Kunjungan Pertama ke Kota Kediri Jawa Timur

Semampir Kota Kediri Jawa Timur


Kediri merupakan salah satu Kota di Jawa Timur. Dan kunjunganku ke kediri pada tanggal 10 Desember 2016 merupakan kunjungan saya yang pertama kali ke kota tersebut. Meski dekat dengan kota asal saya yaitu Mojokerto, saya sama sekali tidak punya alasan untuk mengunjungi Kota ini.

Kunjunganku pada beberapa hari yang lalu, disebabkan oleh ajak seorang rekan anggota Blogger Jakarta yaitu Mba Renny, untuk berjumpa. Mba Renny adalah salah satu anggota Komunitas Blogger Jakarta yang sejak beberapa minggu lalu harus berpindah dari Jakarta menuju Kota Blitar dikarenakan alasan pekerjaan.

Pada awalnya pertemuan kami juga tak direncanakan. Setelah kedatangan saya yang mendadak ke Kota Mojokerto pada tanggal 8 Desember 2016 lalu, saya pun memberi tahunya bahwa saya sedang berada di Jawa Timur dan dia mengatakan ingin berjumpa. Dan ketika itu Mba Renny menyarankan 2 pilihan apakah ingin bertemu di Kota Malang atau Kota Kediri, saya pun memilih Kota Malang dikarenakan saya belum pernah ke kota itu dan menurut informasi yang saya dengar Kota Malang lebih mengesankan dari pada Kota Kediri.

Namun, rencana pun berubah. Setelah saya mendapat informasi dari seorang teman bahwa untuk menuju Kota Malang dari Kota Mojokerto harus menggunakan bus menuju Kota Surabaya terlebih dahulu lalu melanjutkan dengan mengganti armada untuk menuju Kota Malang. Seketika pikiran saya pun berubah. Untuk apa saya harus menuju Kota yang berada di selatan Kota Mojokerto namun saya harus melewati Kota yang ada di utara ? Tentu itu sangat membuang waktu saya.

Saya pun memutuskan untuk berjumpa dengan Mba Renny di Kota Kediri. Setelah dia mengiyakan ajakan saya, esok paginya pun saya berangkat ke Kota Kediri menggunakan bus AKAP dengan tarif Rp 35.000 saya tiba di Kota Kediri dengan durasi perjalanan sekitar 2 jam perjalanan.

Tempat yang menjadi pertemuan kami yaitu di Gelora Jayabaya. Pada saat saya tiba pertama kali di Kota Kediri, pikiran saya pun menyamakan Kota ini seperti Kota Mojokerto. Hampir keseluruhan bentuk rumah, penataan jalan, serta bentuk gapura-gapura depan rumah pun tak ada bedanya seperti di Kota Mojokerto.

Pertama kali menginjakkan kaki di Kota Kediri, saya pun di buat pusing dengan bagaimana caranya untuk menuju Gor Jayabaya dari tempat perhentian bus saya ini ? Rasa-rasanya teknologi sangat sukar berfungsi di Kota ini. Belum ada layanan seperti Gojek, Uber, Grab dan lain sebagainya.

Namun mungkin sudah rejeki para ojek tradisional, dengan biaya yang lumayan yaitu sebesar Rp 20.000 untuk rute sejauh 17 Km saya pun diantar sampai ke gerbang Gelora Jayabaya Kediri.

Gelora Jayabaya Kota Kediri Jawa Timur
Gor Jayabaya Kediri

Tepat pukul 10.17 WIB saya tiba di depan Gelora Jayabaya Kediri. Sesaat setelah melaporkan keberadaan saya kepada Mba Renny, saya pun berteduh di salah satu pohon 'keres' yang terdapat di depan gapura Gelora Jayabaya Kediri.

Pandangan saya dibuat haus oleh sebuah gerobak Es Tebu. Dengan mencoba logat kejawen, saya pun memesan satu gelas es tebu. 

Es Tebu Minuman Tradisional Jawa Timur
Es Tebu depan Gor Jayabaya Kota Kediri
Dalam proses membuat es tebu, hal yang muncul dalam pikiran saya adalah 'unik'. Di tengah jaman modern seperti ini, minuman tradisional masih bisa tetap bertahan. Dan masih ada orang-orang yang mencari rejeki dari bisnis turun menurun khas Kota ini. Ya tentu saja, sangat sulit menemukan gerobak Es Tebu di Jakarta.

Tidak hanya segelas, dengan lamanya kedatangan Mba Renny saya pun memesan lebih dan mencoba mengakrabkan diri dengan penjualnya. Sekedar bercerita dan bertanya-tanya tentang proses dan alat yang digunakan serta bagaimana cara menjaga supply dari tebu dan berapa pendapatan dan siapa saja pembelinya. 

Pertanyaanku semua saya sampaikan sekedar mengobati rasa ingin tahu tentang bagaimana sebuah bisnis tradisional dapat tetap eksis di tengah modernisasi jaman. Dan saya hanya bisa menyampaikan rasa salut dan bangga saya kepada beliau atas usahanya dan semangatnya untuk tetap berdagang Es Tebu.

Sampai akhirnya pukul 11.20 WIB Mba Renny tiba dan kita pun memulai obrolan tentang apa saja yang terjadi di Komunitas Blogger Jakarta dan apa yang akan kita lakukan.

Meskipun saat ini Mba Renny tidak lagi berada di Jakarta, kontribusi dan keberadaan Mba Renny dalam keluarga Blogger Jakarta tetaplah diakui sampai kapanpun. Dimanapun seorang keluarga, dia tetaplah keluarga.

Kurang lebih 2 jam lamanya kita mengobrol hingga pada akhirnya saya harus menyampaikan padanya untuk pamit karena saya harus mempersiapkan diri untuk kembali ke Jakarta pada tanggal 11 Desember 2016. 

Dan usai salam perpisahan, saya pun menyusuri jalanan dari dalam gelora jayabaya hingga ke depan gelora yang kira-kira 500 meter. Dari situ, saya lagi-lagi di buat pusing. Tidak ada kendaraan umum melintas atau bahkan tidak ada satupun pangkalan ojek yang tertera dalam pandangan mata saya.

Memang kota di Jawa tidak cukup ramah kepada pendatang baru. Dari depan GOR Jayabaya, saya pun berjalan kaki kurang lebih setengah jam hingga menemukan perempatan. Dari sana saya pun bertanya tentang kendaraan bus menuju Kota Mojokerto.

Untungnya, saya berada di posisi yang tepat, setelah menunggu beberapa lama akhirnya bus AKAP pun datang. 

Kota Kediri, kota yang masih melekat atmosfir tradisional. Pembangunan kota modern kurang begitu melekat dengan kota ini, namun berbicara soal khasanah daerah patutlah di jaga kelestariannya. 

Semoga pada perjumpaan berikutnya, Kota ini semakin berbenah dan semakin baik bahkan menjadi salah satu ikon Provinsi Jawa Timur.



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.