Complicated


Hidup kompleks seperti Rajutan Benang, namun pada akhirnya mampu menjadi sebuah rajutan bermanfaat.

Cerita hidup setiap manusia sangatlah beragam. Setiap orang yang terlahir di dunia ini diberikan hasil akhir yang sama untuk menjadi khalifah di bumi. Entah terlahir dari keluarga mampu atau kurang mampu, keluarga berpendidikan atau tidak, berpengatahuan agama yang baik atau tidak namun semua orang diberikan pilihan-pilihan dalam hidupnya dimana dia harus menemukan momentum yang tepat untuk titik balik dalam memperbaiki diri.

Berkaca terhadap pengalaman yang sudah saya jalani selama 23 tahun kesempatan hidup saya di dunia, saya mereview kembali bahwa terlahir dari kedua orang tua dengan keadaan yang berkecukupan dalam arti tidak berlebih-lebihan, membuat saya menjadi orang yang tidak menggampangkan semua hal hanya dengan uang. Dahulu saya sempat mengutuk pola asuh kedua orang tua saya. Ibu saya dengan kelembutannya dan Bapak saya yang ketika memukul anaknya seperti memukul para anggota separatis, pernah suatu ketika saya berbuat salah dan dipukul hingga sulit bernafas, ya dengan cara itu saya dibesarkan.

Dahulu sempat berpikir sakit hati, mengapa kehidupan saya tidak seperti rekan-rekan saya yang lain, terlebih ketika duduk di bangu sekolah menengah kejuruan dimana saat seorang remaja telah memasuki masa pubernya mengenal lawan jenis dan mulai berusaha menunjukkan power. Dalam kondisi itu, saya tak memiliki power apapun.

Saya melalui masa SMK dengan lancar, artinya tidak ada suatu kelebihan dan kekurangan. Kelebihan yang saya miliki yaitu untuk menutupi kekurangan saya saya anggap itu impas. Pernah dalam suatu masa pada saat itu, seorang Ichsan remaja mulai belajar tentang komitmen, berkaca dari apa yang dia dapat dari orang tuanya, seorang Ichsan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Pribadi yang memegang teguh sebuah komitmen berusaha sebaik mungkin dengan berbagai keterbatasan, namun pada akhirnya hal itu selesai. Dalam titik itu, keputusan meninggalkan orang tua dan juga berbagai kenangan di Kota Mojokerto menjadi titik balik kehidupan saya. Saat ini saya bersyukur dengan jalan yang Allah telah berikan kepada saya. Dan juga kepada orang tua saya tentang didikan mereka yang saya anggap itu salah. Sangat salah. Saya baru menyadari sekarang, kedua orang tua saya telah memberikan pondasi yang sangat hebat tentang apa itu arti sebuah komitmen, apa itu arti sebuah kerja keras dan kemandirian. Dan pelajaran tentang kegagalan yang saya baru dapat baru-baru ini merupakan pelajaran terbaik bagi saya saat ini dimana semua hal itu telah menjadikan saya berpola pikir seperti ini, yang bisa dibilang membuat saya menjadi orang yang pola pikirnya lebih tua dari umur saya sendiri. Bagaimana tidak, sejak duduk di bangku taman kanak-kanak, saya harus sudah mengerti tentang apa itu konflik rumah tangga, dan selama duduk di bangku sekolah saya hampir tidak pernah mendapatkan apapun yang diharapkan dimiliki oleh anak-anak seumuran saya, dan itu semua telah menjadi bahan pelajaran terbaik dalam hidup saya.

Dalam semua hal itu, pola pikir logic sangat melekat kepada saya. Saya selalu berorientasi kepada hasil bukan proses Namun baru-baru ini saya dikejutkan dengan sebuah hal. Hal diluar dugaan, ketika sebuah harapan pernah kabur atau bahkan hilang Allah menunjukkan hal itu kembali kepada saya. Meskipun hal tersebut adalah yang saya inginkan, namun saya tahu ini bukanlah saatnya. Atau mungkin Allah sengaja menguji saya tentang pedoman hidup yang telah saya pegang selama 5 tahun ini.

Complicated, mungkin itu adalah kata yang paling cocok dengan kondisi saya saat ini. Bertanya dan bertanya kepada diri sendiri dan juga maha pencipta tentang maksud dan tujuan semua ini terjadi. Semua seperti mimpi, namun saya hanya bisa memandang hal tersebut menjadi sebuah pelajaran tentang langkah yang harus saya ambil kedepan.

Teringat tentang obrolan saya dengan Mayor Sus Gatot Suwasa,ST kemarin, ya dia merupakan salah satu seniorku di Resimen Mahasiswa. Salah satu orang yang menjadi panutanku di Kota Jakarta ini, orang yang telah saya anggap sebagai kakak sendiri menyampaikan satu hal kepada saya "Kami hanya bisa memberikan semangat, semua kembali lagi kepada kamu. Ibarat sebuah bunga, apalah arti tangkainya masih kokoh tegak berdiri namun bunganya telah layu".

Wahai kenangan, terima kasih atas semua petuahmu. Semua yang telah kamu berikan tak akan pernah menjadi kebencian. Hal yang dulu kusesalkan olehmu sesungguhnya adalah jalan yang telah ditentukan sang Pencipta untuk membentuk pribadi yang lebih baik.

Kegagalan benar adanya adalah keberhasilan yang tertunda. Sebuah pelajaran besar, sebuah pukulan keras. Hingga membekas dalam bunga tidur.


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.