The Rusty Web with Karl Dubost

Sharing Session Th Rusty Web with Karl Dubost at Mozilla Spaces
Semalam, tepatnya pada tanggal 17 November 2016, bertempat di kantor Mozilla atau yang lebih dikenal dengan Mozilla Spaces Jakarta di Jalan Cikini Raya No.9 Cikini Menteng , team dari Mozilla Indonesia menyelenggarakan Sharing Session, dan pada kesempatan kali ini yang menjadi mentor adalah Karl Dubost, seorang Web Compatibility Engineer dari Mozilla Jepang. Keberadaannya di Jakarta juga untuk menjadi pembicara di salah satu event Tech In Asia Jakarta 2016.
Pada kesempatan itu, sedikit Karl Dubost memperkenalkan dirinya, dia adalah seorang warga negara Prancis, bertempat tinggal di negeri sakura, sehingga aksen basahanya adalah prancis dan hal itu sedikit melegakan saya tentunya dikarenakan pada informasi yang diberikan oleh Mas Jarot salah seorang tim leader Blogger Jakarta bahwa event yang di adakan merupakan full english, dan tidak disediakan interpreter. Dengan saya mengetahui dia bukan orang inggris, itu melegakan karena saya punya kesempatan untuk mengerti apa yang dia sampaikan :D.

Karl Dubost Profile
Karl Dubost Profile

Dan dalam tulisan ini, saya akan berusaha menyampaikan apa yang dibagi oleh Karl Dubost semalam, dan mohon agar rekan-rekan tidak berharap banyak, karena ya perlu saya akui bahwa nilai bahasa inggris saya tidak sebagus anak TK dari sana tentunya.


Aesthetics and Practice of Rusting Web

Introduction

Dalam memulai sharing sessionnya, Karl mengeluarkan sebuah struk kasir yang dia dapatkan dari sebuah kafe dari Grand Indonesia. Karl membacakan bahwa di struk kasir tersebut ada nama kafe, alamat, menu yang dia pesan, nama kasir yang melayani, nominal pemesanan, user dan id password wifi, dan juga link form feedback pelanggan.

Semua itu tertera dari sebuah struk kecil yang terkadang kita buang begitu saja. Karl mengatakan bahwa sesungguhnya, struk tersebut bisa menjadi sebuah timeline seseorang contohnya, kapan orang tersebut berkunjung, dimana, apa yang dia pesan dan sebagainya. Layaknya Google Timeline yang bisa kita lihat di salah satu Menu Google Maps, timeline google tersebut menampilkan aktifitas kita dalam satu hari, kemana saja kita bergerak dan pada pukul berapa kita berpindah.

Karl mengatakan, bahwa sebuah informasi yang berada dalam sebuah website, nampaknya sama dengan apa yang ditampilkan oleh struk kasir tersebut, terkadang informasi yang ada sekarang hanya digunakan untuk saat ini, dan ketika sudah lewat atau tidak relevan dengan keadaan yang ada saat ini, seseorang dapat dengan mudah membuangnya atau membiarkannya hilang begitu saja.

Ya saya pribadi setuju dengan analogi yang diberikan oleh Karl, sebuah struk belanja bagi saya tak ada fungsinya, mungkin jika seorang ibu rumah tangga akan menyimpan dan digunakan untuk merinci dan melakukan manajemen keuangan berupa catatan pengeluaran, tapi bagi banyak orang mungkin struk belanda akan dibuang begitu saja. Padahal isi/konten yang ada dalam struk tersebut, mungkin diperlukan oleh orang lain. Dan ketika orang lain mencari struk tersebut, itu sudah tidak ada lagi.

Dan hal ini juga mengingatkan saya bahwa, terkadang ketika kita memiliki sebuah website, dan ketika kita bosan dengan desain web tersebut, maka kita memutuskan untuk redesign website. Hal ini terkadang mengakibatkan konten yang ada di website kita pun menghilang begitu saja karena kita telah menghapusnya. Yang mana mungkin hal ini dibutuhkan oleh orang lain.

No Future

Dalam hal redesign, terkadang kita tiba pada sebuah pilihan apakah akan menghapus sebuah konten atau tidak. Ini seperti ketika di kamar kita, kita memiliki sebuah kamar dengan begitu banyak buku yang menumpuk, untuk menata agar kamar itu terlihat lebih baik maka kita akan berpikir untuk membuang buku-buku lama namun tetap menyimpan beberapa yang mungkin kita senangi atau menurut kita isi dari buku itu cukup berarti dan bermanfaat bagi kita. Dan jika tidak, maka dengan mudah kita akan melemparkan ke tempat sampah.

Untuk sebuah website, informasi yang sudah ter-publish ke Internet, kita tidak mengetahui secara pasti bahwa bisa saja informasi atau konten yang kita miliki bermanfaat untuk orang lain, sehingga orang lain share url dari website kita, dan ketika kita melakukan redesign sebuah website dan memutuskan untuk menghapus konten tersebut, maka konten yang di share tadi di social media seseorang akan menjadi broken link, tentu itu akan dengan mudah menjatuhkan ranking dari website kita, meskipun kita telah mengaktifkan fitur redirect, sekilas saya jelaskan fitur redirect di sebuah website adalah fitur untuk mengarahkan pengunjung pada halaman utama jika url yang dicari tidak ada lagi.

Duplicate and Ownership

Sebagai seseorang yang akrab dengan dunia digital, adalah hal pasti ketika kita menciptakan sebuah karya tentu kita tidak ingin orang lain untuk memilikinya atau menduplikatnya. Hal ini bisa dilihat ketika kita mengunjungi beberapa website dan ketika menurut kita isi dari website itu bagus dan menarik kita ingin menduplikasinya dengan Ctrl+c, namun muncul pesan error karena sang pemilik website menonaktifkan fitur right click. Hal ini dilakukan agar orang tidak mengambil hak cipta dari konten tersebut.

Karl menyampaikan bahwa sesungguhnya bukan sebuah masalah, ketika seseorang menduplikasi karya yang kita miliki, namun yang perlu diperhatikan adalah coba buat sebuah ownership atau kepemilikan. Ini mungkin terlebih kepada etika seseorang ketika menduplikasi untuk mencantumkan siapa pemilik konten tersebut.

Backup More and More

Hal buruk bisa terjadi kapanpun, dan kita tidak akan pernah mengetahui kapan itu terjadi dan bagaimana cara untuk membuatnya tidak terjadi. Yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan bagaimana caranya agar ketika sebuah konten atau data dari sebuah website, bahkan foto, file dari media penyimpanan yang kita miliki terhapus, kita masih memiliki cadangan, sehingga kita tidak akan kehilangan data tersebut.

Contohnya, ketika kita memiliki sebuah website, kita tak akan pernah tahu data dari website kita apakah akan selamanya aman, masalah bisa terjadi pada sisi kita, laptop kita rusak data semua hilang atau bahkan server penyedia hosting bangkrut dan data kita tidak bisa terselamatkan. 

Dengan selalu melakukan backup data secara rutin, hal ini akan selalu menyiapkan kita pada kondisi terburuk.

Toolkit : HTTP, Url


Kembali pada masalah keberadaan konten, yang perlu kita perhatikan sebagai seorang pemilik website adalah bukan hanyalah masalah konten itu tersedia, namun juga apakah konten tersebut berada di url yang sama dalam sebuah website.

HTTP, diibaratkan sebuah perpustakaan dan Url adalah sebuah rak buku. 

a) Ketika Konten Masih Ada
Visitor : Hei http, saya butuh informasi tips aktif ngeblog, apakah kamu punya ?
HTTP : Oke, saya akan memeriksanaya terlebih dahulu apakah itu masih ada di rak bukunnya.

http akan memeriksanya pada lemari sesuati path (direktori) kita menyimpan informasi tersebut.

HTTP : Hei visitor, ini informasi yang kamu minta.
Visitor : Oh oke, thank you.


b) Ketika Konten Hilang
Visitor : Hei http, saya butuh informasi tips ngeblog ibu rumah tangga, apakah kamu punya ?
HTTP : Oke, saya akan memeriksanaya terlebih dahulu apakah itu masih ada di rak bukunnya.

http akan memeriksanya pada lemari sesuati path (direktori) kita menyimpan informasi tersebut.

HTTP : Maaf visitor, saya yakin pernah memilikinya dan masih memilikinya tapi saya cek di lemari itu sudah tidak ada.
Visitor : visitor kecewa dan dia akan mencari perpustakaan lain.

Ketika kita telah mengatur dan mempertahankan sebuah konten/buku, adalah hal yang baik kita kita juga menempatkannya pada lemari yang sama, karena jika suatu saat ada orang yang mencarinya, makan itu akan dengan mudah ditemukan.

Ending

Secara keseluruhan, materi yang disampaikan sangat baik. Hal yang terkadang saya sendiripun mengabaikannya, bagaimana kita sebagai pemilik web tetap menjaga sebuah konten dari website lama tetap ada karena mungkin hal tersebut bermanfaat bagi orang lain, dan tidak kalah pentingnya jika kita juga menempatkan informasi konten tersebut dengan direktori yang sama karena ketika sebuah konten ter-publish di internet, dengan besarnya ketertarikan orang terhhadap konten tersebut maka itu pun akan menaikkan ranking dari website kita, dan ketika tetap memiliki konten informasi tersebut namun mengganti url dari hal itu, maka itu akan merusak reputasi atau ranking kita.

Kegiatan sharing session berjalan sangat baik, hal yang saya perhatikan berbeda adalah Karl Dubost dalam teknik presentasinya menggunakan "Write less, Tell More." Ini yang saya baru temukan, karena pada umumnya ketika dalam acara berbentu seminar atau kuliah, banyak pemateri atau dosen yang pada slide presentasinya menuliskan banyak hal, namun menerangkan hanya seperlunya. Dalam slide presentasinya Karl hanya menulis satu kalimat bahkan satu kata namun dia mampu menjelaskan dengan mudah dimana dia menganalogikan sesuatu yang rumit ke dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kegiatan berakhir pukul 21.30, waktu yang cukup lama karena hampir semua peserta termasuk saya terlibat diskusi panjang dan seru tentang bagaiman sebuah konten di internet patut untuk dipertahankan atau tidak.

Dan berikit ini adalah salah satu note yang saya dapatkan sebagai hadiah karena saya mengajukan pertanyaan, dan benar saja, note tersebut nampaknya sangat berguna bagi seorang web developer khususnya dunia responsive design.

Compatibility Toolkit
Compatibility Toolkit


Compatibility Toolkit



Is a really good event and very nice presentation Karl, you has changes my opinion about how we should redesign a website. We should keep the content, also the url of the content.



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.