Selasa, 05 Januari 2016

Welcome Bro Byson Fi

Byson FI dan Bajaj Pulsar XCD 125

Well, setelah kepulangan dari Magelang saya berusaha untuk mencari kegiatan baru. Mulai muncul ide untuk menyibukkan diri dengan pekerjaan programming. Ya, dulu semasa kuliah saya sering menerima job untuk membuat website. Pekerjaan itu saya terima dan lakukan sebatas ketika ada orang membutuhkan dan untuk menambah uang makan demi bertahan hidup di Kota Jakarta. Namun tidak ada sedikitpun pikiran untuk menjadikannya sebuah ladang untuk berwirausaha. Maklum, pada masa perkuliahan, saya menyibukkan diri dengan kegiatan di Resimen Mahasiswa sebagai bahan persiapan saya untuk masuk TNI.

Namun, dalam posisi seperti ini saya tidak ingin seperti rekan-rekanku yang lain. Masih baper dalam kegagalan. Saya ingin mencari kesibukan, benar-benar sibuk. Benar-benar pusing, dan pilihan saya jatuh untuk membuka jasa pembuatan website yang sedang dalam tahap pengerjaan untuk homepagenya. 

Dan ternyata, dari dalam hati ingin sekali mengganti kendaraan. Ya, kendaraan yang saya miliki hasil bekerja sebagai kuli Fiber Optic di daerah Bandung yang saya kerjakan semasa kuliah pun menghasilkan sebuah kendaraan bermotor Bajaj Pulsar XCD 125. Memiliki kendaraan sendiri dari hasil mengapalkan tangan memiliki kebanggaan tersendiri. Bukan soal harga motor tapi perjuangan mendapatkannya. Ya ibarat ketika kita memiliki kekasih, bukan soal seberapa cantik dan pintar, tapi perjuangan mendapatkan hatinya itu yang pasti berkesan. 

Setelah iseng membuka website perniagaan online, saya pun memilih sebuah kendaraan motor. Byson Yamaha-Fi Tahun 2015 pun menjadi pilihan. Dengan nekat menghabiskan seluruh tabungan yang ada, mungkin menjadi jalannya. Saya selalu berpendapat, sesuatu yang tidak dipaksakan tidak akan pernah bisa. Dan kali ini, jika saya tidak memaksakan untuk membeli, maka saya tahu uang gaji akan selalu habis entah kemana. Dan itu sudah saya sadari baru-baru ini. Dulu ketika teman saya Ramadan memaksa kredit motor setelah baru 3 bulan masuk kerja, saya pun berkomentar cukup pedis ketika dia bertanya kepada saya kenapa saya tidak mengganti motor Bajaj itu saya pun berargumen "Cukup jaman kuliah saya susah makan, jangan ketika kerja saya susah makan lagi." 

Saya, Ramadan dan Apan sahabat baik semasa kuliah punya cerita sendiri tentang bertahan hidup di Jakarta, kami pernah suatu ketika benar-benar kehabisan uang kiriman dari orang tua. Akhirnya kami memutuskan patungan untuk membeli sebuah kardus mie rebus yang kami perhitungkan mampu bertahan sampai satu minggu untuk kami bertiga dengan jumlah 2 kali makan sehari untuk satu orang. Dan itu benar-benar kami jalani, mengingat masa itu, benar-benar pahit. Ya tapi sangat manis untuk dikenang.

Teringat umpatan saya kepada Ramadan dengan ide dia memaksakan diri memiliki motor, akhirnya saya pun mengikuti dia. Hari itu juga saya menuju sebuah dealer motor didaerah Cililitan dan langsung membeli sebuah motor dan berteriak dalam hati "Sesuatu yang tidak dipaksakan, tidak akan bisa".

Setelah memilih dan langsung membayar, saya pulang dalam lamunan. "Oke bro, ucapkan selamat tinggal pada tabungan." . Sebuah motor merah Yamaha Byson Fi sekarang menjadi tunggaan. Semoga kendaraan ini menjadi sebuah alat transportasi handal, bukan sebuah alat pembunuh, yang membawa celaka. Dan ya, mari bekerja kembali. Mengumpulkan tabungan lagi. Semangat lemburan dengan mengorbankan kesehatan fisik. Teriakan ibu tak henti-hetinya berdengung untuk jaga kesehatan, jangan terlambat makan, jangan terlalu banyak bekerja. Namun hanya satu jawaban saya "Biarkan saya sibuk ya bu, biar saya tidak memikirkan Magelang".


Posting Komentar

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search