Rabu, 16 November 2011

Derita Jakarta

Motor naik Jembatan
Seminggu lalu, Bapatua (Kakak laki-laki tertua dari ibu) dari Jayapura datang ke Jakarta dikarenakan ada kepentingan pekerjaan yang harus di selesaikan di kota ini. Kedatangannya ke Jakarta, bisa dibilang merupakan rutinitasnya setiap bulan. Sebagai salah satu pegawai perusahaan BUMN dari Jayapura, ia datang ke Jakarta sebagai perwakilan. Namun bagiku, kedatangannya ke jakarta memiliki misi rahasia keluarga yang diemban kepadanya.
Misi rahasia yang menurutku selalu dilancarkan setiap bulannya adalah, misi menjadi Hakim Ketua yang siap menghakimiku disetiap kedatangannya di Jakarta. Tentu saja, setiap menerima telpon bahwa dia akan segera tiba ke Jakarta, perasaan campur aduk akan semua kesalahan yang kulakukan akhir-akhir ini. Seperti bangun kesiangan, de el el. hahay.. namanya juga dinamika kehidupan perkuliahan bukan ? =D 

Disetiap kedatangnya, selalu kusempatkan untuk bertemu dirinya. Dia adalah keluarga yang rutin mengunjungiku di Jakarta. Yah, hanya dia. Untuk bertemu ibu, ayah bahkan adik-adik lelakiku yang tergolong sangat nakal itu memang sulit untuk mencari waktu untuk bertemu mereka di Kota Mojokerto Jawa Timur. Kota yang kusinggahi selama sembilan tahun usiaku. Seminggu lalu, ketika kedatangannya ke Kota ini, dalam perjalanan singkat kita mencari makan malam di sudut jalan HI, sedikit ucap yang ia tanyakan kepada saya, "Yud, apa kebanggaan para perantau datang ke Jakarta?", tanyanya singkat. Tanpa berpikir panjang, hanya satu kata yang kuucap yaitu "Macet!". Dengan anggukan pelitnya seperti dia membenarkan apa yang kupekikkan.

Yah, sepanjang perjalanan, dia bertutur tentang segala hal mengenai apa yang memang kubutuhkan. Tentu saja, ocehan seorang tua yang menemani hari-hariku dulu yang sering memaksaku harus menebalkan daun telinga baja ini. Dalam ucapnya, banyak perkataanya yang mengingatkanku datang ke kota Jakarta. Tentunya untuk menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi melanjutkan kompetensi yang kudapat di Sekolah Menengah Kejuruan di Mojokerto dulu. 

Mendengar beberapa pekikan ucapannya, terdapat sebait kata yang menjanggal akan kedatanganku ke Jakarta. Beliau berkata, Jakarta tak ubahnya bagai kota-kota lain di Indonesia, seperti Mojokerto, Jayapura dan kota-kota lain di Indonesia. Perbedaan yang paling mencoloknya yah mungkin terletak pada kesemerawutan Jakarta dikarenakan menjadi tumbal pusat pemerintahan dan juga ibu kota negara ini, tapi apakah hal itu saja yang harus mengorbankan Jakarta menjadi mangkuk semua tangisan susah dari semua penghuni pohon rindang berasap ini. 

Hidup di Jakarta adalah perjudian, Kota Jakarta sendri adalah Meja Perjudian Mempertaruhkan semua harapan dan cita Yang kita pasung dalam raga..

1 komentar:

  1. kalau mikirin Jakarta emang sperti kagak ada habisnya Sob,
    selalu saja ada masalah,
    seolah itu adalah ciri khas

    BalasHapus

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search