnya ada suara yang menjawab dari dalam rumah.

Seketika muncul sosok seorang Ayah, dengan wajah penuh curiga bertanya siapa dan mau apa ? Dan dengan tangan gemetaran dan mulut berbicara tidak karuan, saya pun coba menyuarakan "Saya Ichsan Pak, kakak kelasnya Cucu". 

Dengan wajah yang masih penuh tanya, beliau mempersilahkan saya masuk, meski tangan dan kaki gemetaran dan merasa telah bertindak bodoh hari itu saya pun melepas sepatu kulit yang telah basah  oleh kubangan dalam perjalanan menuju Bogor.

Setelah dipersialhkan masuk, muncul sosok perempuan yang telah kukenal lama. Dia adalah Mba Renny, kakak kandung Cucu. Dan yang menarik perhatian saya adalah balita dengan dua gigi bawah yang melempar senyum kepada saya, dia adalah Aulia anak Mba Renny, keponakan Cucu.

Ayah Cucu yang masuk untuk berganti pakaian pun langsung bertanya kepada Mba Renny, tentang siapa saya. Terdengan percakapan kecil mereka dari dalam kamar olehku yang terduduk kaku di ruang tamu.

Lalu ayah Cucu pun keluar dari kamar, dan mulai melempar senyum kepada saya. Dan berkata "Oh saya kira teh sales, mau nawarin barang". Dan oh oke, saya pun merasa seperti pelawak yang datang untuk menghibur. 

Memang, dengan penampilan sok rapi, setelan kemeja lengan panjang putih, celana bahan abu-abu seperti menunjukkan saya memang seorang sales. Tapi itu adalah outfit terbaik yang pernah saya miliki dan selalu bangga berpenampilan demikian meskipun terkadang di caci oleh rekan-rekan akibat terlalu sering dan tidak mengenal tempat.

Dengan awal salah sangka seorang sales, perbincangan pun di mulai. Dengan terbata-bata dan hati penuh deg-degan,perlahan saya pun mulai mencoba menjelaskan siapa saya dan apa maksud dan tujuan saya.

Jika ditanya bagaimana detail, tentu saya tidak bisa mengingatnya dengan jelas bagaimana proses wawancara pengguncang adrenalin itu berlangsung. Yang jelas, teringat betul bagaimana ketika saya menjelaskan maksud tujuan saya datang adalah untuk serius dan langsung dibalas oleh Ayah Cucu adalah, "Orang tua teh yang penting anaknya Usholli, orang tua ga minta macem-macem".

Entahlah apa yang dibicarakan setelah kata itu, yang penting saya agar mengerti kemana alur nasehat ayahnya dan apa yang dibicarakan, yang intinya ayahnya pun tidak minta syarat macam-macam dari calon yang penting jaga ibadah sholat 5 waktu. Dari situ saya pun merasa lega.

Komedi selanjutnya adalah, ketika saya melanjutkan perbincangan tentang waktu untuk melamar yakni 4 tahun, seketika muncul reaksi yang berbeda dengan awal perbincangan tadi. Antara Mba Renny dan Ayah Cucu seperti tersetrum dan langsung menjawab "Wah kasian atuh, kelamaan"

Dari ucapan itu, muncul seperti tamparan keras bagi saya. Meski dalam lanjutannya, Ayah Cucu menegaskan kembali ke anaknya yaitu Cucu, tapi waktu 4 tahun menurutnya terlalu lama. Karena menurutnya, mereka hidup di wilayah kampung dan bukan di perkotaan. Mulut masyarakat desa sangat tajam, apalagi dengan identitas Ayah Cucu sebagai seorang haji yang akan menjadi sorotan.

Dari situ awal kelemasan saya pun dimulai. Dengan perbincangan yang kesana kemari, ditambah dengan Mba Renny yang mulai mengutarakan bahwa sesungguhnya saya dan Cucu sudah berakhir sebagai akibat dari terlalu lama menunggu, pun menjadi bumbu pedas dalam pertemuan saya siang tadi.

Dan juga Mba Renny pun mulai membuka rencana saya untuk melanjutkan studi S2 yang akan memakan waktu 2 tahun. Dan seketika perbincangan menjadi horor lebih menyeramkan dari film Light Out.

Ayah Cucu pun mulai berbicara tentang waktu 4 tahun yang terlalu lama, kasihan Cucunya dan juga kondisi Ayah Cucu yang sudah sakit-sakitan, waktu 4 tahun merupakan waktu yang sangat lama menurutnya.

Dan juga dia menjelaskan, "Namanya jodoh ga akan kemana, tidak dapat perawan dapat jandanya" seketika pun muncul pikiran, apa saya harus mendoakan suami Cucu nanti kenapa-kenapa agar saya bisa tetep jodoh dengan Cucu. Pikiranku siang tadi semakin menjadi-jadi.

Saya pun melanjutkan pembicaraan, bahwa sesungguhnya saya kembalikan kepada Cucu dan Pak Haji bagaimana baiknya. Saya pun mengatakan jika memang dalam masa 4 tahun, ada calon lain yang datang untuk melamar saya pun tidak akan keberatan  dan ikhlas.

