Hei Lembah Tidar


Lembah Tidar Akademi Militer Magelang
Lembah tidar, tempat idaman bagi kami yang berkeinginan menjadi seorang serdadu. Sebuah cita-cita yang mungkin hanya diidamkan oleh sebagian kecil pemuda Indonesia ditengah moderenisasi zaman. Menjadi serdadu harus sudah pasti siap untuk menghadapi lapangan, beban latihan, istirahat terbatas dan juga tanggung jawab yang sangat tinggi. Dan itu adalah hal yang pasti menjadi opsi awal ketika menentukan diri sebagai serdadu.


Selama 4 tahun aktif di Resimen Mahasiswa, orientasi saya pada pekerjaan ketika memasuki dunia perkuliahan ya ingin menjadi seorang tentara. Meskipun orangtua berkeinginan lain, tentu semua kembali lagi kepada siapa yang menjalani. Saya tahu menjadi tentara itu berat, kehidupan yang kurang makmur di bandingkan dengan bekerja di perusahaan swasta, tapi semua kembali kepada passion.

Bukan tidak mampu, saya mampu tapi sesuatu yang dikerjakan dengan penuh kebanggaan tentu akan bernilai batin yang tinggi. Selama kurun waktu 1 tahun kebelakang, saya mengabdikan diri di perusahaan migas swasta. Di perusahaan ini saya maksimal mengabdi, menunjukkan potensi diri terbaik meskipun saya adalah anak kemarin sore yang baru lulus dan baru bekerja dibandingkan para senior dan rekan di kantor. Mereka boleh mendahului, tapi urusan kinerja boleh diadu.

Tak bermaksud sombong, namun itulah satu-satunya hal yang bisa saya kerjakan. Berbuat yang terbaik dengan segala keterbatasan. Dengan latar belakang pendidikan yang kurang berprestasi, hanya semangat bekerja dan etika serta loyalitaslah yang bisa saya berikan kepada perusahaan tempat saya mengabdi. Dan saya cukup membuktikan, saya mampu bekerja di perusahaan swasta.

Namun, dalam keseharian, entah mengapa pikiran ini tak mampu lepas dari dinginnya lembah tidar dan aroma khas Akademi Militer Magelang. Seakan tempat itu punya atmosfer sendiri bagi saya. Hari demi hari mencoba menguatkan hati menjalani kehidupan pasca kegagalan. Berbagai macam mimpi tentang magelang selalu bermain dalam bioskop mimpi saya.

Yang selalu menjadi penguat saya adalah, saya baru satu kali mendaftar dan mampu sampai ke Pantukhir di Magelang. Semuanya tinggal usaha dan kerja keras agar tahun ini mampu memiliki kesempatan yang lebih baik, bisa lulus dan lolos. Ya, kata itu yang selalu menguatkan kami. Kami ini lulus namun belum lolos.


Hai Lembah Tidar, biarkan aku menyapamu. Berharap kamu mengijinkanku untuk menapaki tanah suburmu, biarkan keringat dan darahku ini menetes di setiap sudut tempat latihan disana. Jika kemarin kamu enggan memberikanku kesempatan, semoga kita bisa berjumpa tahun ini dalam kesempatan yang lebih baik. Semua hanya soal waktu sampai nanti kamu menjadi background fotoku bersama kedua orangtua serta kedua adik lelakiku.

Sampai jumpa wahai Lembah Tidar. Dalam mimpi, dalam sadar tak ada yang bisa menggantikan cita-citaku terhadapmu. Lembah tidar, tempat pembentuk perwira bangsa.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.