Arti Sebuah Komitmen

Communication is Key of Relationship
Komitmen, merupakan sebuah ikatan tanpa wujud. Ya, merupakan sebuah kesepakatan yang terikat dengan kesadaran satu sama lain tanpa paksaan dan tentunya saling mengikat. Dalam tulisan ini komitmen yang akan saya bahas adalah tentang komitmen yang dibuat oleh dua orang muda. 

Ketika penulis membuat konten ini, penulis menyaksikan bagaimana pengalaman rekan semasa sekolah menengah kejuruan, sebut saja namanya hendra. Ya dia adalah seorang laki-laki yang ditinggalkan kekasihnya setelah melewati suatu proses "lamaran". Ada lagi rekannya, yang masih teman sekelas penulis pula, sebut saja namanya Putra. Putra, ditinggalkan kekasih pujaan hatinya tepat beberapa hari ketika telah melewati proses lamaran dan hendak mendaftarkan pernikahan mereka ke Kantor Urusan Agama tempat mereka tinggal, kekasihnya menikah dengan orang lain dengan tidak memberi keterangan dan penjelasan apapun kepadanya.Pahit bukan ?

Ya itu adalah sekelumit pengalaman yang dirasakan oleh banyak orang diluar sana, semua tentang komitmen. Apakah harus komitmen memiliki efek samping sepahit itu ? Jawabannya bisa ya atau bisa tidak. Bagaimana bisa seperti itu ?

Belajar dari pengalaman beberapa rekan tadi, komitmen memang harusnya dibuat dengan sebuah alasan yang sangat mendasar dari adanya kebersamaan. Jika alasan komitmen dibuat dari alasan yang hanya sekedar hal duniawi, tentu ketika salah satu memperoleh seseorang lain dengan perbandingan yang lebih baik maka mengingkari komitmen akan menjadi sebuah jalan. Setujukah Anda ?

Alasan tersebut saya buat dari tipe beberapa orang, terkadang dalam menjalin sebuah hubungan, kebanyakan orang selalu melihat bagaimana tampilan, baik rupa, kekayaan, dan lain sebagainya. Hal tersebut tentunya tidak salah, namun yang perlu kita ketahui bahwa hal tersebut tidaklah kekal. Kekayaan hanya titipan yang sewaktu-waktu bisa diambil kembali, rupa tampan/cantik hanya beberapa tahun,  dan itu adalah awal bagaimana sebuah komitmen diikat dengan penyangga yang salah.

Komitmen yang berujung dengan kekecewaan pada dasarnya dapat dihindari yaitu dengan cara carilah terlebih dahulu sebuah alasan yang sangat fundamental contohnya tentang kesamaan psikologis, kesamaan hobi, kesamaan minat, atau adanya cita-cita yang sama dan lain sebagainya. Contoh dari alasan-asalan tersebut merupakan hal yang tidak dapat pudar begitu saja. Dalam sebuah perputaran waktu kebersamaan dengan adanya konflik-konflik kecil dalam menguji sebuah komitmen, alasan mendasar yang tepat dapat menjadi perekat atau peredam konflik tersebut. Namun, jika alasan sebuah komitmen dari hal-hal duniwi semata, maka solusi dari sebuah konflik pastilah mencari orang lain yang lebih dan lebih.

Komitmen dijalin untuk diakhiri dalam sebuah prosesi sakral yang disebut dengan "Ijab Qobul" dimana pada saat itu yang paling sering mengucapkan rindu akan kalah dengan dia yang pertama mengucapkan "Saya terima nikahnya..." dihadapan orangtuanya dan juga penghulu tentunya.

Menikah layaknya sebuah lari marathon, kita bisa berlari beriringan ketika mulai start namun tidak semua bisa menginjakkan kaki di garis finish bersama-sama pula. Semua tergantung tekad untuk saling support agar keduanya mampu mengakhiri perlombaan dengan hasil maksimal.


Picture by : http://cdn2-b.examiner.com

Ichsan Yudha Pratama

Rakyat Biasa Yang Cinta Keragaman Nusantara
Running Enthusist | Web Developer | Blogger | Google Local Guides

Love to code, code to love.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar