Cerita Remaja : "Kerinduan Nusantara"

Cerita Remaja | Cerita Pemuda | Cerita Nusantara | Dongen Nusantara | Kisah Nusantara | Kilau Nusantara | Puisi Nusantara | Indah Nusantara | Hebat Nusantara | Ragam Nusantara | Aneka Nusantara | Nusantara Indonesia | Kerajaan Nusantara | Kerajaan Majapahit | Kerajaan Mojopahit | Pemuda Nusantara | Generasi Nusantara
Mengenang akan kesibukan lama, buatku mengiang atmosfir kota lama yang telah kutinggalkan hampir lebih dari 2 semester. Kesibukan menjalani kehidupanku yang baru di kota jakarta, memang bukan perkara mudah. Mungkin dulu aku hanya bisa meneorikan tentang apa itu hidup mandiri. Dan kini, aku harus mempraktekannya sendiri. ya, tentu saja hidup mandiri bukan hanya didefinisikan dengan Mandi Sendiri. Sebutan yang dulu kukenal ketika aku masih berusia kanak-kanak. Setelah menjalani hidup hampir setahun sendiri, aku baru tau apa yang disebut dengan hidup mandiri. Ini bukan sekedar masalah kita sebagai orang mandiri mampu menjalani hidup sendiri. Momen ini merupakan suatu langkah yang penuh arti. Sedikit melenceng dari penataan hidup, berubah haluanlah arah tujuan kita menjalani mandiri ini.

Sesungguhnya, kehidupan yang kujalani ini tidak semudah yang dibayangkan. Mungkin dalam hal ini aku hanya melihat dalam pandangku saja. Aku berada disini tentu saja untuk kembali. Membawa suatu bukti akan janji tentang kepergianku meninggalkan orangtua di kota lama dan berjanji akan mewujudkan semua keinginanku tuk bahagiakan mereka. Sebagai seorang anak pertama dan kakak dari kedua calon perjaka. Aku memulai bertaruh. Akan menjadi anak berbakti dan kakak yang mampu menjadi contoh, atau malah menjadi anak yang mengecewakan orangtua dan kakak yang hanya menjadi aib.

Kota jakarta memang hanya sekedar nama yang kukenal dari media cetak maupun layar kaca. Sebuah kora yang tak pernah sedikitpun ku mimpikan untuk ku pijak. Tapi ya, mungkin karena inilah takdirku. Sekarang aku melanjutkan pendidikan disebuah Universitas di wilayah jakarta Timur yaitu Universitas Borobudur. Sejak aku datang kemari, aku sering dilempari pertanyaan darimana aku tahu kampus ini. Dan dengan gagah dan lantang kujawab. TIDAK TAHU.

Awalnya ini semua serasa suatu sesalan yang sangat menusuk, meninggalkan semua kenangan di kota lama. Meninggalkan berbagai kehidupan nyaman yang kujalani hampir selama 9 Tahun di kota itu. Hampir seluruh daerah kukenali dan bahasa jawa kasar yang khas masih saja melekat dalam logat bicaraku kini. Mengaku orang jawa ? semua orang percaya, mengaku orang ambon ? tak ada yang akan bantah, mengaku orang papua ? mungkin lebih tepat.

Cukup rumit dan begitu komplikasi alur cerita kehidupanku ini. Mungkin ini buah tangan dari seorang Serma Polisi Militer. Dialah yang membawaku melintasi timur nusantara, sejak aku duduk di bangku taman kanak-kanak hingga sekolah dasar tingkat 4. Yang menjadi kenangan yaitu setumpuk tanda pindah dan masuk sekolah yang berada di bagian belakang rapor sekolah dasarku. Sangat penuh cap stempel dan tanda tangan kepala sekolah yang melekat di kertas putih itu. Melihatnya ketika dewasa, menjadi hiburan pribadi buatku. Aku pernah bersekolah di 6 SD di 4 kota yang berbeda dalam kurun waktu 4 tahun. Sebuah cerita unik. Setiap kali pindah aku menyaksikan suatu tingkah baru, lingkungan baru yang memaksaku untuk beradaptasi. Layaknya ikan hias yang berganti-ganti kolam dari kolam pembibitan, perawatan , penjualan hingga kaca-kaca akuarium pembeliku.

Semua itu menjadi kisahku, sebuah kisah yang akan selalu kukenang. kota Jayapura, Wamena, Ambon, Masohi dan Mojokerto. Merupakan tempat-tempat indah yang pernah menjadi kolom cerita seorang anak pertama dari seorang sersan polisi militer. Mengiang akan itu, membuatku bangga dengan apa yang disebut Nusantara. Sebuah wilayah yang sering disebut surga. Sehingga dahulu tempat ini menjadi kota manis bagi para tawon penjajah untuk mengisap segala madu negeri ini.

Sebagai salah satu pemuda, aku pun membangga akan hal itu. Sejarah yang berbicara, sejarah yang tanpa bantah mengatakan bahwa Nusantara adalah surga sesungguhnya.
Kini aku ingin membagi cerita pengalamanku ini kepada anak-anakku kelak. Mengatakan padanya bahwa bersalahlah dia hanya mengenal Indonesia hanya dalam satu kota, hanya dalam satu ragam, hanya dalam satu warna. Indonesia merupa pelangi tanpa ujung. Tidaklah cukup hanya memandangnya dalam layar kaca. Tidak cukup hanya membaca bait demi bait coretan penjelajah nusantara dalam suatu rubrik perjalanan. Warna indonesia, hanya semanis buah cempaka. Kita tahu setelah mencobanya. Bukan berdasarkan apa yang diceritakan oleh orang lain.

Saat ini, impian utamaku adalah membuat bangga orangtuaku, keluargaku, dan tentu saja untuk semua orang yang berada disekelilingku. Aku ingin sekali mengenalkan Indonesia dalam pandangku. Memperlihatkan pesona negri yang sempat digegerkan cetusan kias sebagai Benua yang hilang. Itu merupakan suatu kebanggaan cita rasa nusantara untuk batin bangsa sendiri. Bahwa bangsa lain dengan tidak sadar mengakui keindahan negeri ini. Tapi sesal seakan tak akan lepas, mengingat kita sebagai penghuni surga mengapa tidak pernah menyadari akan hal itu.

Cerita lama yang kuangkat, karena kerinduanku akan bait demi bait kenanganku,dulu.

Ichsan Yudha Pratama

Rakyat Biasa Yang Cinta Keragaman Nusantara
Running Enthusist | Web Developer | Blogger | Google Local Guides

Love to code, code to love.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar