Review Film The Fault in Our Stars


Film mungkin menjadi sebuah hiburan tersendiri bagi saya pribadi. Dalam keadaan jenuh oleh pekerjaan dan berbagai masalah, nonton film merupakan kegiatan alternatif saya selain jogging sejauh kaki lelah berlari. Karena, dalam beberapa film terkadang memiliki pesan-pesan moral baik support atau sebuah wawasan baru dalam menjalani hidup. Dan dalam beberapa kesempatan, saya akan coba untuk menceritakan sedikit review saya mengenai semua film yang pernah saya tonton.


Salah satu genre film yang saya sukai adalah Sci-Fi atau dikenal sebagai (Science Fiction), pun juga tentang War. Namun pada kesempatan ini saya akan mereview film The Fault in Our Stars. Dan tidak usah khawatir kalau saya orang yang termasuk hati hello kitty atau penyuka sesama jenis karena film drama romantis tersebut. Karena, alasan saya menonton film tersebut adalah karena salah satu original sound track adalah Ed Sheeran dengan lagunya All of the stars. Akhir-akhir ini entah kenapa saya sangat menikmati musik karyanya, bukan hanya karena easy listening, tapi juga konten lirik yang sangat indah dengan makna yang cukup dalam sangat saya sukai.

Kembali pada film The Fault in Our Stars, sebenarnya itu adalah film yang cukup lama yaitu di tahun 2014. Tapi pada kesempatan saya akan membahas beberapa bagian yang menarik dari film tersebut. Para tokoh utama dalam film tersebut adalah Hazel Grace dan Augustus Waters. Keduanya dipertemukan dalam sebuah komunitas supporting. Itu adalah komunitas yang berisi orang-orang dengan permasalah penyakit yang cukup serius salah satunya kanker.

Hazel Grace memiliki penyakit yang serius pada paru-parunya yang dia miliki sejak usia 13 tahun, sejak saat itu dan sampai dewasa dia membutuhkan bantual sebuah tabung yang dibawa kemanapun dia pergi sebagai bantuan untuk bernafas dan juga sebuah selang kecil yang selalu menempel di hidungnya. Sedangkan Augustus Waters, merupakan pria dengan tubuh tinggi yang identik sebagai pemain basket, namun dibalik itu semua dia hanya memiliki satu kaki. Karena salah satu kakinya harus diamputasi karena penyakit kanker tulang yang dideritanya.




Pertemuan antara Augustus dan Hazel merupakan pertemuan yang tidak disengaja, pertemuan tersebut terjadi ditengah perasaan kesepian yang tengah melanda Hazel ketika mulai sadar dan memperhatikan sekitar bahwa remaja seusianya sudah selayaknya memiliki pacar/kekasih. Dan dengan support kedua orang tuanya, Hazel selalu bersemangat dalam menjalani setiap pengobatan demi pengobatan.

Dalam pertemuan di hari pertama, Hazel Grace dan Augustus mulai akrab, dimana hal tersebut terjalin setelah percakapan singkat selesai kelas kelompok supporting tersebut. Hingga akhirnya, perasaan saling menerima kekurangan membuat mereka saling mengerti dan saling mengasihi satu sama lainnya. Dan yang menjadi kunci pertama dari kedekatan mereka sejatinya adalah ide bertukar novel kesukaan mereka masing-masing.

Hal yang menarik dari film The Fauit in Our Stars adalah Hazel dengan kondisi yang mengerti bahwa dirinya yang tertekan dengan penyakit yang cukup serius, tetap tegar menjaani setiap pengobatan demi kedua orang tuanya, dan kedua orang tuanya pun dengan rasa cinta selalu berusaha memberikan perhatian di setiap saat dan selalu memiliki harapan demi kesembuhan Hazel yang mungkin sulit untuk dijalani. 

Kisah yang terjalin antara Hazel dan August, merupakan sebuah kisah saling mendukung dan saling menyayangi satu sama lainnya meski mengetahui kekurangan masing-masing dan mengerti bahwa kematian merupakan hal terdekat bagi mereka berdua dan mereka tetap menjalani kehidupan dengan penuh semangat dan tetap tegar dengan keadaan yang ada.

Film tersebut benar-benar membuka mata, dimana kita terkadang terlalu sibuk untuk mengutuk kesialan yang menimpa kita, tanpa kita pernah sadar bahwa apa yang kita alami belumlah apa-apa. Masih banyak orang di luar sana yang memiliki masalah jauh lebih sulit dari pada kita dan mereka masih bisa tetap tersenyum dalam menjalani kehidupannya.

Memang manusia sudah pasti menemui ajalnya suatu saat nanti, yang menjadi pilihan adalah bagaimana cara kita mati dan apa yang telah kita lakukan sebelum kita kembali kepada Yang Maha Kuasa.

Boleh berusaha, tapi jangan lupa bersyukur.

Ichsan Yudha Pratama

Rakyat Biasa Yang Cinta Keragaman Nusantara
Running Enthusist | Web Developer | Blogger | Google Local Guides

Love to code, code to love.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar