Dikhiri Pada Adzan Isya




Masih teringat dengan jelas, sudut gedung yang menjadi awal cerita. Tempat saya berlalu-lalang ketika bermaksud untuk menghadap sang pimpinan Wakil Kepala Markas Distrik, Menwa Borobudur.

Tangga itu menjadi saksi, awal perjumpaan terhadap seseorang dengan sosok sederhana dengan ucapannya yang singkat namun berbobot menunjukkan kecerdasan yang dia miliki. Masih teringat jelas, bahwa ketika itu terdapat dinding besar yang juga kokoh bagi saya untuk mengenal sosok itu. 

Tembok itu adalah rekan saya sendiri, yakni teman yang saya kenal dari awal saya bergabung dalam Resimen Mahasiswa Universitas Borobudur. Namanya otak Menwa yang terbilang banyak akal, saya pun mencari tahu bagaimana karakteristik sang dinding dan apa yang dilindungi dibaliknya.

Dan tepat saja, tidak butuh waktu lama saya pun berhasil memanjat dinding itu dan menjumpai pujaan hati yang telah menarik perhatian saya ketika itu.

Meski terbayang akan masa lalu dan juga beberapa konflik, dengan adanya perasaan yang sama ketika itu akhirnya kami pun berusaha menciptakan komitmen. Komitmen yang dibangun dengan dasar alasan yang sama ingin menjalin suatu hubungan dewasa yang berakhir dengan manis dalam sebuah pelaminan.

Dengan cara pikir yang hampir sama, tidak sulit untuk menjalani komitmen tersebut. Kurang lebih selama 3 tahun banyak kisah yang terukir disana. Dan jelas banyak hal bodoh yang pernah saya lakukan untuk membuktikan keseriusan.

Meski pernah berbangga dan bercerita kepada banyak orang terhadap kisah perjalanan yang begitu manis tanpa adanya sedikitpun duri, ternyata apa yang diucapkan oleh seorang rekan kerja bernama Yonathan pun menuai kisahnya.

Yonathan, rekan kerja yang saya kenal sekitar 2 tahun lalu merupakan seorang keturunan chinese dengan perawakan putih kurus dan terlalu sering bicara sendiri. Dengan kisahnya yang jomblo akut, sebagai seorang rekan saya selalu berusaha untuk mendorongnya memiliki rekan hati sekedar untuk berbagi cerita dan juga belajar apa arti kesetiaan dan pengorbanan.

Mungkin karena terlalu sering saya menggodanya, akhirnya dia pun berucap bahwa orang-orang yang mengatainya jomblo, pasti akan putus.

Ketika itu dengan pede pun saya bicara, "Salah alamat lu bro".Namun tepat hari ini 11 Februari 2017 pukul 19.30 tepat ketika adzan Isya berkumandang, ucapan sang teman kampr*t itu pun terwujud.

Kosong, hambar terasa dalam hati. Entah apa jadinya dan entah bagaimana awal mulanya semua ini bisa terjadi.

Memang, dalam kurun waktu 3 tahun belakang tidak pernah ada percekcokan yang berarti bahkan tidak ada sama sekali. Masih teringat betul bagi saya terakhir kali kami bertengkar hanya karena komunikasi yang mulai berjarak karena dia telah menemukan kesibukan baru dan juga lingkungan baru dalam agenda mengikuti kursus Bahasa Inggris di Pare Kediri sekitar 1 tahun yang lalu.

Rekan hati yang begitu dekat kala itu, tiba-tiba menghilang dengan alasan kesibukan dan alasan lingkungan teman yang baru membuatnya harus mengucapkan kata-kata yang tak harap pernah ku dengar dari wanita yang selalu saya support dalam keadaan apapun.

Tapi ya, ketika itu saya hanya mengkonversikan itu adalah luapan kegembiraan ketika seekor burung yang berhasil terbang meninggalkan sarangnya, dan saya hanya seorang penjaga sarang yang begitu sayang namun tetaplah saya akan tersenyum melihat kebebasan itu dimiliki.

***

Masih teringat betul bahwa diantara kami memiliki kecocokan psikologi, bukan berarti sama tapi saling melengkapi satu sama lain. Usia yang terpaut 2 tahun, rasanya cukup menjadikan saya sebagai pengendali terhadap hubungan namun tidak mengabaikan dia sebagai bagian dari komitmen ini.

Hingga detik ini pun saya masih merasakan bahwa tidak ada sedikitpun masalah diantara kita. Jika boleh dibilang soal mimpi, masing-masing dari kami memilik tujuan yang sangat tinggi dan bernilai.

Dia, seorang anak dari keluarga santri memiliki visi yang berbeda dengan saudaranya yang lain. Dan itu satu hal yang membuat saya tertarik dengan dirinya. Ingin memiliki pendidikan tinggi dan juga berprofesi sebagai seorang perawat untuk meneruskan mimpi almarhumah ibundanya, merupakan hal yang membuat saya senang ketika dia mulai membicarakannya.

Tak berbeda dengan dirinya, saya pun memiliki hal yang sama. Kisah perantauan saya ke Jakarta, berkuliah dan aktif di organisasi mahasiswa yang disebut Menwa dan berkenalan dengan beberapa senior yang sudah saya anggap menjadi kakak kandung sendiri semakin menegaskan mimpi saya untuk berkarir dibidang militer.

Hinga pada tahun 2015 lalu saya pun berkesempatan untuk mengikuti seleksi hingga tahap pusat, namun apa boleh dikata, Allah SWT ternyata belum mengijinkan saya untuk menjadi seorang perwira.

Meski pada saat itu saya pun mulai banyak bermimpi bahwa semua hal ini akan mulai jelas dan semakin jelas ketika saya sudah masuk dalam jalur itu, tapi ternyata semua semakin berantakan sekarang.

Terlalu banyak kenangan selama kurang lebih 3 tahun bersama, banyak tempat-tempat yang telah kita berdua kunjungi dan jelas akan menjadi tempat yang tidak akan saya sentuh lagi nanti.

Dulu saya percaya saya tidak akan menghabis-habiskan tenaga, pikiran, waktu dan uang untuk seseorang yang tidak serius dalam membangun komitmen dengan saya. Dan selama 3 tahun lebih itu saya percaya saya tidak salah pilih orang.

Tapi saya pun teringat, bahwa hal pahit ini dimulai ketika muncul ketidakjujuran antar satu sama lain dan sengaja dalam membuat jarak dalam komunikasi.

Perangai yang berubah dan menyembunyikan sesuatu adalah awal mula dari ini semua. Terima kasih atas kisah indahnya, semoga engkau menemukan imam yang kamu dambakan.


Ichsan Yudha Pratama

Rakyat Biasa Yang Cinta Keragaman Nusantara
Running Enthusist | Web Developer | Blogger | Google Local Guides

Love to code, code to love.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar