Pengalaman Berkunjung Pantai Tanjung Pakis

Gerbang Pantai Tanjung Pakis

Senin, 8 Februari 2016 - Pada tugas shift 3 tepatnya pukul 03.00 ditengah pekerjaan, saya iseng browsing lokasi wisata daerah bekasi. Dari informasi beberapa website, terdapat beberapa website wisata untuk daerah Bekasi. Antara 8-10 destinasi wisata, namun ada satu tempat yang menjadi perhatian saya, yaitu pantai. Dari keseluruhan rekomendasi yang saya baca, daerah Muara Gembong merupakan salah satu wisata diujung utara Bekasi yang memiliki wisata pantai / rawa. Dalam pikirku, ya cukup menarik, dan tentu saja pada saat itu tidak ada pikiran ataupun rencana untuk kesana karena its only browsing activity bro !

Pemandangan Marunda Jakarta Utara

Tepat pukul 08.00 WIB bel kantor berbunyi tanda akhir jam bekerja "its time for go home actually". Setelah melaksanakan hand over pekerjaan kepada rekan yang bertugas shift 1, segera saya ambil helm dan kendaraan dan bergerak keluar kantor. Namun, dalam 50 meter setelah keluar gerbang kantor, saya ambil smartphone dan membuka google map dan langsung mengkalkulasi jarak menuju destinasi Muara Gembong. Dalam perhitunganku, untuk menuju ke Muara Gembong dari kantor lebih dekat, kantor yang berlokasi di daerah Koja, Jakarta Utara nampaknya lebih dekat dibandingkan jika saya menuju ke Muara Gembong dari hunian saya di daerah Kalimalang, Jakarta Timur. Dan tanpa berpikir panjang, lets do this !



Dengan berbekal bensin dua bar, smartphone, susu beruang jatah dari kantor dan kondisi belum mandi dan berkendara seorang diri, saya memacu kendaraan menyusuri daerah Koja, Cakung, Marunda hingga babelan. Sampailah saya dimana saya sangat buta terhadap lokasi tersebut dan harus terus melihat GPS (Global Positioning System) yang terdapat di smartphone saya, pada kesempatan kali ini saya sangat bersyukur, sejak adanya GPS kita benar-benar dimudahkan, dapat menuju tempat bahkan dipelosok negeri berbekal sebuah smartphone, tentunya dengan modal paket internet dan batrai tentunya.

Beberapa kali saya berbelok di tikungan yang salah, hal ini semakin memperlambat saya untuk tiba di lokasi yang saya tuju, dalam hitungan saya, sebanyak 2 kali saya salah berbelok karena mengabaikan tikungan kecil yang berada di google map, "Hello, gang kecil juga masuk google map? But its really true bro !". Saya masih tidak mengerti bagaimana caranya google men-scanning jalanan yang ada di seluruh dunia, bahkan jalanan di tengah sawah yang baru di beton juga mampu di deteksi oleh google. But its really usefull

Pada kesemaptan ini, saya ingin menyampaikan kepada Anda para pembaca untuk jangan pernah menuju lokasi wisata seorang diri, ada beberapa point penting yang perlu Anda sadari bahwa berwisata sendirian itu mempunyai beberapa dampak yang kurang baik, selain tentang keselamatan Anda di jalan yang bisa saja kendaraan Anda rusak dan lain sebagainya, dan juga jika Anda dicelakai orang namun barrier yang perlu Anda lakukan untuk mencegah itu semua tentunya periksakan kondisi kendaraan Anda sebelum berwisata dan juga berangkatlah sepagi mungkin atau dalam kondisi terang karena belum tentu jika Anda kembali dalam keadaan hampir malam, penerangan jalan akan cukup untuk Anda berkendara. Dampak buruk yang menjadi inti utama dari berwisata sendiri yakni tentu Anda tidak akan dapat foto dengan spot menarik di tempat tersebut karena terbatas oleh panjang tangan dan batas kepedean Anda selfie sendiri :D 

Jalanan Bekasi Rusak
Perjalanan dari Koja menuju Muara Gembong terbilang cukup panjang, ya hal ini di perparah dengan jalanan yang bisa dibilang sangat tidak layak untuk di lalui, kubangan air dan jalanan rusak menjadi rintangan yang harus dilewati oleh setiap orang yang melewati daerah sepanjang kota Bekasi, entahlah meski kota Bekasi masih terbilang daerah pinggiran Ibu Kota namun kondisi jalanannya cukup memprihatinkan. Dan juga, plang pemandu jalan untuk menuju lokasi wisata Muara Gembong cukup sulit terlihat, kebanyakan orang yang saya perhatikan lebih mengandalkan GPS dan juga berhenti untuk bertanya kepada warga sekitar.

Dalam perjalanan dan juga dalam lamunan berkendara sendiri menyusuri jalanan sesuai petunjuk jalan dari GPS, saya mulai merasakan udara yang sejuk dan kehidupan warga yang sangat tradisional. Saya sangat takjub bisa melihat sawah di daerah yang mungkin masih dekat dengan Ibu Kota, dan juga saya terheran-heran melihat warga yang masih menggunakan sungai keci didepan rumah mereka untuk mencuci pakaian, bahkan melihat anak-anak kecil yang berlarian menceburkan diri ke sungai yang dalam pengelihatan saya sungai kecil itu merupakan muara dari selokan-selokan dari dalam rumah, tapi mungkin persetan dengan pikiran sok bersih, itulah kehidupan desa di pinggiran Kota Metropilitan. Dalam perjalanan pun saya melihat banyak sekali banner/spanduk kuliah kerja nyata (KKN) oleh mahasiswa perguruan tinggi dan juga program pemberdayaan masyarakat baik oleh pemerintah ataupun instansi swasta dan saya pun berpikir, "Apakah Bekasi merupakan daerah terpelosok seperti di Papua sana?". Tentu bisa dibilang semua warga disini dapat dengan mudah menuju ke Jakarta dalam beberapa jam perjalanan tidak seperti di Papua yang sangat sulit dalam aksesnya menuju ke Kota yang lebih baik. Jika Anda melihat hal itu, siapa yang salah menurut Anda ? Yes, lets back to the trip !

Yang terpikirkan oleh saya melihat pemandangan sekitar, saya seperti berkunjung ke daerah pelosok di Jawa Timur, but this is Bekasi.  Sejauh mata memandang dalam perjalanan, saya disuguhkan hamparan sawah dan udara yang sangat sejuk meski dalam keadaan siang hari dimana matahari tepat diatas kepala. Ini sungguh pemandangan yang Indah.

Setelah melewati sebuah pertigaan yang hampir dekat dengan lokasi tujuan, saya mulai berpikir "Kenapa saya menuju Muara Gembong yang terdapat hutan bakau/mangrove disana ? Mengapa saya tidak menuju Pantai Pakis Tanjung saja", Setelah menghentikan kendaraan dan memeriksa GPS, oh ampun. Muara Gembong dan Pantai Tanjung Pakis memang berdekatan namun untuk menuju ke Pantai Tanjung Pakis dari lokasi saya yang hampir tiba di Muara Gembong membutuhkan waktu memutar karena hanya terdapat satu jembatan yang terdeteksi oleh Google, ya apa boleh buat saya mulai tancap gas menuju Muara Gembong.


Erekan

Dalam perjalanan yang hampir tiba di Muara Gembong, ada beberapa plang tulisan yang menjadi perhatian saya, yaitu "Erekan". Saya masih tidak mengerti apa maksud dari kata tersebut, karena saya tidak mengerti saya memutuskan untuk terus menyusuri jalanan untuk menuju Muara Gembong. Namun di tengah perjalanan, saya melihat beberapa orang dengan menggunakan motor dengan kondisi berboncengan menaiki sebuah tanjakan yang berada di sebelah kiri jalan yang dimana itu adalah sebuah pembatas antara darat dan sungai besar, dan sepintas terpikir oleh saya untuk memeriksa apa yang terdapat dibalik tanjakan itu, dan saya pun iseng untuk mendakikan kendaraan saya dan akhirnya saya mendapatkan sebuah jawaban, tiba-tiba saya ditunjukkan oleh sebuah kapal kayu yang mengangkut sebuah mobil ! Ya Mobil yang berpenumpang ! Oke, thats my answer !

Kapal Erekan
Erekan, merupakan sebuah kapal kayu kecil yang ditarik oleh seorang pengemudi menggunakan tali baja yang menghubungkan antara dua sisi darat yang melintasi sungai. Dan tanpa berpikir panjang, saya memberhentikan kendaraan saya dan menunggu antrian untuk menaiki Erekan tersebut. Ini adalah pertama kalinya saya menaiki benda tersebut, dahulu di Mojokerto saya pernah melihat hal serupa, namun yang pernah saya lihat kapal kayu hanya mengangkut orang dan tidak motor apalagi mobil. Sebuah pengalaman unik saya dapatkan dari ujung bekasi.


Tentunya setelah dipertemukan dengan Erekan, destinasi saya yang tadinya ke Muara Gembong langsung berbelok ke Pantai Tanjung Pakis. Dari lokasi Erekan, saya masih harus menyusuri jalanan rusak,berbatu dan berlubang dan penuh lumpur. Dan jika nanti Anda berkunjung kesana, jangan pernah heran melihat rumah yang berada di tengah-tengah kolam. Saya heran, apakah memang karena hujan jadi rumahnya banjir, atau dikarenakan memang daerah pesisir pantai sehingga air begitu tinggi.

Sepanjang jalan dari Erekan menuju Pantai Tanjung Pakis, kita tidak bisa memacu kendaraan diatas 17 Km/j, ini dikarenakan banyaknya kubangan air, jalanan berbatu dan juga banyaknya domba milik warga yang berkeliaran di jalanan. Dan sebelum Anda memasuki kawasan Pantai Tanjung Pakis terdapat pos wisata dimana Anda akan dikenai biaua Rp 5000,- perorang dan setelahnya Anda akan melewati tambak-tambak ikan dan well, welcome to the beach !


