Andai Jujur Itu Manis




Kejujuran merupakan sesuatu yang mahal, bukan diulas dalam nilai metiriil tapi dalam sesuatu yang sulit dan terkadang bertentangan dengan kenyataan yang terjadi. Tulisan ini dibuat sebagai bahan instrospeksi diri terhadap apa yang terjadi di lingkungan, tentang orang-orang terdekat yang mungkin terlalu sulit jujur, utamanya tentang kehidupannya.


Saya teringat tentang salah satu image yang di share di facebook yang menyatakan bahwa sesungguhnya hidup bukanlah suatu perlombaan. Tentu saja benar, karena dalam sebuah perlombaan semua peserta lomba memulainya pada titik yang sama. Dan pada kenyataannya kita semua manusia memulai hidup dari titik start yang berbeda. Ada yang mulai sebagai anak keluarga kaya yang hingga dewasa tetap menjadi kaya, ada anak kaya yang dewasa tiba-tiba menjadi kekurangan, ada anak yang kurang mampu ketika dewasa tetap kurang berkecukupan bahkan ada anak yang berasal dari keluarga yang kekurangan namun mampu berusaha sehingga menjadi pribadi yang sukses. Itu semua adalah pilihan.

Saya teringat salah satu buku biografi Bill Gates, dia berkata "If your born poor its not your mistake, but if you die poor its your mistake" Hal tersebut tentu saja benar. Terkadang saya pribadi selalu merasa kurang cukup, dan berkata andai saya seperti mereka. Tapi saya sadar saya bukanlah satu-satunya orang yang berpikiran demikian. Banyak orang diluar sana yang juga merasa demikian. Tapi kembali lagi saya mengingat salah satu kutipan buku juga saya lupa siapa pengarangnya yang berkata bahwa dalam hidup janganlah selalu menengadahkan kepala, cobalah untuk sesekali menundukkan kepala dan lihatlah sekelilingmu, apakah kamu termasuk orang yang paling tersiksa dan diuji. Tentu saja jawabannya tidak. Saya masih melihat beberapa orang disekeliling saya, terutama anak-anak kecil yang harus menggendong karung, tanpa memakai alas kaki, berpakaian yang sangat lusuh, berkeliling mencari rongsokan. Kurang bersyukurkan saya atas hal tersebut dengan segala yang telah Allah titipkan. Ya, itu semua adalah bahan pengendali diri saya untuk jangan lupa bersyukur, tetap berusaha dan selalu percaya pilihan Allah adalah yang terbaik.

****

Sedikit instrospeksi diatas merupakan bahan pembelajaran pribadi yang selalu saya buat sebagai pengikat leher kala saya terlalu bersemangat dan bernafsu, dan sebagai cambuk agar tidak pernah malas dan memasrahkan semua hanya kepada Allah tanpa berbuat apapun. Tanpa sedikit ingin menyudutkan salah satu individu manapun, terkadang saya merasa kasihan terhadap kehidupan seorang rekan yang terkadang terlalu sulit untuk jujur dengan kehidupannya. Keinginan yang tinggi ternyata membuatnya harus selalu berkata tidak jujur kepada teman-temannya agar terlihat selalu hebat dan nampak baik. Padahal, hal tersebut kurangnya nyamanm tentunya buat dirinya sendiri. Sebagai rekan, saya sudah coba menasehati dan selalu coba mendengar setiap ceritanya yang meskipun saya pahami hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Tindakan dia adalah benar-benar sebagai bahan pelajaran untuk penulis pribadi, lebih baik orang mengetahui saya sebagai orang gagal namun berjuang dari pada orang mengetahui saya orang hebat yang ternyata hanya sebuah khayalan tidur siang.

Refleksi kehidupan untuk jujur dalam sesuatu yang pahit, memang Allah SWT selalu menutup aib hambanya, kurang kah manusia bersyukur akan hal itu ?  

Ichsan Yudha Pratama

Rakyat Biasa Yang Cinta Keragaman Nusantara
Running Enthusist | Web Developer | Blogger | Google Local Guides

Love to code, code to love.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar