Minggu, 06 September 2015

Mojokerto Jauh Untuk Dikenang

Tugu Alun-Alun Kota Mojokerto
Tugu Alun-Alun Mojokerto
 
5 Tahun sudah bertahan hidup di Kota Orang, sebuah waktu yang tidak singkat namun sarat dengan berbagai macam pengalaman hidup diajarkan secara paksa oleh kedua orangtuaku disini. Kota Jakarta memang wajah dari situasi modern kehidupan saat ini. Dimana kehidupan disini menjadi cerminan tentang perilaku masyarakat dari seluruh Indonesia.

Benar saja, karena di Kota inilah kita bisa berjumpa dengan semua orang dari seluruh penjuru Indonesia dan dari berbagaimacam profesi pula. Banyak sekali orang pendatang yang saya temui disini, dan dalam beberapa kesempatan saya bertanya kepada mereka "Apa sih alasan Bapak ke Jakarta?" Dan jawaban yang saya dapatpun sangat beragam. Namun, jawaban yang paling banyak saya dapati adalah "Mau kerja apa mas dikampung ? Dikampung itu kalau tidak jadi PNS ya harus jadi pedagang baru bisa hidup". Setelah kupikir, ternyata benar juga.

Bagi saya pribadi, 5 Tahun berada di Kota Jakarta merupakan waktu yang cukup sulit, apalagi bagi seorang anak perantau dari keluarga yang Alhamdulillah masih berkecukupan harus membuat saya memutar otak bagaimana dengan dana yang diberkan oleh orangtua mampu membiayai seluruh tetek-bengek kebutuhan disini. 

Saya mulai hidup di Jakarta sebagai Mahasiswa, dengan pendapatan hanya bersumber dari gaji orangtua tentu harus memaksa saya agar tidak menjadi anak yang konsumtif, menempatkan kebutuhan diatas keinginan. Dan meraih keinginan dengan kerja keras. Ya, kerja keras. Semasa kuliah saya manfaatkan untuk bergabung di Organisasi Resimen Mahasiswa. Sebuah organisasi semi-militer dilingkungan Universitas. Dari situlah alasan saya bisa bertahan hidup.

Di organisasi itu, Resimen Mahasiswa berisi para manusia yang beragam dari seluruh pelosok Negeri. Yang menjadi kekuatan Resimen Mahasiswa bukan berasal dari anggotanya saja, namun para Alumninya. Merekalah yang menjadi akar gantung bagi saya untuk bertahan di pohon beringin bernama Jakarta.

1 Tahun sudah saya menyelesaikan tugas yang saya dapati dari orangtua, yakni menjadi Sarjana. Tugas berikutnya yaitu bagaimana caranya membahagiakan mereka. Meski dalam satu sisi saya merasa hal itu bukanlah perkara mudah dimana persaingan saat ini sangatlah ketat. Baru disinilah saya terbuka mata bahwa KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) masih menjadi nadi dalam tubuh Bangsa Indonesia. Bukan hanya pada Institusi Negeri, disebuah perusahaan pun demikian. Mungkin satu kata bagi seseorang yang bukan siapa-siapa namun ingin menjadi siapa yaitu "Selamat Berjuang!".

Rasa rindu kepada kampung halaman semakin hari semakin dalam, kampung halaman disini yang saya artikan adalah Kota dimana Ibu dan Ayah serta kedua adik saya berada. Karena Kota Mojokerto adalah Kota dimana keluarga saya berada. 

Sama seperti bintang dan bulan, mereka adalah sesosok yang bersinar. Namun dari sisi kita, manakah yang kita sukai untuk dilihat apakah bulan yang besar dan terang bersinar sendiri ataukah bintang yang kecil namun terang bersama-sama ? Seterang apapun karir yang dimiliki, jika dirasakan sendiri ternyata tidak ada artinya. Kosong.

Tapi realitanya, untuk kembali ke Mojokerto. Adalah sebuah ide yang tanpa garis finish. Mungkin nanti.


Picture By : https://instagram.com/muhanesia/

Posting Komentar

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search