Minggu, 18 Desember 2016

Long Distance Relation, Bisakah ?

Cinta Jarak Jauh


Mendekati usia 25 tahun, terdapat satu krisis yang mungkin menghantui semua orang. Pada masa ini, beberapa sindiran mulai makin menusuk terdengar. Bagi saya sendiri, angka tersebut barulah  akan saya jumpai sekitar 8 bulan lagi. Namun rasa-rasanya akan semakin menyakitkan hati.

Sebagai seorang anak pertama laki-laki, tanggung jawab yang diemban cukuplah berat. Terlebih lagi sebagai seorang perantauan (baca :petarung) menjalani kehidupan di perantauan jauh dari orang tua tidaklah mudah. Butuh perjuangan ekstra, sekedar untuk tidak celaka.

Dalam kondisi seperti ini, dalam usia yang cukup saya pun telah menjalin sebuah komitmen dengan seseorang, namun tentu perjalanan komitmen yang cukup lama tidak selamanya berjalan lancar. Setelah studi, masalah mulai datang bermunculan bukan dari kami melainkan dari keadaan. Setelah kami berdua mendapat pekerjaan dengan lokasi yang berjauhan , jarak tentu menjadi sebuah masalah sekarang.

Selain jarak, saya mulai perhatikan dari tingkah perilaku komunikasi pun sudah berbeda. Meski berpikir seperti ada yang salah, saya berusaha menganggap semuanya baik-baik saja dan tetap melanjutkan hidup mengerjakan begitu banyak pekerjaan yang tengah menjadi tanggung jawab saya saat ini. 

Selain bekerja, fokus saya pun mulai terbagi untuk mengepalai sebuah Komunitas Blogger Jakarta, dan juga  menjadi pejabat sementara di Menwa Borobudur, tentu ini akan menjadi masalah besar jika pada bulan maret nanti saya akan mulai melanjutkan studi strata-2 untuk mengambil gelar Magister.

Semua bagi saya tidak ada yang terencana, menurut saya sendiri, saya bukanlah tipe perencana yang baik. Tapi  untuk mengeksekusi dengan cepat, tepat dan maksimal adalah kemampuan saya yang semakin hari kian membaik.

Baru masuk bulan ke dua saja, hal aneh tentang komitmen mulai saya rasakan menjadi hambar. Selain karena intensitas pertemuan yang sangat sulit, intensitas komunikasi menggunakan media telepon selular pun sangat jarang dan bahkan hanya saling berketik informasi tentang pertanyaan yang membosankan. "Sudah makan belum, sedang apa, sudah sholat belum, belum tidur".

Itulah komunikasi rutin sekedar untuk memastikan bahwa dia yang disana masih bisa membalas komunikasi tersebut. Ya, kepercayaan satu sama lain menjadi sebuah kunci dalam menjalani semua ini.

Meskipun pada realitanya, saya memperhatikan sendiri banyak orang disekitar saya  yang menjadi korban "Long distance relationship". Jangankan LDR, hubungan yang dibangun dekat dengan pasangan pun masih bisa ditinggal nikah dengan orang lain.

Pahit, kecut, asem dan entah apa itu namanya.

Inilah hidup mungkin, semua tak bisa berjalan sesuai rencana tapi yang kita bisa lakukan adalah terus merencanakan dan mengeksekusinya. Semua akan indah pada waktunya.

Posting Komentar

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search