Mari Mulai Kembali


Let's start writing (blogging).

Sore ini saya mulai menemukan suatu tanda kesyukuran. Yakni ketika melaksanakan ibadah sholat maghrib di Masjid Muawanah yaitu Masjid yang terdapat di Kompek Dirgantara III Halim Perdana Kusumah tak jauh dari tempat tinggalku. Tanda kesyukuran itu ketika saya baru memasuki area Masjid dan menemukan seorang tuna netra penjual krupuk yang dengan mandiri memasuki ruang wudlu dan mulai penyucian diri untuk menghadap sang Illahi.

Saya dan Bapak itu menyelesaikan wudlu bersama, dalam perjalanan menuju ruang Masjid, saya mencoba untuk menuntun beliau dari tempat wudlu menuju ruang Masjid. Dalam benak muncul pikiran yang tak karuan. Dalam sujud itu saya merasa tidak tau diri selama ini apa yang saya dapatkan tentu lebih dari apa yang dimiliki Bapak itu, tapi saya tidak pernah bersyukur atas hal itu.

Selesai ibadah dan kembali ke hunian, saya memutuskan untuk berkendara sekedar berjalan-jalan ke salah satu Mall dekat kediaman yakni Mall Pondok Gede, tujuan hanya untuk beli perdana, dengan kaos berkerah dan sendal jepit saya memacu kendaraan memasuki area parkiran. Baru masuk ke Mall, saya mulai diperhatikan pengunjung Mall, ya mungkin dengan cara saya masuk Mall dengan sendal jepit, saya pun melangkah tak peduli apa yang orang lain pikirkan. Mungkin itu lah yang terkadang membatasi orang bahkan memacu orang menghalalkan segala cara untuk bisa pantas di pandang oleh orang lain. Dan saya tidak mau menjadi seperti itu.

Seusai membeli perdana Internet yang saya cari, dengan sendal jepit saya bermaksud untuk sekedar gambling dengan kesempatan, saya melangkahkan kaki saya menuju bioskop XXI Pondok Gede, berharap film yang saya kejar yaitu "Snowden" akan tampil tapi saya tidak berharap banyak. Kebetulan saya pun tidak membawa satupun smartphone saya jadi ya saya hanya berkunjung dan sekedar melihat-lihat.

Menyusuri Mall dan tiba di lokasi Bioskop XXI Pondok Gede, ternyata film yang saya inginkan tidak ada. Entah tidak tayang di Bioskop ini atau memang sudah hilang dari peredaran karena sudah terlalu lama, entahlah. Tiba-tiba saya berkeinginan untuk menuju salah satu Bookstore Gramedia, lagi-lagi hanya sekedar iseng.

Sambil melangkahkan kaki bersendal jepit saya menyusuri jalanan Mall, dan ketika tiba di Bookstore tersebut, entah seperti ada magnet yang mengingatkan saya kepada aroma buku-buku itu.

Saya mulai teringat kepada sebuah mini-novel yang pernah saya beli dulu ketika masa SMP di penjual buku bekas di kawasan Jalan Kayawan Kota Mojokerto. Novel seharga Rp 10000 merupakan novel pertama yang menjadi daya tarik saya kepada dunia menulis. Tentunya novel tersebut tentang percintaan, bisa dimaklumi usia sekolah menengah pertama merupakan masa pertama seorang remaja mulai memperhatikan lawan jenis. Tapi pada kondisi saya saat itu, itu hanya keminatan kepada novel bahan bacaan bukan makna sebenarnya karena pada masa sekolah menengah pertama itu, saya belum belajar pencitraan untuk memikat lawan jenis, lawan jenis malah menjadi musuh, teman, rekan yang saya pukuli dan jambak rambutnya dan menjalin keakraban kepada mereka seperti rekan lelaki meskipun mereka memakai rok, berbeda dengan rekan saya yang lain, yang saya ingat namanya Iip atau Miftakhur, Agung Buntu dan banyak lainnya, yang mulai mendekati rekan perempuan untuk dijadikan pacar.

Mini-novel yang saya beli dulu kira-kira hanya terdiri dari 50 halaman, bentuknya kecil seperti buku yasin, judul mini-novel tersebut saya lupa, namun garis besarnya bercerita tentang seorang penulis asal jakarta yang memiliki pengagum seorang wanita dari bogor yang ternyata komunikasi yang dibangun lewat surat membuat sang penulis pun jatuh hati yang entah bagaimana ceritanya mereka tak sengaja bertemu. Gadis dengan jeans dan sepatu kets membuat sang penulis terpesona meskinpun pada akhirnya sang penulis pun kecewa karena sang gadis telah mimiliki orang lain.

Well, ketika berada di Bookstore membuat saya berpikir, sejatinya semua orang memahami bahwa membaca buku adalah suatu hal yang baik. Suatu kegiatan positif yang bisa menambah wawasan dan juga merubah pola pikir menjadi lebih baik. Tapi terkadang orang malas dan membenci hal tersebut. Dan dengan kunjungan saya ke Bookstore tersebut, membuat saya mulai bertanya, "Kenapa kamu berhenti menulis Ichsan?" Saya mulai mengurangi Blogging tepatnya ketika putus cinta dulu.

Tentu, ketika mulai merasa jatuh cinta di usia sekolah menengah kejuruan, isi blog saya hanya tentang syair-syair yang entah bagaimana saya bisa membuatnya. Jika disuruh untuk membuat satu baris saja, itu akan terasa sangat sulit dan tidak akan tampak natural seperti tulisan-tulisan saya ketika dulu. Memang wanita sumber inspirasi tapi juga terkadang menjadi sumber petaka. Mereka adalah pelajaran terbaik.

Mulai malam ini, saya mungkin akan mulai lagi menulis lewat blog ini, meskipun di periode ini aktifitas blogging tampaknya sudah ditinggalkan karena semakin maraknya social media yang menjamur. Dulu memang kegiatan blogging menjadi sarana untuk mengekspresikan diri tapi saat ini, social media-lah tempat terbaik dan termudah untuk eksis dalam suatu pergaulan. Dan bagi para blogger, memiliki blog merupakan hanya sekedar penghias semata.

Namun bagi saya, Blog merupakan semua arsip. Bukan arsip kegiatan semata, namun arsip perjalanan saya. Seluruh pikiran saya tertuang dalam Blog ini. Cerita tentang mantan, orang tua, pacar, kuliah, kegiatan dan apapun saya tuangkan dalam blog ini. Pernah suatu ketika pacar saya meminta saya untuk menghapus semua tulisan tentang mantan saya, tapi saya tidak mengindahkan permintaannya tersebut. Bukan karena saya masih menyimpan hati, namun saya biarkan semua itu tersimpan sebagai bahan pelajaran tentang pelajaran komitmen yang tentu tidak didapatkan di bangku perkuliahan.

Meski pada akhirnya, wanita selalu menang. Tepatnya hampir. Dia masuk ke gallery picasa saya dan menghapus semua foto-foto mantan pacar saya tersebut. Dan habislah sudah. Sekarang artikel di blog saya tentang mantan masuh ada namun fotonya sudah hilang, dan tentu itu semua berkat pacar saya. Terima kasih pacar, kamu sudah membuat arsip saya hampir rusak.

Ya, saya akan kembali menulis. Bukan lagi menulis kegalauan saya atas masa depan yang abu-abu. Saya akan mulai menulis tentang apa yang saya pikirkan tentang apapun.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.