Ketika Menjadi Orangtua


Menjadi orangtua, merupakan jalan kedua setelah Anda memilih untuk membangun Rumah Tangga setelah Anda menikah tentunya, namun banyak orang hanya menyiapkan diri untuk menjadi sepasang suami istri, dan belum menyiapkan diri untuk menjadi orangtua. Mengapa demikian ? Hal ini ditunjukkan dengan perilaku egois masing-masing pasangan, dimana ketika terlalu lelah dengan aktifitas dan harus menghadapi persoalan dengan anak di rumah, mereka spontan menjadi sosok yang arogan. Meski mungkin dalam hati kecil mereka tidak berkenan seperti itu, tapi itulah psikologi manusia normal.

Ketika menjadi orangtua, banyak hal harus diperhatikan. Saat menjadi orangtua, selain harus mampu membangun pondasi keuangan, harus pula menjadi master of control dari keseluruhan aktifitas. Karena seringkali orangtua mengabaikan perhatian dan pengendalian kepada Anak karena letih bekerja atau beraktifitas, dengan beranggapan bahwa kebutuhan keuangan anak telah terpenuhi, namun perlu digaris bawahi disini, apakah kebutuhan perhatian anak terhadap orangtua juga terpenuhi ? Jadi tidak perlu lagi di sangkal bahwa banyak anak orang berada yang hidup dengan berkecukupan namun dari segi pergaulan dan pendidikan amburadul. Meski ada juga anak yang dengan aktifitas padat orangtua, anak tersebut berprestasi. Dimana kuncinya ? Psikologi Orangtua.

Semakin tinggi pendidikan orangtua, semakin luas pergaulannya, semakin besar rasa ingin tahunya, maka kemampuan untuk mendidik anak akan semakin baik. Lain dengan orangtua yang sama sekali tidak memiliki poin-poin yang saya sebutkan tadi, mungkin yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana memberikan makan, membelikan mainan, menyekolahkan, memarahi dan memukul untuk memberikan pesan terhadap perilaku yang dilarang. Tentu berbeda cara mendidik orangtua, dan juga berbeda hasilnya kepada Anak.

Disini diperlukan komunikasi antara suami dan istri atau ibu dan ayah mengenai metode yang pas dalam mengasuh anak, lembek keduanya akan berakibat fatal, keras keduanya pun sama. Mungkin kata balance adalah kata yang sesuai. Dan sebagai orangtua, jangan pernah memerintahkan atau melarang yang sulit dikerjakan oleh seorang anak. Apapun yang kita minta kepada anak, coba bayangkan anak itu adalah Anda, bagaimana ketika Anda berada pada posisi dan umur anak Anda, Anda mendapati cara didik dan perilaku dari orangtua seperti Anda sekarang, ya mungkin perasaan empati ini adalah cara mudah agar Anda memberikan pendidikan dan pengasuhan sesuai dan tepat. Mungkin Anda pernah dengar sedikit ilmu kepemimpinan "Silahkan memerintah, tapi jangan sampai orang yang diperintah merasa diperintah".

Satu poin terakhir yakni, silahkan Anda didik anak Anda untuk bercita-cita. Kenalkan dia pada semua bidang minat dan selama dia masih dalam asuhan Anda, biarkan dia memilih apa yang dia suka dengan satu syarat Anda juga menunjukkan segala dampak positif dan negatifnya. Kembangkan bakat anak sejak masih kecil, karena keseluruhan didikan seorang anak ketika masih kecil, akan tertanam hingga dia dewasa, begitu juga cara asuhan yang penuh kekerasan juga akan dibawa sang anak hingga dewasa.

Anda siap menikah ? Siapkah Anda menjadi orangtua ?


Picture by http://loor101.deviantart.com

Ichsan Yudha Pratama

Rakyat Biasa Yang Cinta Keragaman Nusantara
Running Enthusist | Web Developer | Blogger | Google Local Guides

Love to code, code to love.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar