Ketika Dia Menjadi Seorang Guru

Dalam kunjungan ke Cimory Riverside.

Kurang lebih sudah 3 bulan, salah satu wanita yang saya banggakan berkesempatan menjadi seorang pengajar di sekolah yang pernah menjadi almamaternya sewaktu SMK. Ya, masih teringat betul ketika beberapa tahun lalu saya bertanya kepadanya, kemanakah tujuannya setelah menyelesaikan studi strata-1 kelak ?
Dengan jelas dia mengatakan pilihan pertama melanjutkan pendidikan profesi keperawatan yaitu Ners, jika tidak mungkin dia akan kembali ke sekolahnya dulu untuk menjadi pengajar.

Dan benar saja, setelah lulus dan begitu banyak menyebarkan lamaran pekerjaan, namanya jodoh akhirnya dia pun kembali ke sekolahnya persis seperti ucapannya beberapa tahun lalu untuk menjadi pengajar disana.

Wanita manja, cengeng dan emosi yang naik turun seperti harga bensin premium ketika itu masih melekat dalam pandangan saya terhadapnya. Namun akhir-akhir  ini, saya mulai merasa bahwa wanita yang dulu selalu meminta pertimbangan saya dalam mengambil keputusan, sekarang telah berubah menjadi wanita mandiri yang profesional sebagai seorang pengajar.

Aneh rasanya, bukan karena saya melihat bahwa lebih tinggi murid dari pada guru. Tapi lebih kepada wanita yang dulu saya lihat sekarang sudah berbeda 100 %. Penilian ini saya ambil dari beberapa tingkat perilaku dan juga cara berpikir.

Saat ini, wanita itu sudah berubah menjadi seorang pengajar dengan insting mengayomi, lebih memiliki sifat keibuan yang sangat tinggi dan juga bersikap sangat dewasa.

Ketika menyadari hal itu awalnya saya merasa aneh, tapi setelah saya coba menganalisa kembali, semua itu karena faktor lingkungan. Dan ketika saya merasa berbeda, karena mungkin posisi yang dibutuhkan oleh dia dan saya sangat berbeda.

Dengan kondisi saya saat ini yang aktif di kantor dan juga di komunitas blogger jakarta, saya cenderung bersikap sebagai teman, meskipun didalam blogger jakarta terdapat para blogger yang berusia jauh di bawah saya, sebut saja mulai siswa SMP, Siswa SMK, pekerja, seorang Bapak/Ibu dan juga lainnya.

Ini mungkin yang menciptakan sesuatu yang bersebrangan antara saya dan wanita saya itu. Lingkungan membentuk saya untuk coba fleksibel dan akrab dengan berbagai cara, sedangkan wanita saya harus bertingkah layaknya seorang penyayom. Tentu perbedaan bagai langit dan bumi.

Dalam pengamatan ini, sepertinya kami mulai memasuki fase baru dalam hal menjalin komitmen. Sebagai seorang manusia dewasa, proses pengenalan ini cukup berjalan baik. Dan semoga pada waktu yang tepat akan berakhir dalam sebuah prosesi yang sempurna pula.

Ichsan Yudha Pratama

Rakyat Biasa Yang Cinta Keragaman Nusantara
Running Enthusist | Web Developer | Blogger | Google Local Guides

Love to code, code to love.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar