Jumat, 09 Desember 2016

Mojokerto Kota Sejuta Rindu

Kota Mojokerto
Kota Mojokerto


Seperti biasa, entah menjadi kelebihan atau kekurangan. Hobiku yang merencanakan sesuatu lalu mengeksekusinya merupakan hal yang sering dan sering terjadi. Dan salah satunya harini. Di tengah pekerjaan shift III sebagai Terminal Operation, saya melihat daftar cuti rekan-rekan yang lain dimana jadwalnya berderet mendekati akhir tahun. Selain karena terdapat hari besar umat kristiani, disana pun terdapat momen yang tidak terlalu penting namun selalu diutamakan yakni momen pergantian tahun. Tiba-tiba saya pun teringat tentang begitu banyaknya jatah cuti yang belum saya ambil.

Desember merupakan bulan yang besar terutama bagi keluarga saya, bagaimana tidak mulai dari tanggal 3 Desember itu adalah hari ulang tahun Bapak, tanggal 27 Desember adalah hari ulang tahun Ibu lalu 28 Desember adalah hari ulang tahun Adikku Abdi. Sedangkan Adik yang paling besar Nur Zein lahir pada tanggal 23 November. Jadi akhir tahun bagiku adalah sakral.

Dalam lamunan pekerjaan di shift III, saya pun 'iseng' untuk browsing ke website tiket online pesawat. Rencana gila pun mulai bermunculan untuk pulang ke rumah. Mengingat agenda begitu padat dalam pekerjaan untuk minggu-minggu terakhir, jadi mau tidak mau saya pun mengambil keputusan singkat untuk pulang ke tanah Jawa hari itu juga, ya 8 Desember 2016.

Melihat tiket-tiket pesawat, harga pun tak terlalu jauh. Menyesuaikan dengan jadwal keberangkatan malam saya akhirnya memtuskan untuk memilih salah satu maskapai dan membuat rencana perjalanan. Seperti biasa, kepulangan saya ke rumah tak pernah saya kabarkan kepada keluarga agar kepulangan saya selalu menjadi kejutan bagi mereka yang selalu menunggu saya meski saya tidak pernah memberikan kepastian kapan saya akan pulang.

Dengan flight QG 817 jadwal keberangkatan 18.10 dari Bandara Soekarno Hatta, penerbangan sedikit tertunda akibat cuaca buruk. Berbekal bismillah, kurang lebih pukul 19.30 pesawat baru lepas landas meninggalkan bandara. Dan berdasarkan informasi awak kabin, perjalanan hanya ditempuh dalam 1 jam 40 menit. Tiba-tiba pikiranku langsung menuju kepada rute perjalanan yang biasa ku tempuh menggunakan motor dari Jakarta ke Bogor.

Setelah mengencangkan sabuk pengaman, saya pun membuat posisi ternyaman saya untuk tidur. Meski dibangku belakang saya tepatnya yaitu seat 7F terdapat seorang artis terkenal Nafa Urbach yang ikut dalam rombongan perjalanan Jakarta - Surabaya, tapi rasa acuhku cukup menegarkanku untuk tidak bersikap berlebihan.

Pukul 21.00 pesawat pun mendarat, setelah saya keluar sampai menuju ke depan bandara, barulah terasa atmosfir kota lama dikarenakan mulai saya mendengar dengungan bahasa jawa kasar khas orang jawa timur dengan nada 'medok' yang membuat saya selalu rindu provinsi ini.

Dari bandara, saya pun lalu melanjutkan perjalanan dengan naik bus damri tujuan terminal purbaya. Dengan tarif Rp 25.000 perjalanan 30 menit pun terasa sangat hangat dikarenakan saya mulai mendengar percakapan khas kejawen semakin kencang terdengar.

Tiba di terminal purbaya, saya mulai ngiler dengan aneka kuliner jawa timuran yang berada banner warung makan di terminal, lekas saja saya mampir dan ingin menghangatkan perut dengan soto rawon.

Setelah makan malam, saya pun bergegas menuju terminal, tempat bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) menaik-turunkan penumpang. Dan rasa jengkel sempat muncul dikarenakan saya sempat di lempar kesana-kemari oleh awak bus, mungkin karena mereka adalah bus jarak jauh dan tujuan saya yaitu Kota Mojokerto terbilang dekat sehingga biaya yang saya keluarkan pastilah sedikit. Dan setelah berputar-putar akhirnya saya menemukan bus yang megarah ke Mojokerto.

***

Rolak Songo Mojokerto


Dalam perjalanan itu, bus melintasi kawasan perumahan dan pabrik yang masih teringat baik oleh ingatan saya, hal ini pun tentu sekilas mengingatkan saya terhadap cerita lama yang selalu tersimpan dalam ingatan saya dengan sangat baik. Kota Mojokerto merupakan awal saya memulai semua cerita hidup. Pengalaman pahit dan buruk, serta cerita mengesankan banyak saya dapatkan di kota ini.

Mulai dari kisah seorang pelajar yang selalu bersekolah dengan sepeda jok tinggi, seorang pelajar dengan hobi jogging melintasi rute kota hingga sampai ke rolak 9, bahkan cerita seorang pelajar yang tengah putus cinta bertekad mengejar mimpi di Kota Metropolitan.

Dalam perjalanan itu pun, seakan memori dengan sengaja memainkan film lama yang saya perankan dulu. Hangat rasanya, dan semakin manis dikenang ditemani perjalanan hujan rintik-rintik yang di tembus oleh bus AKAP itu.

Dan karena tertidur, sialnya saya telah cukup jauh terlewat dari Kota Mojokerto. Dan akhirnya saya pun mengambil jalur sebaliknya dengan naik bus lain. Dan kurang lebih 10 menit saya pun tiba di Kota Mojokerto. Ketika sesampainya di terminal, saya disambut oleh seorang pengemudi becak motor. Dan tanpa berpikir panjang saya pun meng-iyakan ajakan bapak itu untuk menaiki becak motornya.

Sesaat setelah saya naik, mojokerto pun seakan bersendu haru dengan kedatangan saya, gerimis pun turun menemani saya dalam menembus ingatan kala melintasi tempat-tempat yang sangat akrab dengan saya beberapa tahun silam.

Rasanya ingin meledak, rasa rindu terhadap kota Mojokerto ini semakin berkumpul dalam pikiran dan ingin rasanya segera mengekspresikan. Dan mungkin dengan melalui tulisan ini, saya ingin sedikit menggambarkan bagaimana rasa rindunya saya terhadap kota yang telah memberikan saya ingatan manis dalam hidup ini.

Sebagai seorang perantau, mungkin identitas seorang pekerja keras dengan kehidupan metropolitan yang berstatus sosial aktif telah melekat dengan saya, namun tetap saja saya adalah seorang anak lelaki dari keluarga sederhana di Kota Mojokerto. Kakak tertua dari kedua adik lelaki yang masih butuh figur contoh untuk menjadi pria bertanggung jawab.

Jika boleh diungkapkan, saya sejujurnya pernah berpikiran tidak akan menginjakkan kaki lagi di Kota Mojokerto akibat suatu rasa sakit hati, tapi rasa-rasanya itu bukanlah tindakan yang benar dikarenakan hal itu lah yang menjadikan saya menjadi pribadi yang selalu berpikir secara tenang dan memutuskan segalanya berdasarkan proses.

Dan sesaat setelah saya mengupdate status sosial media tentang kunjunganku ke Kota Mojokerto, banyak rekan yang ingin berjumpa, mulai dari lelaki hingga perempuan yang dekat dengan saya, mereka berkata ingin bertemu sekedar ngobrol bercerita. Ini pun yang rasanya saya tunggu karena dari kejauhan saya hanya bisa mendengar cerita mereka yang telah menikah, memiliki anak, atau masih sibuk dengan pekerjaannya.

Jika tubuh bisa tidak beristirahat, rasanya saya tidak ingin tidur malam ini agar bisa menikmati hangatnya rasa rindu terhadap seluruh hal yang ada di Kota ini.

Disamping itu, misi utama saya pun adalah mencicipi berbagai macam kuliner khas jawa timuran yang ada di kota ini, mulai dari lontong balap, tahu tek, rujak cingur, es degan dan lain sebagainya. Saya pun harus segera menentukan siapa yang akan menemani untuk wisata kuliner tersebut.

Tapi tetap saja tujuan utama yakni untuk memberikan kejutan ulang tahun kepada keluarga, meski hal tersebut tidaklah pernah terjadi dalam keluarga ini akibat kekakuan sikap individu didalamnya. Tapi saya yang akan memulainya.

Mojokerto, Kota sejuta Rindu akan kenangan di masa lalu.

Posting Komentar

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search