Pilihanku Berhijrah

Allah selalu punya cerita, akan perjalanan yang tak dimengerti Manusia

Hijrah, mungkin adalah kata yang tepat menggambarkan perjalanku sejauh ini. Jika mengingat ceritaku beberapa tahun silam dari kota kecil bernama Mojokerto, saya hanyalah seorang anak kampung dengan pergaulan terbatas dengan akses terbatas. Pemuda yang memiliki banyak mimpi yang terkadang diremehkan oleh lingkungan maupun keadaan. Sesekali saya sering mencoba mewujudkan keinginan, namun kembali lagi terpatahkan oleh keadaan. Mengapa keadaan ? 


Bisa dibilang dahulu saya berasal dari keluarga sederhana, dengan berbagai macam konflik keluarga yang cukup membatasi ruang gerak. Dalam hal pergaulan mungkin bisa dibilang saya terlalu kampungan, lingkungan terbaik bagi saya ketika itu adalah warnet game online. Untuk bergaul dengan teman sebaya dilingkungan kota itu, tentunya harus berkendaraan, berpenampilan sok keren, suka berkunjung ke tempat-tempat wisata yang ketika itu yang terkenal di wilayah Mojokerto adalah Pacet dan salah satu wisata air di kota Banyuwangi entahlah apa namanya itu. Sebagai pemuda yang tidak memiliki semuanya, ucapkan selamat tinggal pada pergaulan.

Kehidupan dengan golongan pemuda nomor dua cukup menjadi beban, istilahnya ketika masa-masa itu remaja pada umumnya sedang mencari perhatian utamanya mencari jati diri, apalah daya kemampuan tak sampai. Hal-hal seperti itu saya jalani hingga sampailah saya pada titik Sekolah Menengah Kejuruan. Dengan berbagai macam cerita didalamnya, masa SMK memang benar-benar sebagai titik balik dalam pencarian figur, siapa saya ? Namun lagi-lagi, masalah keren, motor, pergaulan, dan jadwal traveling memanglah menjadi penentu seberapa bernilai seseorang itu. Dan pada masa itu, hanya satu yang bisa saya banggakan. Rasa ingin tahu yang besar. Hanya itu.

Memiliki otak yang cerdas, tidak juga bisa dibilang demikian. Karena pelajaran perhitungan merupakan hal yang saya hindari sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama, jika boleh disalahkan ya sudah tentu karena ketika itu saya tengah asik menemukan tempat bergaul yaitu dunia Game Online. Karena asik dengan hal tersebut, saya sudah terlalu lelah untuk mengejar ketertinggalan materi matematika yang mungkin sedang masuk ke pamasangan pondasi pemahaman tentang materi-materi penunjang, alhasil sejak saat itu hingga lulus SMK nilai matematika saya bisa dibilang cukup memprihatinkan.

Merasa lemah dibidang itu, dan terkadang merasa minder dengan rekan lain sekelas yang lebih pandai dalam hal itu, meski beberapa kali sebagai manusia pernah merasa dianggap bodoh bagi saya tak masalah. Karena pikirku masih ada bidang lain yang mereka tidak kuasai yang saya mampu kuasai. Akhirnya satu-satunya hal yang bisa saya andalkan adalah rasa ingin tahu saya yang besar terhadap bidang keilmuan saya itu di Sekolah Menengah Kejuruan.

Disaat rekan yang lain sibuk malam mingguan di Jogging Track, Benpas atau Benteng Pancasila, Keliling ke Puncak dll saya lebih memilih untuk diam di rumah, sekedar baca-baca fotokopi materi tentang Linux dan Jaringan yang entah saya pun tak terlalu mengerti saat itu. Setidaknya saya hanya berpikir, hanya inilah hal yang bisa saya pegang nanti.

Dengan berbekal kekecewaan tidak lolos PTN dan gagal dalam urusan percintaan masa itu, saya pun memutuskan untuk hijrah ke salah satu kota Metropolitan di Jakarta. Tentunya hal itu membawa dampak yang besar dalam hidup saya sebagai laki-laki mandiri yang bertanggung jawab. Saya tak memikirkan bagaimana cara saya hidup, siapa orang yang akan melindungi saya ketika ada masalah dan apakah saya bisa selesai nanti.

Dan kini akhirnya semua terjawab, dengan mengucap syukur Alhamdulillah perantauan saya selama 6 tahun terakhir masih berjalan mulus. Jika saya berjumpa dengan rekan baik via text atau bertatap muka langsung dan ditanya kapan saya kembali ke Kota Mojokerto, saya sangat sulit menjawabnya. Karena saya sendiri meyakini bahwa saya tidak memiliki alasan kembali selain orangtua. Rasa-rasanya kehidupan saya sudah ada di Kota ini.

6 Tahun saya hidup disini, memilih untuk bergabung di organisasi Resimen Mahasiswa benar-benar menjadi pilihan tepat bagi saya ketika itu. Hingga kini, organisasi itu yang memberikan saya tempat untuk berlindung tentunya dari senior-senior yang menjadi panutan saya.

Saya hanya selalu bertanya-tanya, apakah ini adalah jalan yang Allah berikan kepada mimpi-mimpi saya yang kian besarnya. Sejauh ini saya menilai perantauan saya sudah setengah jalan dalam keberhasilan, karena saya belum menemui puncak dari karir yang saya idam-idamkan.

Dan mungkin salah satu jawaban dari kepasrahan saya terhadap tempat berlindung, akhirnya pada bulan lalu akhirnya saya tinggal bersama salah seorang senior yang sudah saya anggap sebagai kakak sendiri, beliau adalah Mayor Sus Gatot Suwasana, ST. Bisa dibilang saya canggung, karena saya rasanya diterima dalam sebuah keluarga yang entah siapa saya. Saya mengenal beliau sejak 6 tahun silam dari organisasi Menwa tentunya, dengan modal loyalitas junior kepada senior yang selalu saya apliaksikan, hubungan saya dengan beberapa Alumni terbilang cukup baik bahkan sangat baik. Saya seperti menemukan keluarga baru disini, Jakarta. Entah bagaimana ceritanya jika saya tak berhijrah dulu. Saya pun tak tahu apa yang saya lakoni saat ini. Bisa baik ataupun lebih buruk.

Dalam tulisan ini saya ingin mengatakan perjalanan saya cukuplah aman sejauh ini, dengan berbagai konflik didalamnya saya rasa Allah masih menjaga dan melindungi saya dimanapun saya berada. Dan tetap saja, seorang anak yang pergi untuk kembali kepelukan orang tuanya. Begitupun saya nanti.

Perjalanan ini belumlah usai, masih banyak kisah, konflik, masalah yang akan saya alami. Jika pernah saya menjauhkan diri dari Allah, rasanya pukulan darinya lewat kegagalan pantukhir tahun lalu adalah yang terberat. Dan yang tersakit yang menjadi cambuk dalam doa, usaha serta ikhtiar yang saya lakoni saat ini.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.