Periode Perak

Ichsan Yudha Pratama

Telah lama saya terpikir tentang judul artikel ini, mungkin sudah beberapa hari kemarin saya ingin memposting sebuah artikel terkait apa yang saya pikirkan mengenai Periode Perak ini, namun ternyata memang butuh mood dan juga kegiatan yang benar-benar kosong dan pikiran terbuka yang dapat membuat saya dengan mudah menari diatas keyboard tentunya.


Periode Perak, mungkin suatu periode yang bisa dibilang tengah saya capai saat ini. Saya teringat betul ketika masih duduk di Sekolah Dasar saya pernah berkunjung di rumah seorang teman dekat saya ketika itu tentunya adalah laki-laki karena pada jaman saya ketika itu, belum ada sinetron dan gadget canggih yang sengaja mempublikasikan kehidupan orang dewasa ke dalam pengetahuan kami yang ketika itu masih ingusan

Dalam kunjungan saya di rumah rekan saya itu, Satya Widiarso namanya, sebagai seorang yatim perekonomian keluarganya terbilang mampu karena ibunya memiliki usaha pembuatan kue yang sangat laris untuk wilayah Kota Mojokerto, dan ketika berkunjung di rumahnya saya mengenal salah seorang om, ya seperti paman Satya namun dian mengatakan bahwa itu bukan keluarga namun orang lain yang ngekos di rumahnya. Untuk anak usia 11 tahun, semua perkataan yang didengar sengaja dianggukkan saja biar tidak dibilang bodoh meski tidak mengerti.

Semakin sering saya berkunjung ke rumah Satya atau yang akrab saya panggil "ponyok" semakin saya mengamati kehidupan om tersebut, karena dalam beberapa kesempatan dia sering bergabung bermain bersama kami para bocah yang bisa memainkan benda apa saja menjadi mainan kami.

Dengan usia yang terbilang piyik itu saya memperhatikan kehidupan om itu, dia hidup sendiri dan berstatus belum menikah, bekerja di salah satu kantor di wilayah Kota Mojokerto, dan dia pun bisa membeli semua kebutuhan yang diinginkan, pernah ketika itu muncul pertama kali Play Station 2, game konsol yang sangat diinginkan oleh semua bocah laki-laki, dengan mudah dia bisa membeli benda itu, karena ya dia tidak perlu menangis berhari-hari, merengek meminta permainan kepada orang tua, dan ketika itu sempat terpikir oleh saya yang terbilang masih bocah, "Enak ya bisa seperti itu". 
Maksud enak yang saya maksud diatas adalah, ketika bisa memiliki apa yang kita inginkan dengan upaya kita sendiri. Dan well, beberapa hari saya baru tersadar.

Kemarin tepatnya 19 Februari 2016, saya dan rekan saya Ramadan menghadiri meninggalkan salah satu senior kami di Resimen Mahasiswa Universitas Borobudur Ir.Heriyanto mantan Komandan Batalyon 5/GAB Jayakarta. Dalam candaan kami menghilangkan kebosanan saat menunggu rekan-rekan Alumni Menwa yang lain untuk melayat, kami sempat tersadar ternyata kita berdua anak perantauan ini sudah 6 Tahun berada di Jakarta, sejak 2010 kita bertahan hidup di tengah Kota Jakarta seorang diri tanpa keluarga. Yang mungkin rasa-rasanya baru kemarin saya datang ke Jakarta dalam kondisi putus cinta.

 Kehidupan yang terangan ketika saya masih bocah tersebut ternyata telah saya jalani untuk 2 tahun ini, seusai menyelesaikan studi Strata-1 pada September 2014 dan Oktober 2014 saya mulai bekerja, saya mulai memasuki kehidupan Om Satya itu. 

Lajang, pekerja dan hidup mandiri  dan ya mungkin bisa memiliki apa yang diinginkan tanpa perlu meminta persetujuan siapapun. Pada kondisi ini, saya merasa telah memasuki masa periode perak saya. Kenapa saya sebut perak ? Karena tentu saja masih ada impian lain yang ingin saya kejar.

Saya sangat bersyukur dengan kondisi saya sekarang, saya merasa hidup saya saat ini cukup balance dimana saya telah menyelesaikan studi saya, memiliki banyak relasi di Kota Jakarta ini melalui organisasi Menwa yang pernah saya ikuti ketika masih kuliah, saya pun bekerja dengan penghasilan yang sangat cukup untuk saya, memiliki kegiatan yang sehat seperti rutin berolahraga lari, saya tidak merokok atau minum minuman keras untuk menjaga kesehatan dan organ tubuh saya demi masa tua saya, dan saya pun memiliki orang tua yang masih lengkap dengan adik-adik yang butuh bimbingan saya, dan tak lupa juga saya memiliki banyak teman dan seorang pacar yang cantik dan pintar.

Oke, pada posisi ini saya cukup bersyukur dan saya merasa fase ini sudah saya masuki dan well fase selanjutnya sudah siap menanti saya. Berbicara tentang fase, saya rasa bukan hanya saya, banyak orang diluar sana tentunya merasakan fase atau periode serupa namun dengan cerita berbeda dengan pengalaman berbeda, entah lebih seru atau lebih sulit tapi mungkin itu semua hanyalah proses.

Mengapa saya berkata demikian, ketika saya dulu tersibuk dengan game online saya di masa Sekolah Menengah Kejuruan, menghabiskan uang dan waktu hanya untuk kesenangan sesaat, di waktu yang sama rekan saya yang lain tengah belajar dan mempersiapkan diri untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Ketika saya merasakan kesenangan, teman saya yang lain merasakan kesusahan tapi sesungguhnya hasil akhirlah yang menjawab. Ketika saya masuk ke Perguruan Tinggi Swasta, saya hanya bisa berdiri iri melihat teman saya yang lain di terima di Perguruan Tinggi Negeri. Dan saya tersadar akan hal itu sekarang.

Terdiam dan menyesal ? Tentu saja tidak. Saya sadar, apa yang telah terjadi saat ini merupakan takdir, saya sempat mengutuk beberapa kejadian buruk dalam diri saya, namun jika hal ini tidak terjadi belum tentu beberapa kesempatan lain akan saya dapatkan. Sebut saja ketika dulu saya diterima di Perguruan Tinggi Negeri di daerah Jawa Timur, tentu saya tidak akan bertemu dengan para senior Menwa, bertemu dengan mantan pacar saya dan pacar saya sekarang atau bahkan tidak bekerja di Perusahaan saya sekarang, dan mungkin cita-cita saya untuk menjadi Tentara akan hilang begitu saja. Dan saya tidak akan pernah berkunjung dan merasakan rindangnya Akademi Militer Magelang.

Saya percaya semua telah ditakdirkan, kita hanya perlu memutuskan, menjalani dan mensyukuri. Karena sebaik-baiknya rencana manusia, Allah SWT sebagai sang pencipta pasti memiliki rencana yang lebih Indah atau bahkan menghindarkan kita dari masalah lain yang pernah menjadi bagian dari rencana kita.

Satu fase telah saya lalui dan sedang saya jalani fase lainnya, fase berikutnya sebagai seorang suami dan ayah sedang menanti. Sebuah kebanggaan dan keirian melihat rekan yang lain telah melalui fase dan menjalani fase tersebut. Semua ada waktunya, dan semua akan indah pada waktunya.

Ichsan Yudha Pratama

Rakyat Biasa Yang Cinta Keragaman Nusantara
Running Enthusist | Web Developer | Blogger | Google Local Guides

Love to code, code to love.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar