Pengalaman Seleksi Perwira Prajurit Karier TNI

Kelas C Barak 46 Pa PK TNI 2015

Pada 12 Desember 2015 merupakan momen yang telah saya tunggu-tunggu sejak selesainya skripsi saya pada September 2014 lalu, ya pada hari itu saya berangkat ke Kota Magelang untuk menuju Akademi Militer untuk melaksanakan seleksi tingkat pusat setelah berhasil mengikuti seleksi tingkat daerah di Panitia Daerah Kodam Jaya - Jakarta.

Pengumuman Seleksi ke Tingkat Pusat



Pada hari itu sekitar 60 orang terdiri dari putra dan putri yang berhasil lolos seleksi tingkat daerah diberangkatkan mennggunakan 2 bus untuk bertanding di Akademi Militer. Hari tersebut merupakan hari yang kita semua tunggu-tunggu 1 bulan lamanya setelah mengakhiri berbagai tes yang dilaksanakan oleh panitia tingkat daerah Kodam Jaya.

Setelah menerima pengarahan, pada pukul 16:00 WIB kami berangkat menuju Kota Magelang dan tiba di Akademi Militer pukul 04:00. Merupakan perjalanan yang cukup panjang, mendebarkan dan melelahkan. Benar saja, merinding badan ketika menginjakkan kaki di Tanah Tidar. Tanah yang saya impikan sejak lama. Tempat perwira terbaik bangsa dibentuk. 

Setelah menanti panitia pusat cukup lama, kami akhirnya diberikan pengarahan untuk menuju barak tempat kami menginap sementara. Dengan barang bawaan yang cukup berat saya gendong dan tenteng, semua terasa ringan ketika mata memandang keseluruh arah yang bertuliskan "Akademi Militer". Ya, harapan saya semakin besar seiring dengan langkah demi langkah yang saya tapakkan disana.

Barak 46 merupakan barak pertama tujuan kami para delegasi dari Kodam Jaya, ketika memasuki ruangan yang terdiri dari 2 sisi kanan dan kiri dimana masing-masing sisinya terdiri dari 14 kasur dan 14 lemari kayu bertuliskan "Spers TNI". Dalam hati berteriak "Ini adalah tempat yang saya cita-citakan". Dalam barak itu, awalnya dipenuhi oleh para delegasi pria dari Kodam Jaya. Namun beberapa saat kemudian datanglah rekan-rekan dari kota lain seperti bandung dan palembang, dan setelahnya ketika tepat pukul 12.00 kami dikumpulkan semua di Aula Gedung Lily Rochli dan kami delegasi berbagai kota di lebur dalam beberapa kelompok pasukan. Dan dibagilah kami ke beberapa barak. Beruntungnya saya, saya di masukkan kedalam kelompok C dan ditempatkan di Barak 46. Setidaknya saya tidak perlu kemas-kemas barang yang sudah saya bongkar dari pukul 06:00 ketika baru tiba pada pagi harinya. Saya hanya perlu memindahkan barang dari lemari sebelumnya ke lemari tempat tidur saya yang baru.

Kelompok C terdiri dari 25 orang pria dari berbagai kota. Danton pertama kami adalah Raden Mas Norman, seorang dokter gigi asal Jakarta lulusan Universitas Moestopo. Dengan sifat yang mudah bergaul membuat Danton menjadi orang yang mudah diterima semua orang dalam kelompok kami yang heterogen. 

Setelah kelas/peleton terbentuk, barulah kami bekerja sebagai sebuah team. Bagaimana mengatur jadwal kegiatan tes dan siapa yang bertanggung jawab dalam masing-masing tugas dan mulai membiasakan diri dengan aturan-aturan militer salah satu contoh yaitu ketika akan makan pagi/siang atau malam kami harus berjalan dalam bentuk pasukan dengan langkah yang masih acak-acakan karena rata-rata peserta tidak mengerti PBB dan kami dipaksa harus menyanyi lagu-lagu nasional yang harus kami nyanyikan sampai suara kami serak-serak. Ya, lagu Halo-halo Bandung, Indonesia Raya merupakan lagu yang mudah dan bisa dinyanyikan semua peserta. Dalam pergerakan pasukan, kita yang masih calon siswa harus selalu bernyanyi dan bernyanyi, seolah berteriak dihadapan para Taruna Akademi Militer yang telah gosong oleh matahari Lembah Tidar.

Sama seperti bergerak dalam pasukan, ketika masuk ruang makan kita pun harus melakukan penghormatan kepada Pataka Akademi Militer dan berteriak "Casis!" sebagai identitas kami yaitu Calon siswa. Teriakan dan penghormatan itu kami lakukan pada saat masuk dan keluar rukan. Dan juga dalam saat makan kita harus berdoa bersama dipimpin oleh pengasuh dan juga makan makanan yang banyak dalam waktu singkat. Oke hal itu sudah terbiasa bagiku sebagai seorang alumni Resimen Mahasiswa tapi bagi rekan-rekanku yang lain hal tersebut mungkin agak konyol. Itulah Militer.

Setelah drg. Raden Mas Norman, saya pun berkesempatan memimpin Kelompok C sebagai Danton dalam hari berikutnya. Berbekal pengalaman dari Pendidikan Dasar Militer yang saya dapat di Rindam Jaya, saya pun mengajari rekan-rekan beberapa lagu pendidikan militer seperti lagu penyamaran, kapal selam, gadis ayu, tinggalkan ayah tinggalkan ibu, longmarch dan lain sebagainya. Dari situlan muncul persaingan antar kelompok atau kelas untuk bernyanyi dengan keras dan sekompak mungkin dalam pergerakan pasukan baik ketika bergerak ke rukan untuk makan atau ke lokasi tes.

