Kilau Laut Utara Jakarta


Kemarin, memang sudah kujadwalkan agar hari ini menyempatkan diri menikmati panorama pantai di kawasan Ancol Jakarta Utara. Jadwal janjian dengan pacar yaitu pukul 13.00 WIB untuk berangkat. Seusai menunaikan ibadah sholat dhuhur dan juga melahap sesendok makanan dari warteg terdekat dari kotrakanku, kami berdua akhirnya bersiap untuk berangkat ke Pantai Ancol Jakarta. Perjalanan yang kami rencanakan tidak berjalan sesuai rencana. 

***


Pada awalnya kami merencanakan berangkat dari kos-kosan yang terletak didekat kampus pada pukul 13.00WIB, dengan perkirakan macet jakarta pada perjalanan kami, maka paling lambat kami akan sampai dijakarta pada pukul 14.30 WIB, namun apa hendak dikata. Karena ketidaktahuanku terhadao rute busway maka perjalanan kamipun berlangsung sangat lama. Pada pukul 13.00 kami berangkat penuju Halte Busway PGC untuk menggunakan Bus Transjakarta menuju Ancol. Dengan menggunakan angkot M19 kami melesat bersama supir angkota dan beberapa penumpang melaju menghempas jalan raya kalimalang untuk menuju PGC a.k.a Pusat Grosir Cililitan. Dengan meliuk-liuk bak sebuah sepeda motor. Supir angkot dengan semangat memacu mobilnya menuju ke PGC dengan tidak memperdulikan penumpang yang DagDigDug melihat cara menyetir mobil bak pembalap F1.

Tiga puluh menitpun berlalu, akhirnya saya dan santy sampai di PGC Cililitan. Berjalan sedikit ke dalam Mall tersebut, masuklah kami ke halte busway PGC, namun segera terusirlah kami oleh tulisan yang berbunyi
Mulai 1 April, Busway menuju Ancol berhenti di Halte Depan
. Dengan sedikit kecewa dan bingung harus berjalan lagi keluar Mall dikarenakan pemberhentian busway menuju Ancol berpindah ke Halte yang berada diluar PGC.

Dengan menyaksikan pacar terseok-seok melangkah menuju halte, saya pun sempat kesal dengan mukanya yang ditekuk karena harus berjalan lagi keluar untuk menuju halte busway. Dengan memendam rasa kesal, saya bergegas menuju halte dengan sedikit menyeret santy untuk segera sampai di halte depan. Karena busway sedang berhenti dihalte tersebut. Namun malang tak dapat ditolak, meski sudah menarik santy yang melangkah dengan tak ikhlas,kami pun ditinggal oleh Busway yang menuju ke Ancol. Dengan langkah berat saya menuju ke loket tiket perjalanan busway. Segera kusetor Rp 7000,- untuk tiket 2 orang kepada mbak-mbak kasir. Setelah petugas tiket menyobek tiket kami untuk masuk ke halte, kami pun mengarahkan diri untuk menuju pintu antrian busway.

Waktu terus berjalan, saat ini jam tangan telah menunjukkan pukul 14.00 WIB tapi busway menuju Ancol belum juga nongol dihadapan kami. Pikiran semakin memanas didukung oleh suasana jakarta yang kian memanas disiang bolong ini. Memandang wajah santy yang sudah mulai ditekuk karena kelelahan mengantri menanti busway yang sibuk menghempas kemacetan jakarta. "Busway ini kok tidak kunjung datang, apa tidak ikhlas mengantar kami ke Ancol ??" Pekikku dalam hati. Selama beberapa kali, harapanku selalu meleset. Busway yang datang menghampiri kami, ternyata bukanlah bis unutk menuju ke Ancol. Yang paling sering adalah Buswat tujuan Kampung Melayu, dan setiap busway tujuan kampung melayu tersebut datang, kesalku semakin bertumpung dan segera meledak.

Setelah kaki mulai tegang karena terlalu lama berdiri, akhirnya Bis berwarna abu-abu gandeng itu pun muncul, menjawab doa kami semua yang berada di halte tersebut yang sudah sekian lama rasanya menanti datangnya sang Bis keramat itu :D. Ketika busway tersebut datang, lekas saja para penumpang berburu tempat duduk. Karena perjalanan PGC ke Ancol cukuplah jauh, jadi cukup untuk menegangkan urat-urat kaki. Ketika pintu busway terbuka, para penumpang bak atlet maraton yang mengejar garis finish (baca:kursi) untuk segera meluruskan kaki karena sudah seabad lebih berdiri menanti datanya bis. Sialnya lagi, setelah busway berjalan bebrapa kilometer melewati Universitas Kristen Indonesia (UKI), dan hendak berbelok ke halte BKN, tiba-tiba saja muncul suara aneh dari bagian belakang busway. Untuk menaiki jalan yang menanjak saja, busway bagai kura-kura tua berusia 1000 tahun. Sangat lambat dan terseok-seok, dan ketika sampai di pemberhentian halte BKN. Petugas busway mengusir kami semua dari dalam busway dan menyegerakan kami untuk turun di halte tersebut. Ternyata busway yang kami tumpangi tadi mengalami kebocoran ban. Status kesal saya meningkat jadi 87%, "Sudah lama antri, ban pake acara bocor segala !", umpatku. Sambil melihat ke arah santy yang mungkin sudah semakin gondok dengan kejadian tersebut. Diperkirakan kami sudah berdiri selama satu jam. Dan tidak bergerak mendekat kearah ancol. Lalu setelah sekian menit, muncullah busway tujuan kampung melayu. Menurut araha dari petugas busway, untuk ke Ancol kami bisa menggunakan busway tujuan kampung melayu dan transit ke arah ancol. "Tiba-tiba dari samping muncillah secercah wajah seram bagai zombie yang hendak menerkam manusia innocent sepertiku. Siapakah gerangan zombie tersebut, yap betul. Dialah santy. "Tau begitu dari tadi naik busway kampung melayu aja !!", kesalnya.

Dengan memasang muka malaikat, saya menerima dengan pasrah marahan dari sang kekasih. Segera kami melangkahkan kaki masuk kedalam busway yang sedang merapat di halte tujuan kampung melayu yang penuh dan berdesakan, walau berdiri ditengah kerumunan manusia kami pun sedikit lega karena kami sudah berada diperjalanan untuk menuju ancol walau selama 1 jam berdiri dan tak bergerak kemanapun juga.

Supir busway meliuk-liuk di kemacetan jakarta, dan sampailah kami di terminat kampung melayu atau halte busway kampung melayu. Sesampai di halte tersebut, geleng-gelenglah saya menyaksikan kepadatan antrian busway menuju ancol. Mungkin karena weekend jadi busway tujuan ancol sangat diminati. Setelah menunggu dan berdesak-desakan dengan pengantri yang lain, masuklah kami di busway tujuan ancol dan akhirnya berdiri didalamnya. Karena busway tersebut sangat padat.

Tepat pukul 13.20 WIB kami berdua sampai di halte Ancol. Alhamdulillah, untuk pertama kalinya setelah 2 tahun di jakrta saya berkunjung ke Pantai Ancol :D, lekas saja saya menarik santy untuk menuju loket masuk ancol. Tarif untuk masuk ancol yaitu Rp 15.000/per orang. Setelah membayar dan diperkenankan melewati gate tiketing, saya dan santy menyusuri jembatan busway untuk menuju ke pintu keluar halte tersebut untuk masuk ke Ancol.

"Nah, sekarang mau kemana ?", tanya santy. Dengan sok tau saya pun menariknya dan berkata "Ikuti pengunjung lain aja jalannya :D", jawabku singkat. Setelah berada di jalanan luar, terdapat Direction Board yang berisi arah untuk menuju ke bebrapa lokasi. Dan tujuan awal kami adalah pantai. Segera saya menarik santy untuk menuju arah yang ditunjukkan oleh papan tersebut. Namun santy pun memelas dengan panasnya terik matahari siang tadi. Dengan sedikit memaksa untuk jalan , santy tidak mau. Dia malas dengan terik matahari yang semakin menantang siang itu. Saat itu terjadi transaksi singkat antara saya dengan santy tentang bagaimana cara menju ke pantai dengan tanpa menyiksanya dengan teriknya panas matahari.

Dengan sedikit kesal, saya menuju seorang tua yang sedang duduk di pinggir jalan. Saya bertanya kepada orang tua itu bagaimana cara untuk menuju ke Pantai Ancol. Jawab pak tua itu adalah dengan menggunakan layanan Bis gratis yang disediakan pengelola. Karena jarak dari halte busway ke Pantai cukuplah jauh dutambah lagi dengan suasana panas jakarta disiang hari bisa-bisa membakar kulit yang sudah menghitam ini. Dan alhasil kami mengantri lagi menanti datangya bis gratisan

Akhirnya datang juga, bis biru dengan tulisan Bis Parawisata Arah Barat. Ketika bis datang dan membuka pintunya, seketika para pengunjung berebutan masuk ke bis agar mendapat duduk. Ditengah perjalanan dari halte busway menuju busway, terlihat deretan-deretan kapal motor yang berjejer. Mulai dari kapal motor milik polisi, hingga kapal pengangkut ikan. Sudah lama saya menantikan saat-saat ini. Dan tibalah kami di Pantai Ancol Jakarta Utara meski perjuangan untuk menuju tempat itu sangatlah berat, tapi terbayarkan dengan hembusan angin dan suasana ramai pantai yang kebetulan sedang dihibur oleh satu satu acara Live Music dari salah satu stasiun tv swasta.

Burung Camar di Pantai Ancol
Matahari Ancol

Sunset di Ancol
Santy langsung bergaya
Foto berdua di Ancol
Mulai egois dengan Kamera
Silau juga :D
Narsis dikit ah XD

Maksa Senyum
Ditinggal kekasih :D
Ihirr.....
Senyum terus :D
Si Manis Jembatan Ancol :D
Silai Betul
Pose sendirian aja ih ;p

Bayangannya :D
Panorama Malam Pantai Ancol
Suasana Malam Jembatan Ancol
Si Manis di Jembatan Ancol


Sesampai di pantai tersebut, terpampanglah pantai dengan tanjung berbatu-baru dengan pinggiran hamparan jalanan dihiasi lampu-lampu taman di sekitar areal pinggir pantai. Saya dan santy memutuskan untuk berjalan-jalan menikmati hembusan angin dan panorama pantai hingga malam. Dengan berbekal sebuah Handphone dan Kamera Digital, kamipun mengabadikan moment kunjungan kami itu di Pantai Ancol Jakarta. Hingga malam tiba, setelah menikmati panorama pantai dari siang hingga malam menjelang. Kami memutuskan untuk pulang. Karena besok tugas kuliah menanti kami. 


Demikian sekelumit perjalanan saya untuk berkunjung ke Pantai Ancol Jakarta bersama santy, mohon dimaklumi jika cerita dan tulisan masih begitu membosankan. Karena masih butuh penansan karena sudah lama tidak mencoret blog ini. Sampai jumpa di tulian berikutnya.





 Ichsan Yudha Pratama a.k.a eighTsuN



**photo by eighTsuN with Samsung S233W 

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.