Jumat, 17 Oktober 2014

Citaku Tergantung




Masih jelas teringat ucap salah satu abang yang kukenal sebagai karyawan rental pengetikan di komplek asrama tempat tinggalku di Mojokerto, tepatnya di Komplek POMAD Denpom Mojokerto. Kucoba mengingat namanya namun sulit sekali, namun ucapnya saat ini masih teringat jelas yaitu 
"Manusia bisa saja berencana namun Tuhan yang menentukan".
Ucapan itu kudengar ketika saya menjawab pertanyaannya tentang apa cita-cita yang ingin saya raih, ketika itu saya masih duduk di bangku kelas 1 sekolah menengah pertama, dengan penuh kepercayaan diri dan keteguhan hati kujawab "Saya ingin menjadi Tentara", dan dia pun berkata seperti yang diatas kupaparkan. Ya, saat ini yang kutahu hanya dapat menghela nafas.

8 Tahun berlalu dan saat ini cita-cita itu kurasa masih tergantung dilangit, masih teringat betul ketika itu awal 2004 terjadi bencana banjir lumpur dibeberapa wilayah di Kota Mojokerto, ketika itu rumah wali kelasku Bu.Ninik tertimpa musibah, kediamannya pun tak luput dari bencana yang muncul pada tengah malam dalam lelap tidurnya, ketika mendapat berita tersebut dari salah satu guru yang menggantikannya dalam proses belajar kamipun bersepakat untuk mengunjungi rumahnya sekedar untuk membantu kerja bakti membersihkan rumah beliau. Singkat cerita ketika kami datang dan selesai membantu membersihkan tumpukan lumur dari rumah dan sekeliling rumah beliau, duduklah kami diteras depan rumah beliau, disitu kami beberapa siswa kelas 6 yang hadir untuk kerja bakti duduk bersama sambil menikmati suguhan minuman dan makanan ringan yang dimiliki bu ninik sekedar melepas lelah kami, disudut pintu duduklah pula suami Bu Ninik. Untuk membuka pembicaraan dengan siswa kelas 6 beliaupun mulai menanyakan nama dan tempat tinggal kami serta cita-cita kami dimasa yang akan datang. Dari beberapa teman yang dilempar pertanyaan, semua proses tanya jawab hanya terjadi satu jalur tanpa ada pertanyaan lanjutan dari suami Bu Ninik, namun ketika kesempatan bertanya itu jatuh pada saya, beliaupun bertanya hal yang sama seperti pertanyaan yang diberikan kepada rekan-rekan saya sebelumnya yaitu nama, tempat tinggal dan cita-cita setelah lulus dari SMA nantinya. Dengan penuh kepercayaan diri, saya siswa kelas 6 pun menjawab "Ingin menjadi Tentara", seketika beliau mengerutkan dahinya dan memberikan pertanyaan lanjutan kepada saya yaitu "Kenapa mau jadi tentara ? Memangnya jadi tentara bisa kaya ?", hal ini pun menjadikan saya pusat perhatian dari rekan-rekan saya yang lain dan dalam sesaat suasana berubah menjadi hening seketika. Perasaan sangat kacau ketika itu, mulut sulit berbicara dan jantung serasa diguncang dengan hebat namun kuberanikan diri untuk menjawab pertanyaan suami Bu Ninik itu "Saya ingin seperti Bapak yang pergi ke Timur Indonesia menjaga Negara, karena saya tidak mau bekerja hanya karena uang", kurang lebih seperti itulah jawaban yang kulontarkan saat itu dan seketika Bu Ninik melontarkan pertanyaan selanjutnya namun tidak kudengarkan akibat terlalu kencang jantung berdebar dan perasaan gugup yang campur aduk ketika itu.

Yah, itulah sedikit cerita tentang impian yang saat ini masih kukejar, impian yang juga diimpikan oleh jutaan pemuda Bangsa ini, ingin mengabdikan diri demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kini, kutegakkan raga ini, menyadarkan diri dengan apa yang ada didepan mata, kukerjakan dengan maksimal apa yang mampu ku kerjakan, jika Allah belum memberikan itu saat ini mungkin karena saat ini saya belum pantas untuk menjadi seperti itu, dan untuk itu saya harus memantaskan diri saya guna menjadi pribadi yang sesuai seperti cita-cita yang telah kutanam sejak duduk dibanku sekolah dasar. 

Untuk saat ini, kugantung dulu citaku dan kuakan ambil dia esok, di 2015.

Dan kuucapkan selamat datang di dunia pekerjaan, esok saya harus menjalani medical check up disalah satu rumah sakit didaerah Kramat Raya Jakarta sebagai persyaratan menjadi salah satu karyawan. Bismillah.

Posting Komentar

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search