Hari demi hari berlalu, setiap hari kami bangun pukul 03:00 mandi sepagi mungkin untuk memperjuangkan air di kamar mandi yang segera habis jika kita terlambat bangun karena jumlah penampungan air yang kecil. Setiap hari kami dipaksa berlomba untuk mandi dan berjuang mencari air ketika ingin buang air besar karena air yang terbatas. Entah apa tujuan semua itu tapi sebagai orang yang pernah masuk ke Lembaga Pendidikan Rindam Jaya dan berbekal pengalaman semua senior Menwa Borobudur yang pernah menjalani pendidikan di Akademi Militer saya pun memiliki siasat dalam mengatasi permasalahan terbesar kami itu "Air. Saya mengumpulkan botol-botol aqua besar yang dibuang rekan-rekan saya dan mengisinya dengan air lalu menyimpannya dibawah tempat tidur saya, tentu jumlahnya bukan satu. Hal ini sangat berguna ketika saya terlambat mandi dan air habis serta ketika saya ingin buang air besar namun air tak mengalir. Cara tersebut sangat-sangat efektif dan benar-benar membantu.

Hari-demi hari berlalu, tes demi tes kami lewati dan keakraban mulai terjalin erat dalam setiap hinaan dan candaan, curhatan kami satu sama lain. Hingga pada satu hari penentuan Sidang Pantukhir, semuanya mulai berubah. Semua mulai tampak cemas dan menguatkan diri kepada kemungkinan terburuk.

Bagi saya pribadi saya tidak terlalu cemas ketika itu, karena saya telah berbuat maksimal semampu saya dan telah mempersiapkan semuanya sejak lama dan perasaan saya ketika itu adalah saya lolos dan lulus. Dari pukul 09:00 tanggal 22 Desember 2015 sampai 12:00 setelah terlaksananya parade pantukhir, kami berusaha menghibur diri dan saling menguatkan satu sama lainnya. Berbagai rencana terburuk kami persiapkan andai tak lolos menjadi perwira TNI. Hingga sampai waktu yang ditentukan pukul 16:00 kami masuk ke gedung Lily Rochli dan berbaris sesuai matra, dan menunggu satu persatu nama dipanggil sebagai pihak yang lolos seleksi.

Satu persatu nama disebutkan, dalam setiap itu saya berdoa agar nama saya dipanggil namun hingga akhirnya penyebutan nama berakhir nama saya tak juga dipanggil. Seketika itu saya berusaha meyakinkan diri bahwa "Belum Rejeki". Perasaan saya selepas itu tidak sedih dan juga tidak senang. Perasaan mengambang dan mungkin terheran-heran mengingat berbagai kemungkinan dan pesaing di arena lomba. Namun kembali saya meyakinkan diri bahwa inilah keputusan Allah.

Orang-orang yang tidak lolos segera diarahkan untuk memisahkan diri oleh panitia, berbaris dan diberikan pengarahan tentang kegagalan yang tertunda. Setelah kami dipanggil untuk diberikan surat perjalanan dinas dan uang transport untuk kembali ke kota asal kami, saya pun membuat 2 lembar surat berisikan ucapan terima kasih TNI atas berpartisipasinya saya dalam kegiatan seleksi dan alasan kenapa saya tidak lolos. Meski saya tidak lolos karena hal sepele namun fundamental saya berusaha mengikhlaskan dan meyakinkan diri atas apa yang telah ditentukan oleh Allah. Dengan badan yang menguatkan lengan saya mengangkat 2 tas saya dan bergegas menuju bus Akademi Militer yang menunggu kami para orang yang belum beruntung untuk diantar ke terminal terdekat. Dan yang ada dalam pikiranku ketika itu adalah "Segera pulang dan kembali bekerja".

Untuk kembali ke Jakarta kami diantar sampai ke Kota Jogja, tepatnya diantar sampai ke terminal Bus dan karena saya memutuskan untuk menuju Jakarta menggunakan Kereta, saya pun memilih Bus Way Jogja untuk menuju ke Stasiun Tugu Joga. Dengan 3000 Ruliah saya dan rekan-rekan diantar menuju Stasiun dan segera membeli Tiket Kereta Eksekutif dengan yang pemberian Panitia dan memilih keberangkatan yang paling dekat.

Akademi Militer, Lembah penempa perwira TNI. Tempat digantungkannya beribu-ribu harapan dan cita-cita Pemuda Indonesia untuk merubah nasib agar menjadi kebanggaan keluarga. Mungkin tahun ini bukanlah waktu yang tepat bagi saya, saya akan terus berusaha dan mencoba jika masih memiliki kesempatan. 

Untuk rekan-rekanku Kelompok C barak 46 saya ucapkan selamat dan sukses. Teruslah berjuang dan semangat dalam menjalani semua ujian, karena tempat yang kalian miliki sekarang merupakan idaman beribu-ribu pemuda Indonesia kalian harus bangga dan maksimal dalam menjalaninya.

Tak ada kata menyesal bagi saya, meski gagal saya selalu yakin dan percaya tidak ada yang sia-sia. Semua akan indah pada waktunya.

Panda Jaya Noreg Pa PK 080.15.0157/P
Panpus Noreg Pa PK 062 Kelas C Barak 46.

Ichsan Yudha Pratama,S.Kom.




Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.