Jumat, 06 Maret 2015

Berkunjung ke Curug Cilember Bogor Jawa Barat




Curug Cilember, bagi orang awam seperti saya ketika mendengar istilah curug, pasti membayangkan sesuatu yang aneh mungkin seperti sebuah tempat makan atau sebagainya, namun Curug adalah sebutan orang sunda untuk sebuah Air Terjun. Ya, Curug Cilember merupakan sebuah kawasan wisata air terjun yang terletak didaerah Cisarua,Puncak Bogor Jawa Barat.


Lihat Peta Lebih Besar


Keunikan wisata air terjun Curug Cilember sendiri yaitu adalah, tempat tersebut terdapat air terjun 7 susun, jadi jangan Anda berpikir bahwa hanya rumah yang bisa bersusun, air terjun pun sama. Jadi kesempatan berkunjung ke tempat wisata tersebut dikarenakan pada hari tersebut saya berkunjung ke Bogor, tepatnya menjemput pacar saya untuk menghadiri acara pernikahan rekan sekolahnya semasa SMK di daerah keluaran Tol Jagorawi. Dengan menggunakan motor perang yang selalu kusayang-sayang, saya melaju dari Jakarta tanpa rem (/bohong). Kurang lebih 2 jam perjalanan dari jakarta saya tiba di Kota Bogor, karena saat ini Dora The Explorer tak lagi beken saya hanya bermodal GPS dari Blackberry yang keakuratannya dipertanyakan. Namun alhasil saya bisa tiba di rumah (read : depan gang) pacar saa. Setelahnya kami pun menuju kediaman acara pernikahan rekan pacar saya tersebut. 

Namun sedikit informasi bagi Anda, ketika berkendara dan menuju daerah yang lumayan terpencil bahkan Google Car tidak pernah menginjakkan bannya kesana, alangkah baiknya catat dulu alamat dengan baik dan selengkap mungkin. Mulai dari alamat jalan kalau ada, RT dan RW, kelurahan atau bahkan kecamatan. Jika perlu siapa nama keluarga yang dituju, kenapa demikian ? Karena ternyata pacar saya hanya mengetahui nama desa rumah rekannya tersebut, tidak mengetahui dengan lengkap rumah dari rekannya tersebut, alhasil kita pun berkendara memutari daerah puncak Bogor dengan perasaan dongkol karena bensin mau habis dan SPBU di daerah Puncak Bogor seperti Seven Eleven di Kota Mojokerto. Susah bro !

Karena mencari alamat yang tidak jelas itu mulai menjengkelkan, saya meminta pacar saya untuk mencoba menghubungi rekannya yang lain perihal alamat yang jelas tersebut, dan saya pun melaksanakan ibadah sholat jumat yang berharap setelahnya alamat yang pasti pun didapat.

Dan selesai sholat jumat pun, alatmnya belum juga didapat. Kami pun mencoba menyusuri jalan yang rabun-rabun diingat oleh pacar saya. Dalam perjalanan kami, yang menjadi patokan kami adalah mencari janur kuning. Pada hari itu memang sepertinya sedang musim nikahan, jadi janur kuning banyak disepanjang perjalanan namun nama yang kami cari tidak ada. Selang beberapa tahun setelahnya akhirnya ketemu juga kediaman rekan pacar saya itu, ternyata didepan gangnya tidak ada jaur kuning. Hanya ada bambu melintan menutupi jalan. Dan mungkin itu adalah tradisi orang sunda, ketika pernikahan bukan memakai janur kuning tapi memakai bambu melintang. Inovatif sekali tradisinya ya.

Setelah tiba di acara pernikahan rekan pacar saya itu, saya langsung menyantap makanan setelah bersalaman dengan kedua mempelai tentunya. Seusai sedikit basa-basi dan mengucapkan selamat atas pernikahannya, ditengah pembicaraan saya dan pacar saya mengenai keinginan rekan saya Merini untuk berkunjung ke Curug, pacar saya pun berkata bahwa didaerah Cisarua terdapat satu curug, yaitu Curug Cilember. Tanpa a i u e o, saya pun mengajaknya kesana untuk refreshing. Ya tentu saja, saat ini saya telah menjadi karyawan dengan beban pekerjaan yang lumayan. Pekerjaan diotak terkadang sampai terbawa mimpi, saya berharap berkunjung kesana bisa sedikit menyegarkan pikiran.
Dengan mengikuti GPS IPS (Global Positioning System Ingatan Pacar Saya) kami menyusuri jalan raya puncak bogor, dan membaca setiap rambu destinasi wisata yang ada disana, dengan keahlian Navigasi Darat yang saya peroleh selama pendidikan Menwa, kami pun tiba di Cirug Cilember.