Dan Ayah Cucu pun berpesan, jika memang nanti bukan jodoh jangan sampai bermusuhan apalagi saling benci. Dengan sedikit senyum saya pun menyanggupi. Karena dalam pikirku itu akan sangat sulit terasa.

Setelah perbincangan berat itu, segelas kopi dan teh hadir diantara kami berdua. Berusaha mencairkan suasana, Ayah Cucu menawari saya untuk minum teh tersebut, dan tanpa basa basi saya pun permisi untuk minum.

Dari situ, Ayah Cucu mulai membuka pembicaraan lain, mulai dari pembahasan burung perkutut miliknya, pembahasan kampanye pada hari sabtu lalu yang benar-benar parah, membahas tentang papua dan apapun yang kiranya menjadi daya tarik bagi kami berdua.

Meski terkadang ada black point disana dimana kami sempat merasa kehabisan bahan obrolan, dan diam satu sama lain sambil memperhatikan tingkah si kecil Aulia yang mondar-mandir diantara kami berdua.

Tepat pukul 13.20 WIB, Ayah Cucu mendapat telepon yang berurusan dengan Toko miliknya, melihat hal tersebut penting saya pun coba untuk pamit pulang namun ditahan olehnya, katanya jangan pulang dulu mari kita ngobrol lagi.

Saya pun mengurungkan niat, padahal kaki rasanya sudah lemas dan kehabisan daya. Tapi saya mencoba untuk merefresh pikiran dan menguatkan hati tentang keadaan yang baru saya terima.

Dari situ kami mulai lagi perbincangan, obrolan tentang apapun yang kami berdua ketahui. Salah satu perbincangan hangat kami tentu tentang kondisi pilkada DKI yang diwarnai dengan konflik FPI dan juga Ahok. Sebenarnya saya pun sudah kehabisan akal lagi tentang apa yang harus saya bahas, namun ketika saya membahas tentang itu Ayah Cucu seperti mulai bersemangat.

Dan juga saya pun bertanya tentang pengalamannya berangkat haji, menceritakan tentang kondisi Papua, bertanya tentang ceritanya menikah, dan lain sebagainya.

Sampai pada 14.35 WIB akhirnya saya memutuskan untuk berpamit pulang dengan alasan bahwa saya harus tiba di rumah sebelum maghrib. Dan Ayah Cucu pun akhirnya memperbolehkan karena setelah melihat waktu bahwa sebentar lagi waktu adzan Ashar.

Setelah berpamitan, ketika di luar rumah Ayah Cucu masih melanjutkan perbincangan tentang koleksi burung miliknya. Dengan berbalas senyum dan cerita tentang burung nuri yang dulu saya miliki, hal itu menjadi perbincangan penutup diantara kami.

Dengan langkah tegap, saya pun mengangkat motor dan memarkirnya, lalu dengan segera menyalakan mesin dan mengucapkan salam perpisahan. Dari situ, rasanya seperti ada beban berat yang menekan dada.

Rasa puas pun seakan muncul dalam pikiran, tentang ketakutan 3 tahun yang saya lawan hanya dalam satu hari. Namun, saya pun tersadar tentang kenyataan hubungan yang sangat tidak sesuai dengan apa yang saya dan mungkin Cucu inginkan.

Sepanjang jalan, saya seperti merasa terbang. Saya sampai tidak merasakan kaki saya, dan bagaikan motor itu berjalan dengan sendirinya. Selama perjalanan Bogor-Jakarta pikiran pun terbang kemana-mana.

Tentang kenangan 3 tahun lalu, awal kami berdua bertemu, cerita kita yang begitu banyak, dan pilihan kami berdua untuk berkarir dan melanjutkan studi.

Mungkin, dalam hubungan ini saya adalah orang yang egois. Terlalu bernafsu tentang mimpi saya dan mengabaikan hal lain bahkan hubungan saya dengan Cucu. Tapi, sebagai seorang lelaki, mungkin itu adalah sebuah pembuktian bagi diri.

Sesak rasanya, hingga saat megarsipkan kisah hari ini, dada rasanya masih panas. Rasanya seperti yang saya rasakan pada 22 Desember 2015 lalu, ketika gagal lolos seleksi Pantukhir PaPK TNI 2015.

Hingga saat ini, hal yang muncul di kepala adalah saya melihat Cucu telah bersanding di pelaminan, dan dengan pria lain dan saya hanya datang sebagai tamu undangan.

Haha, sebuah momen gila dalam hidup yang tak pernah terbayangkan selama 3 tahun belakang namun semakin jelas terasa sekarang.

Dan saya pun akhirnya tersadar, bahwa untuk mengejar apa yang dicita-citakan ternyata banyak hal yang harus dikorbankan. Selain waktu, cinta, dan juga tenaga. Sungguh, saya tidak tahu bagaimana akhirnya nanti, apakah saya akan lulus dan lolos menjadi perwira TNI atau bahkan menjadi pegawai swasta, saya hanya ingin berusaha maksimal diri sampai batas terakhir.

Terima kasih atas 3 tahun yang sangat berharga, wanita baik untuk pria baik pula, semoga engkau segera menemukan pria terbaik untuk mendapingimu membangun rumah tangga. Semoga bisa berjumpa di waktu yang baik di masa yang akan datang.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.