Kamis, 25 Februari 2016

Menyimpan Api



Merujuk pada definisi sebagai oksidasi, api merupakan sesuatu yang menerangkan namun mempunyai kelebihan dapat merusak, digambarkan sebagai sesuatu yang panas dan membara. Dan, meski memiliki beberapa manfaat. api digambarkan sebagai sesuatu yang buruk. Apalagi jika disimpan dalam raga, terutama pikiran.

Menyimpan api dalam pikiran ternyata sesungguhnya sangat mengganggu. Rasa kesal yang diidentikan sebagai api, mungkin sebenarnya adalah rasa kemarahana atas ketidak-terimaan atas apa yang tengah terjadi. Jika boleh dibilang atau diucapkan dengan penuh rasa sadar, inti dari itu semua adalah perasaan kurang bersyukur atau mungkin kurang ikhlas.

Ikhlas, pernah saya melihat recent update dari profil Blackberry Messenger seniorku Kak Yusmiati, beliau menyampaikan dalam statusnya bahwa ikhlas merupakan pelajaran seumur hidup. Bahkan, materi tentang ikhlas tidak sepenuhnya diajarkan dalam TPQ atau kegiatan akademis di sekolah. Karena ikhlas merupakan tingkat kedewasaan yang sangat tinggi bagi seseorang. Dan kita harus terus dan terus belajar bagaimana untuk bisa merasakan hal tersebut, dan yang tentu kita ketahui itu adalah sulit.

Jujur saja, hal yang sangat kita inginkan namun tidak bisa kita miliki meski kita selalu mendambakannya itu adalah sesuatu yang sangat menyakitkan. Dan secara sadar saya bisa menyebutkan bahwa salah satu obatnya yaitu ikhlas, tapi dengan sadar pula saya dapat menyebutkan itu sangat SULIT.

Seperti semua artikel yang pernah saya buat sebelumnya, apapun yang kita rencanakan belum tentu sebaik rencana sang pencipta. Tak ada sedikitpun maksud untuk berceramah pada konten artikel ini, namun ketahuilah, yang mengetikkan jari menari diatas keyboard untuk kata-kata tersebut bukanlah orang dari pondok pesantren atau anak remaja mesjid. Namun orang yang benar-benar secara sadar mengalami apa itu arti dari rasa bersyukur dan penyesalan secara nyata.

Cukuplah sudah rasa kesal tersimpan, biarkan itu terjadi kepada yang seharusnya terjadi. Alasan kenapa bercita-cita menjadi Tentara adalah yang saya ketahui bahwa kehidupan menjadi Tentara apalagi di Indonesia susah. Dan saya ingin merasakan itu. Kehidupan susah dalam arti untuk menjalaninya penuh perjuangan dan hanya untuk satu alasan. Dan saya inginkan itu.

Seseorang yang hanya mampu bercita-cita dan berangan ini, bukanlah yang terlahir dari keluarga seorang bintang, namun untuk mencapai hal yang terletak dilangit itu, biarkan dimulai dari sebuah angan di langit dan semuga bisa mengantarkan kepada nirwana dan pengharapan bahwa bermimpi itu tidak pernah salah.

Hanya ini yang saya perjuangkan dalam hidup, dan akan tetap diperjuangkan. Apapun keadaannya, apapun resikonya. Selama raga masih sanggup menapaki jalan panjang, selama itu pula tekad akan terus terbakar meski tahu sakit pasti didapat, setidaknya saya sudah pernah merasakan sakit itu sebelum ini, untuk sakit yang lain saya rasa akan terasa hambar.  

Posting Komentar

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search