Realistis Dalam Pandang

Filsafat Hidup | Pandangan Remaja | Filsafat Remaja | Cinta Remaja | Kisah Remaja | Curhat Remaja | Gelora Remaja | Masalah Remaja | Kisah Mahasiswa
Sudah cukup lama tak satupun coretan kules pada blog ini. Mungkin hampir seabad lebih kubiarkan blog ini mematung dengan kunjungan rubrik yang tetap itu-itu saja. Tapi, bolehkan aku beralasan. Kesibukanku akhir-akhir ini mulai membuatku hampir terbunuh oleh waktu. Sulitnya membagi waktu kapan untuk menyelesaikan segala aktifitas dan kapan waktu untukku beristirahat terbengkalai semua. Seakan tubuh ini dijalankan oleh mesin yang terkontrol d pusat otakku ini. Sebab mengapa aku memulai satu goresan ini adalah masalah cinta lagi. Atau, sekedar permainan rasa bahkan pikiran semata. Seakan apa yang hendak kulakukan kini, terasa membingungkan. Ada rasa butuh, namun ragu selalu menyuara kian kerasnya. Kata Bingun merupakan judul terbesar setiap ada seseorang yang bertanya aku sedang apa saat ini. Setiap waktu tak habisnya aku memikirkan sesuatu itu, sesuatu yang tak pernah pasti, sesuatu yang memang sejak dulu tercipta tak pernah jelas. Namun banyak orang yang seakan doyan, ketagihan akan hal itu. Meski terkadang kecewa atau menyesal, rasa ingin mendapat yang lebih dan lebih pasti selalu ada. Apakah ini hanya sekedar game ? Atau sebuah kebutuhan jiwa ? Entah lah, sekali lagi hanya bingung.

Terbayang akan kenangan lama yang pernah buat penyesalan, berusaha ku hapus. Kucoba untuk berjalan realistis. Masih ada banyak bintang dilangit. Itu artinya masih ada banyak berjuta harapan yang bisa kita buai satu persatu dalam benak ini. Tanpa ada batasan yang mampu memenjarakan setiap mimpi-mimpi seseorang. Itulah aku, itulah aku disini dalam kesendiria. Membingun sendiri di tengah tawa sahabat-sahabatku. Bersama mereka, aku merasa waktu hanyalah sedetik sehari. Namun tanpa mereka, waktu sejam seakan seabad karena pikiran tentang itu berayun-ayun dalam benakku.

Apakah dia pun memikirkan hal tersebut. Tawa terbahak pun kuungkap dalam Benak."Tidak mungkin !". Yah, sekali lagi itu hanyalah khayalanku. Kembali kuterbangun dalam lamunanku. Kini aku harus memulai suatu langkah realistis. Apa yang memang bernilai pasti. Itulah yang kuambil, namun apakah aku terlalu congkak, bermain dengan perasaan ? Seakan jijik dengan sesuatu yang meragukan tapi aku mengharapkannya.

Cukup sudah bercerita ragu, yang harus kulakukan adalah belajar mencoba. Belajar dari apa yang pernah kulakukan. Belajar dari apa yang kuperbuat dahulu. Dan berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengulangnya diwaktu yang akan datang. Itulah manusia, belajar dari pengalaman. Memanfaatkan anugerah Tuhan, yaitu Allah SWT untuk memperbaiki diri kearah yang lebih bagus. Yang kutunggu hanyalah waktu, waktu untuk berkata jujur. Jika itu tidak memenuhi apa yang kuangankan. Biarkan. itulah realitas. Pahit tapi berjujur pada sesuatu yang nyata.

Kita insan manusia, hanyalah sesosok raga yang berusaha, jujur tapi terkadang ragu itu setia menemani.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.