Syarat Lolos Tes Kesehatan TNI

Seorang tentara dituntut untuk memiliki kesehatan yang “sempurna”, mengingat beratnya tanggung jawab yang harus diemban terutama yang bertumpu pada kekuatan fisik. Sehingga proses seleksi penerimaan anggota pun dilakukan dengan sangat ketat. Berbagai standar kesehatan harus dipenuhi pendaftar mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sehingga kebugaran dan kondisi fisik seorang calon tentara benar-benar mumpuni.



Setiap tahun, Tentara Nasional Indonesia (TNI) membuka perekrutan yang nantinya akan menjadi garda terdepan untuk membela Tanah Air baik melalui jalur tamtama, bintara, taruna, atau beberapa jalur lainnya. Tahun 2009 jumlah anggota TNI tercatat sekitar 432.129 personel, di mana seluruhnya memiliki standar kesehatan fisik yang sama baik dari jasmani dan kejiwaan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Untuk mencapai hal itu, saat seleksi tes kesehatan selalu diterjunkan tim dari dokter-dokter ahli yang bertugas sebagai penyaring.




Menurut dr Taufiq Urahman SpB, spesialis bedah Rumah Sakit Slamet Riyadi Surakarta yang juga Komandan Detasemen Kesehatan Wilayah Surakarta, tes kesehatan masuk TNI dibagi dalam dua tahap yakni tes kesehatan fisik dan kejiwaan, serta tes laboratorium untuk mengetahui kondisi organ yang ada di dalam tubuh. “Tes kesehatan ini adalah tes pertama ketika syarat administrasi telah terpenuhi. Namun, tes kesehatan merupakan tes yang paling banyak menggugurkan calon tentara karena seleksinya sangat ketat,” ujar Taufiq yang juga penanggung jawab tes tersebut.




Tahap awal, penilaian dilakukan pada bentuk postur tubuh secara keseluruhan seperti kesesuaian antara tinggi dan berat badan. Kemudian ada tidaknya luka bekas operasi, dan sikap tubuh saat berdiri. Berbeda dengan orang-orang Amerika atau Eropa yang memiliki postur tinggi besar, penyeleksian untuk anggota TNI disesuaikan dengan postur orang Asia pada umumnya. Batas minimal bagi laki-laki, yaitu minimal memiliki tinggi 163 sentimeter sedangkan pada perempuan minimal 157 sentimeter, namun hal ini juga tergantung dari jalur masuk yang digunakan.




“Setelah pemeriksaan postur tubuh, pemeriksaan selanjutnya dilakukan per bidang mulai dari kesehatan telinga, hidung, mulut, gigi, hingga mata,” jelas Taufiq, prajurit berpangkat Letnan Kolonel CKM ini. 
Dicontohkannya, seperti pada pemeriksaan bola mata, calon tentara tidak boleh memiliki kelainan buta warna baik parsial maupun total. Buta warna parsial merupakan kelainan mata yang tidak dapat membedakan salah satu warna, sementara buta warna total adalah kelainan mata yang hanya bisa melihat warna hitam dan putih.




Demikian halnya dengan gigi yang merupakan alat untuk mengunyah makanan, kelainan seperti adanya gigi palsu, gigi berlubang, ompong, susunan gigi yang menumpuk, maupun gigi tonggos dianggap tidak bisa memenuhi kriteria untuk menjadi seorang tentara. 




Pemeriksaan Organ Vital
Pada pemeriksaan dada, lanjut Taufiq, penilaian dilakukan pada suara jantung serta bentuk dada. Khususnya pada pria, kelainan seperti adanya kelenjar susu (genekomaski) akan sangat berpengaruh terhadap penilaian. Pasalnya, pria yang memiliki kelenjar susu menurut beberapa penelitian sangat berpotensi untuk terkena kanker payudara pada laki-laki.




“Pada bagian dada hingga perut, calon tentara juga tidak diperbolehkan memiliki luka bekas operasi serta penyakit hernia. Penyakit hernia akan semakin parah jika dipergunakan untuk angkat beban berat, jika seorang tentara memiliki penyakit ini tentunya akan merepotkan,” jelasnya yang mengaku asli Betawi.
Organ vital juga tak luput dari pemeriksaan tes kesehatan, terutama untuk mendeteksi adanya varises pada kantong buah zakar pada pria (varikokel), kelainan lubang kencing (hipospadia), dan untuk mengetahui kelainan bentuk pada kemaluan. 




Dijelaskan Taufiq, penderita varises pada kantong buah zakar kondisinya akan semakin berat jika digunakan untuk melakukan aktivitas seperti lari dan angkat beban yang justru akan banyak dilakukan pada saat pendidikan setelah lolos seleksi. 




Pemeriksaan terakhir bentuk fisik tubuh adalah pada kaki, kaki yang baik sesuai dengan kriteria yakni tidak terdapat kelainan bentuk baik pengkar O maupun pengkar X. Kalaupun terjadi kelainan tersebut, Taufiq menjelaskan, tidak boleh melebihi batas toleransi yang diberikan yakni kurang dari 5 sentimeter. Telapak kaki juga tidak boleh memiliki permukaan yang rata atau banyak orang mengatakan sebagai kaki bebek (flat foot). 




Karena menurut beberapa ahli, orang yang memiliki bentuk kaki bebek cenderung tidak kuat untuk berjalan jarak jauh. “Pada tulang-tulang panjang seperti kaki atau lengan, tidak diperbolehkan pernah mengalami patah tulang. Serangkaian tes kesehatan tersebut adalah cara untuk memilih calon-calon prajurit yang unggul baik fisik dan kejiwaan. Dan perlu diketahui bagi masyarakat bahwa proses penyeleksian sama sekali tidak dipungut biaya,” tandasnya. (Ikrob Didik Irawan)
 
Sumber : http://edisicetak.joglosemar.co/

Ichsan Yudha Pratama

Rakyat Biasa Yang Cinta Keragaman Nusantara
Running Enthusist | Web Developer | Blogger | Google Local Guides

Love to code, code to love.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar