Yang Tak Terencana adalah Takdir

Sudah beberapa hari sejak kegagalanku menjadi bagian dari siswa Dikma Pa PK TNI 2015 dan kembali ke kota asal Jakarta, semua kenangan dan cerita di Lembah Tidar selama 10 hari tersebut tidak juga hilang. Saya sudah mencoba mencari beberapa kegiatan namun ternyata tidak juga hilang. Benar saja kata salah satu Danton kelas C yaitu drg.Norman dikala perjalanan pulang dari Halte Busway Jogja menuju ke Stasiun Tugu Jogja, "Yang berat bukan terima atau tidak tentang kegagalan, tapi move on nya yang susah.", ya mungkin itu yang sedang saya rasakan saat ini.

Nomor Pendaftaran Perwira Karier TNI


Berbicara soal cita-cita setiap orang selalu berharap yang terbaik. Dalam hal ini saya bisa saja mengkambing hitamkan persoalan administrasi yang menjadi penyebab saya gagal dalam hal tersebut dan jika saya tidak berkuliah di Universitas Borobudur dengan jurusan Sistem Informasi mungkin saja saya bisa lolos tapi jika dipikir-pikir lagi jika saya tidak berkuliah di Universitas Borobudur belum tentu saya memiliki mentor atau pelatih yang mengarahkan saya dalam persiapan menghadapi semua tes Pa PK. Ya, kesimpulanku berhenti pada tidak ada yang salah.

Berbicara soal takdir, saya merupakan salah satu orang yang kurang percaya akan hal itu. Yang saya percayai apa yang orang dapatkan adalah apa yang telah ia rencanakan secara sistematis dan di eksekusi masing-masingnya secara aktif. Namun kini saya ternganga dengan semua pikiran saya itu.

Takdir, sesuatu yang selalu diungkapkan orang ketika sesuatu terjadi tanpa ia rencanakan dan terjadi begitu saja dan memiliki dampak yang signifikan. Mungkin kegagalanku pada kesempatan ini merupakan takdir.

Kegagalan kali ini merupakan kegagalanku yang kedua, dimana kegagalan sebelumnya yaitu ketika saya gagal masuk perguruan tinggi negeri di kota Surabaya selepas lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan. Dalam lamunan kegagalan, senior-senior selalu membangkitkan semangat dan mengatakan itu adalah hal biasa. Sampai-sampai, salah satu seniorku Bang Angga pernah bercerita, sebelum dia lolos sebagai Perwira TNI melalui jalur Pa PK 2007 dia telah pernah gagal 4 kali, 1 kali gagal dalam seleksi Taruna Akademi Militer, 2x gagal dalam seleksi Bintara TNI dan yang terakhir gagal di rekrutmen Satpam Bank Indonesia. Dibanding dengan pengalamannya, saya mungkin belum apa-apa. Mungkin ini merupakan jalan yang Allah berikan untuk saya agar saya lebih menyiapkan diri. Belajar dari pengalaman Bang Angga tadi, bisa saja Bang Angga lulus menjadi Taruna dengan mengeluarkan biaya, namun nanti dia akan menjalani pendidikan militer selama 4 tahun, atau bisa saja Bang Angga membayar agar diloloskan menjadi Bintara, namun dia hanya menjadi seorang Sersan TNI dan tidak punya gelar S.Kom. Atau bisa saja Bang Angga membayar untuk menjadi seorang satpam di Bank Indonesia, maka dia tidak akan menjadi seorang Perwira bergelar Sarjana. Dan mungkin ketika dia sudah memiliki gelar Sarjana Komputer barulah Allah memberikan dia kesempatan untuk menjadi Perwira TNI.

Ya, perbandingan itu yang selalu menguatkan saya beberapa hari ini. Saya bukan pecundang, saya mampu memaksimalkan kemampuan diri saya melewati semua tes baik dari tingkat panitia daerah sampai tingkat pusat dengan masing-masing seleksi kesehatan umum, psikologi, mental ideologi, kesehatan jiwa, wawancara psikologi, wawancara mental ideologi dan jas atau kemampuan fisik. Saya mampu melewati semua dengan maksimal dan saya hanya gagal karena administrasi, oke saya rasa Allah menginginkan agar saya lebih mempersiapkan diri agar pantas menjadi seorang Perwira TNI. 


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.