Menanyakan Takdir



Takdir adalah sesuatu jalan yang telah dibuat oleh Allah SWT kepada masing-masing hambanya. Allah telah menentukan hal yang terbaik bagi hambanya, namun terkadang manusia tidak pernah mensyukuri atas nikmat yang telah diberikan.

Dalam hal ini saya mencoba menganalogikan pada kasus saya sendiri. Jujur, menjelang pengumuman pada sidang pantaukhir calon perwira prajurit karir TNI 2015 kemarin, yang selalu saya panjatkan adalah agar saya diberikan pekerjaan yang terbaik untuk membahagiakan kedua orang tua saya. Dan juga saya berdoa agar jika memang benar-benar saya di luluskan dan di loloskan, saya berharap saya tidak mengambil rejeki orang lain melainkan itu adalah memang benar rejeki yang diberikan oleh Allah. Mengapa demikian, karena saya pernah mendengar bahwa dengan memaksakan kehendak berperilaku tidak jujur dengan mengambil rejeki yang seharusnya dimiliki oleh orang lain merupakan suatu tindakan yang nanti akan menuai akibat dimasa yang akan datang. Hal itu yang selalu menjadi pedoman saya dalam mengejar apapun baik perihal dunia maupun akhirat.

Menjelang pengumuman pun, saya sendiri masih bertanya-tanya apakah saya pantas menjadi seorang perwira terlepas dari begitu banyak pelatihan, pendidikan, jabatan, organisasi yang pernah saya emban guna mempersiapkan diri saya untuk menjadi perwira TNI. Pertanyaan itu yang kini kian menguatkan saya untuk terus memperbaiki diri agar dapat pantas menjadi seorang perwira. Meskipun nanti Allah berkata tidak, setidaknya saya bisa menjadi perwira bagi Istri dan anak-anak saya kelak.

Sesuatu yang belum dapat dimiliki, bukan karena kita tidak mampu. Namun kita harus memantaskan diri dulu untuk memiliki hal tersebut. Bukan soal pekerjaan, mari coba kita ambil contoh dimana seorang pria mengejar wanita idaman hatinya. Ketika sang pria bermimpi memiliki seorang wanita yang cerdas, pandai berprilaku, santun, baik agamanya, mapan kehidupannya sudah tentu akan menjadi suatu jarak yang jauh dan hanya menjadi mimpi ketika sang pria hanya berlatar belakang pendidikan pas-pasan, kemampuan agama sewajarnya, pekerjaan belum mapan. Namun, semua itu akan menjadi mungkin jika sang pria mendekati kriteria sang wanita. 

Dahulu, saya sempat berpikir tentang apa yang disampaikan oleh salah satu guru di TPQ semasa saya SMK dahulu yaitu, carilah jodoh yang sederajat. Dan dahulu, pikiran saya pun berlambung ke hal-hal negatif tentang kenapa harus cari yang sederajat kalau mau memperbaiki keturunan memang tidak bisa ? Istilahnya jika saya berkulit hitam eksotis apakah tidak bisa saya mencari calon dengan kulit putih bening sebening air di Jatinangor :) Namun barulah kini saya mengerti, bahwa sederajat disini dalam hal perilaku, kemampuan berpikir, kedewasaan, kemapanan dan beberapa hal lainnya. Ini semua dimaksudkan agar tidak terjadi kesewenang-wenangan diantara satu dan lainnya dikarenakan perbedaan latar belakang sehingga menjadi penyebab pertengkaran di masa yang akan datang. Tentu Anda sekalian pernah menyaksikan sinetron berdangdut yang dulu sempat populer di salah satu stasiun tv nasional dimana stasiun tv itu identik dengan naik burung garuda atau naik sapu terbang. 

Bisa dibilang cerita dalam sinetron itu adalah karangan manusia tapi tanpa kita ketahui bahwa dibeberapa pelosok Indonesia pasti ada saja keluarga yang bermasalah dikarenakan perbedaan latar belakang yang menyebabkan antara satu dan lainnya menjadi kurang menghargai, terkadang wanita yang berkecukupan menikahi pria yang kekurangan bisa saja wanita menjadi kurang menghormati pria dan masih banyak lagi kisah seperti itu yang tanpa kita ketahui hal itu memang ada.

Kembali lagi perihal memantaskan diri, terkadang sebagai manusia kita selalu menuntut yang terbaik. Apakah itu salah ? Tentu tidak. Manusia ibarat sebuah kapal nelayan pencari paus, dimana dia akan selalu kuat melawan setiap ombak yang menghadang demi sebuah minyak paus, namun dia hanya akan menjadi kapal karam ketika dia tidak memiliki tujuan, tidak memiliki arah kemana harus menemukan paus. Mungkin Anda pernah dengar, Dalam berkehidupan anggaplah Anda akan hidup 1000 tahun lagi namun dalam beribadah anggaplah Anda hanya akan hidup sampai besok. Dari situ kita dapat menyimpulkan bahwa sudah menjadi kodrat manusia untuk mengejar sesuatu yang terbaik namun harus tetap pada koridor tentunya.

Apa yang kita anggap baik untuk diri kita, belum tentu yang terbaik menurut Allah untuk kita. Apa yang kita anggap buruk belum tentu sesuatu yang buruk menurut Allah. Teringat kembali pesan rekan penjaga warnet ketika di Mojokerto semasa sekolah menengah pertama dulu yaitu, manusia berusaha Allah yang menentukan.


Ichsan Yudha Pratama

Rakyat Biasa Yang Cinta Keragaman Nusantara
Running Enthusist | Web Developer | Blogger | Google Local Guides

Love to code, code to love.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar