Sepahit Kopi



Pagi datang, pertanda kehidupan baru pun dimulai. Terbangun dengan keadaan segar melepas lelah dari tidur semalam. Saat pagi tiba, kebanyakan orang mulai melakukan apa yang biasanya dilakukan pada hari-hari sebelumnya. Dengan semangat baru, berharap hari tua akan indah dengan kerja kerasnya hari ini.

Kopi, sebuah tegukan yang selalu menjadi alasan untuk tidak sekedar menghapus rasa haus. Minuman ini kerap menjadi alasan atas kebutuhan psikologis tertentu. Dan Kopi sendiri merupakan minuman yang sudah tentu menjadi kegemaran banyak orang. Hal ini dapat dilihat dari perilaku masyarakat yang menjadikan aktifitas "ngopi" sebaga habit dalam kegiatan sehari-hari. Dan bahkan, beberapa orang merasa ada hal yang kurang jika belum ngopi pada pagi, siang, sore dan malam hari.

Melihat dari efek samping kopi sendiri, ulah kafein menyebabkan orang menjadi candu. Ketergantungan dalam mengkonsumsi kopi, membuat orang menjadikan kopi sebuah kebutuhan primer. Jika kita mencari manfaat kopi pasti banyak sekali referensi yang membenarkan habit tersebut, dan bagi yang tidak menyukai kopi alasan tentang keburukan kopi dapat menjadi kambing hitam untuk menghindari habit tersebut. Dan apakah Anda sadar satu hal ? Kopi dapat diibaratkan hidup kita. Sebagai manusia kita selalu membenarkan apa yang menurut kita benar dan menyalahkan apa yang kita anggap itu salah. Kita hanya mampu melihat sesuatu dari satu aspek dan tidak pernah mencoba mengganti pengelihatan kita dari sudut pandang orang lain.

Dalam sebuah seminar Narkotika yang pernah saya ikuti ketika masih menjadi mahasiswa dulu dengan pemateri dr. Aisah Dahlan beliau menyampaikan, "Kita manusia selalu berharap menjadi orang yang mampu, terlahir dari keluarga kaya, punya pekerjaan mapan dan prestasi di banyak bidang, dan kita tidak pernah mau menjadi teman-teman kita yang notabene tertimpa musibah". Dari cerita itu, beliau mengarahkan kami para peserta seminar untuk coba berempati terhadap para korban narkoba dengan mencoba melepas kuku yang ada di jari kami. Untuk membayangkan saja saya tidak mampu apalagi saya merasakan, jangan pernah.

Empati, kata kunci dalam menjalani hidup secara seimbang. Mengerti keadaan orang lain dan berusaha bersyukur dengan apa yang di anugerahkan Allah SWT. Dalam lamunan, mungkin kita sering mengeluh tentang masalah dan masalah yang timbul. Tidak pernah bersyukur dengan apa yang Allah telah titipkan kepada kita, jika Anda pernah berpikir demikian ? Coba siapkan kendaraan Anda pacu dengan pelan keluar rumah perhatikan sekeliling Anda, apakah dalam pengelihatan Anda masih ada anak kecil menggendong karung plastik dengan mata menuju pada setiap botol plastik yang ada disekitarnya dan apakah masih ada ibu-ibu dengan tubuh lemasnya berharap sedikit rejeki dari orang sekitar sekedar untuk makan.

Anda yang mungkin tengah membaca tulisan ini, merupakan orang yang beruntung. Anda adalah orang berpendidikan, mampu merasakan manfaat internet, dan juga kelengkapan indra yang secara lengkap Allah berikan. Mengingat hal itu, apakah Anda yakin semua orang dapat merasakan apa yang Anda miliki ? Tentu tidak.

Keinginan itu ibarat secangkir kopi, dalam setiap teguknya kita berharap rasa manis namun kita tahu apa yang kita teguk merupakan hal yang pahit. Namun apakah Anda tahu, hal yang pahit itu ternyata adalah kegemaran banyak orang. Ini dapat diartikan, bahwa sesuatu yang pahit belum tentu tidak dapat dinikmati. Karena kopi(hidup) itu tidak akan pernah bisa dinikmati, jika tidak dihancurkan ( belajar) menjadi bubuk dan disiram dengan air panas (masalah) serta dijaga dalam cangkir dan mangkuknya (akal dan moral). 

Karena yang pahit, belum tentu tidak bisa dinikmati.

Ichsan Yudha Pratama

Rakyat Biasa Yang Cinta Keragaman Nusantara
Running Enthusist | Web Developer | Blogger | Google Local Guides

Love to code, code to love.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar