Berharap Yang Terbaik

Hidup jangan melihat ke atas dan ke belakang, lihatlah ke bawah dan ke depan.

Dalam sebuah pencapaian, tentulah sudah sebagai seorang manusia khususnya sebagai seorang anak selalu berusaha untuk yang terbaik dengan tujuan tertentu yang telah direncanakan. Namun memang, hidup selalu membuat manusia berusaha realistis-serealistis mungkin. Dan dalam sebuah pencapaian ternyata tidak semua plan bisa berjalan lancar bak terjun dari sebuah curug.

Lagi, dalam sebuah periode kritis begitu banyak pilihan muncul ke permukaan. Kenyataan pahit yang harus saya telan adalah ketika rencana yang saya susun ternyata tak berbuah manis. Meski harus menguatkan diri dengan rencana lain sebagai alternatif, terkadang hati seakan tak bisa ikhlas dengan keadaan.

Bahkan terkadang menyalahkan keadaan, tapi saya masih mengingat satu hal. Saya hanya perlu berharap yang terbaik. Karena tentu sang maha pencipta lebih mengetahui apa yang lebih baik bagi semua ciptaannya, dari pada ciptaannya itu sendiri.

Jujur dalam periode ini, berbagai macam rencana pun seakan buyar, namun dalam kondisi ini mulai muncul berbagai macam pilihan-pilihan dan langkah hidup. Meski kenyataannya dalam proses ini berbagaimacam konflik pun bermunculan sebagai bagian dari masalah di masa lalu. Tapi okelah, semua ini untuk mencetak pribadi untuk benar-benar tangguh berada di bawah tekanan.

Saya sempat berpikir, apakah mungkin jalannya memang kesana. Dengan berbagai clue yang sudah diberikan hingga titik ini, apa mungkin ini hanya rayuan semata. Kurasa bukan. Allah mungkin telah menunjukkan jalan, tinggal upaya diri untuk berusaha meraih apa yang telah didekatkan meskipun terkadang rencana itu tidak berjalan lurus, harus belok kanan, kiri menghadapi tanjakan serta turunan yang hingga kini tak kunjung berujung.

Sungguh, tak sabar hati menanti akhir pencapaian ini.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.