Pemandangan Pantai Tanjung Pakis

Setibanya saya di lokasi Pantai Tanjung Pakis, hembusan angin sangat memanjakan, dengan suasana yang panas namun sangat terasa sejuk. Di sepanjang pantai terdapat sebuah gubuk-gubuk kayu tempat pengunjung untuk bersinggah dan juga terdapat warung-warung lesehan bakar ikan khas wisata kuliner seafood tentunya.

Setelah menyusuri beberapa gubuk yang paling ujung dan paling sepi, saya pun memarkirkan kendaraan dan langsung jeprat-jepret pemandangan Pantai Tanjung Pakis. Meskipun saya agak aneh, melihat air kecoklakan yang menggulung, but its oke. Bagi orang yang berasal dari timur Indonesia, kami terbiasa melihat pantai dengan pasir putih dan air laut yang berwarna kehijauan hingga bahkan biru dan ketika melihat pantai dengan air kecoklatan tentu saja pikiran kami aneh terutama bagi orang-orang yang mandi di pantai coklat tersebut.

View 360 degree Panjung Pakis Beach
Pemandangan pantai Tanjung Pakis sendiri terbilang cukup memprihatinkan, masih terdapat sampah yang tersebar disepanjang pantai, mungkin ini adalah sampah yang dibuang ke sungai yang bermuara kelaut dan dikembalikan lagi ke darat oleh gulungan-gulungan ombak, untuk pasirnya sendiri cukup lembut meski dengan warna hitam pekat serta pantai yang cukup dangkal sehingga aman bagi anak-anak untuk bermain.

Setelah beristirahat sejenak, saya pun memutuskan untuk sekedar merasakan air asin di pantai tersebut, dengan mengamankan terlebih dahulu seluruh gadget dan dompet dan dengan hanya memakai celana panjang satu-satunya saya pun mermaksud berjalan melawan ombak. Setelah menyusuri ombak yang cukup kuat, hal aneh kembali menghampiri saya. Saya memangkukkan tangan dan mencium air laut yang ternyata tidak seperti air laut di papua dimana aroma asinnya sangat terasa, disini aroma air lautnya seperti air sungai di Kalimalang. Dan saya pun akrhirnya menenggelamkan badan dan berenang melawan ombak, dan okelah, ternyata airnya juga terasa cukup asin, oke mungkin ini air laut. 


Wisata Tanjung Pakis Bekasi

Setelah memuaskan diri dengan hasrat akan kerindungan terhadap air laut, saya memutuskan untuk mengakhiri kunjungan saya karena teringat oleh cuaca bulan Februari yang hujan, saya bersyukur untuk menuju ke lokasi Pantai Tanjung Pakis saya ditemani oleh cuaca cerah, sehingga tidak memperburuk cerita saya ini. Setelah bilas di tempat bilasan umum dengan membayar Rp 3000,- untuk sekedar membersihkan dari air garam, tanpa handuk saya segera mengenakan baju, jaket dan semua perlengkapan saya untuk bergegas meninggalkan pantai tersebut.


Dalam pengamatan saya, lokasi wisata tersebut sangat ramai, meski lokasi tersebu kurang begitu populer karena akses jalan yang sulit dan kurangnya publikasi lokasi wisata tersebut. Mungkin para pemimpin daerah setempat harus segera memanfaatkan potensi wisata di Tanjung pakis tersebut, terlebih lagi akses jalannya. Karena mungkin hal tersebut mampu menjadi sumber mata pencaharian bagi warga sekitar yang dalam pengelihatan saya kurang sejahtera karena kurangnya pembinaan, jika akses dan ujung lokasi dijadikan alasan, Bekasi Utara saja tak bisa disentuh apalagi Papua ?


Penuh Lumpur
Berpacu dengan jam dan terik mentari, saya memacu kendaraan dalam kecepatan aman 60 Km/j. Tentu saja karena bertebarannya domba milik warga juga karena banyaknya jalanan yang rusak dan tentu oleh smartphone yang lowbat, saya pun segera menuju kembali ke Jakarta berbekal ingatan dan sedikit kesasar tapi bersyukurnya saya berhasil tiba di hunian sebelum hujan lebat menyirami Jakarta. Alhamdulillah.






Semoga dalam kesempatan lain bisa mengunjungi daerah wisata lainnya. Karena tentu saja, perjalanan wisata akan lebih terkenang jika tanpa perencanaan dan banyak perhitungan, Just Ride !

#MyRideMyAdventure



Ichsan Yudha Pratama

Rakyat Biasa Yang Cinta Keragaman Nusantara
Running Enthusist | Web Developer | Blogger | Google Local Guides

Love to code, code to love.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar