Penjual Mawar

Hai penjual mawar, tampak bersemangat engkau mengayunkan langkah berpandangan gelap menyusuri setiap kerumuman. Dengan seorang rekanmu, engkau membuka senyum kepada setiap pasang mata yang sengaja mengacuhkanmu. Satu tangkai bunga, itu yang engkau tawarkan kepada setiap mereka yang berkumpul, berharap dari mereka ada yang berkenan membeli satu tangkai demi sebuah keperluanmu.

Entah sudah berapa lama engkau berjejak, tampak mulai lelah engkau menghitung setiap tangkai yang tersisa dalam keranjang. Melirik ke arah penunjuk waktu, raut wajah kecewa mulai engkau siratkan. Namun sesaat setelahnya, engkau menengadah berbincang dan tersenyum kepada rekanmu untuk berkeliling lagi menipiskan sol sepatumu.

Penjual mawar, sungguh pun tak akan ada orang tahu, apa maksud engkau ingin menyampaikan mawar. Sebuah tangkai bunga yang indah namun berduri. Wahai penjual mawar, jika esok kau menjajakan bungamu, jangan pernah lupa kamu berikan seikat benang dan ikat ke jari manis sang pembeli, agar bungamu tak hilang ditengah jalan atau bahkan jatuh karena sengaja di buang.

Wahai penjual mawar, kiranya malam berakhir lekaslah kembali pulang dan sampaikanlah mawarmu kepada ibumu. Namun hendaklah bersihkan dahulu duri yang berada di pucuk tangkainya, karena tak layak seseorang menerima keindahan namun masih terdapat tajam dalam dekatnya.


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.