Suasana di Curug Cilember sangat asri, menyejukkan. Dengan udara yang sangat sejuk, sedikit menyegarkan pikiran. Setelah memarkirkan motor, dan menyeduh kopi yang ditawarkan dengan paksa oleh para pedagang sekitar, kami berdua pun membeli tiket masuk Curug Cilember. Dengan suasana yang gerimis yang semakin menambah identitas wisata tersebut terletak di Kota Bogor, (red: Kota Hujan). 

Kreatifitas Anak Penduduk Sekitar
Meniti satu persatu anak tangga, kami tiba disalah satu Curug, yaitu Curug 7. Kenapa Curug 7 ? Karena itu adalah Curug yang paling bawah. Melihat muka pacar saya yang kian lemas ketika meniti jalan ke curug, saya pun tidak mungkin menantangnya ke Curug yang paling atas. Karena saya tidak mau mengambil resiko untuk menggendongnya sampai ke Curug yang paling atas. Bisa-bisa hanya pulang nama nanti.

Dan taraaaaaaaa, kami tiba di Curug 7. Cukup ramai dan cukup beku. Cuaca saat itu sedang mendung, ditambah ketinggian lokasi yang lumayan dan juga itu air terjun. Hawa dingin mulai menusuk tulang-tulang kerempeng saya. Persetan dengan itu semua, meski menggunakan celana bahan dan kemeja saya memberanikan diri dengan badan kerempeng ini untuk mencoba pijatan air terjun dengan sedikit negosiasi dengan pacar mengenai baju basah dan tidak ada gantinya itu.

Dengan hanya melepas kemeja saya pun menuju ke titik air terjun tersebut, dan Wow ! dinginn ! Ternyata gosip tentang air terjun itu dingin ternyata adalah fakta. Dan berdiri dibawah air terjun itu sangat sakit. Kalian bayangkan air dari ketinggian jatuh mengenai badan kalian, seperti dipukul-pukul oleh sapu lidi. 

Dilokasi tersebut, banyak sekali orang yang mandi, merasakan pijatan air terjun dan juga ada yang sedang foto prawed :D. Ya, mengingat lokasi yang cukup indah sudah pasti orang akan tertarik mengabadikan momen mesranya dilokasi tersebut.

Sensai Terapi Ikan
Setelah badan basah kuyup oleh air dan badan mulai membiru, pelototan pacar saya membuat saya harus selesai pijatan air terjun. Kami pun memutuskan pulang sebelum hari mulai gelap, dan dalam perjalanan menuju gate keluar, kami menemukan terapi ikan. Ini terapi dimana kalian mencelupkan kaki kalian dalam kolam, dan ikan-ikan akan menggigit kaki kalian. Tertarik mencoba, dengan ongkos Rp 5000 kami berdua menjajal terapi yang kata spanduknya punya banyak manfaat. Salah satu manfaatnya itu "menceriakan", ya benar saja ketika Anda memasukkan kaki Anda dalam Kolam tersebut maka ikan-ikan akan dengan cepat mendekati Anda dan menggigit-gigit kaki Anda. Sensasi yang dirasakan sangat Ruarr Biasa Geli!. Untuk Rp 5000 kalian diberikan waktu merasakan terapi selama 20 menit. Namun 5 Menit pertama dijamin Anda ingin segera keluar. Ya, setelah dipaksa, untuk bertahan rasanya juga lumayan menyenangkan.

Oke, puas merasaka air terjun untuk pertamakalinya dalam hidup saya di Curug Cilember dan juga merasakan sensasi terapi ikan, kami pun pulang menuju jakarta. Setelah mengambil motor diparkiran ternyata HUJAN. Karena jas hujan hanya satu, tidak mungkin saya yang memakainya, dan okelah kita mulai menuju Jakarta dengan keadaan baju saya yang basah dan kita kehujanan. 

Mungkin sampai disini dulu ceritanya, karena kalau saya cerita tentang bagaimana rasa dinginnya kehujanan di Puncak seusai berendam di air terjun dengan tidak memakai baju ganti itu akan pedih sekali dan akan menguras air bak pembaca sekalian. Sampai bertemu diwisata berikutnya ya :) Semoga destinasi berikutnya adalah Kawah Putih. Amin

Posting Komentar

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search