Cerita Remaja : "Bukan Cita-Cinta"

Papan Arah Jakarta | Mudik Jakarta | Minggat Jakarta | Kuliah Jakarta | Jakarta | Arah Jakarta | Menuju Jakarta | Remaja Ke JakartaKembali lagi masalah pengharapan. Akhir-akhir ini, banyak sekali keputusan yang tidak jelas ku ambil. Sepertinya, aku dilatih untuk teguh dengan ucapanku yang masih remaja ini. entah, sepengetahuanku, ini semua seperti mimpi. Tak pernah ku berangan-angan menginjak kota jakarta. Melihat orang berpose di Monas saja membuatku enggan melihat, entahlah mungkin ku juga ngrasa' kalo jakarta itu bukan tempat yang patut menjadi tujuan. Bagaimana tidak, nisa di bilang menu berita tiap harinya adalah tentang kota jakarta. Mulai dari soal pemerintah yang tetek bengek, soal seleb yang kawin-cerai pacaran bin putuslah, belum lagi masalah Indonesia yang terpotret dari sisi jakarta yang begitu tu. Kalau di tanya, apa saya pernah bermimpi atau punya sedikit keinginan jalan-jalan di jakarta, jawabannya TIDAK.
Masih ada kok tempat lain yang lebih indah, lebih bagus dan saya pun lebih bermimpi jalan-jalan ke tempat demikian. Dan rasa-rasanya jakarta tidak pernah ada di Destination List ku tuuh. Pokoknya ogah dah kalo lama-lama mikir Jakarta. Tapi yah, mau gimana lagi. Saat ini saya terdaftar di salah satu perguruan swasta di jakarta timur. Mungkin ini seperti suatu pelarian, karena baru-baru ini saya baru menyelesaikan pendidikan tingkat SMK di provinsi jawa timur. Dan ketika mengikuti pendaftaran mahasiswa jalur prestasi di salah satu universitas di sana, saya kurang beruntung. Entah angin dari timur mana, tiba-tiba saya bisa masuk ke Universitas Borobudur dan mengambil Fakultas Ilmu Komputer Jurusan Sistem Informasi, yah masih melanjutkan lah jurusan saya dahulu, yang ketika di SMK saya mengambil Teknik Komputer dan Jaringan. Penyesalah sih sepertinya ada, karena sejak dahulu saya selalu bersekolah di Negri, tak pernah terbersit atau cita-cita bahkan rencana cadangan untuk berkuliah di swasta, apa mau di kata, mungkin ini adalah jalan yang telah di beri oleh sang Illahi, saya sih mencoba untuk ikhlas meski sulit sekali rasa. Namun saya berjanji, untuk berhasil di ujuan penerimaan Beasiswa Mahasiswa TNI, sehingga saya dapat mewujudkan cita-cita saya menjadi seorang TNI, Perwira TNI.

Mungkin beberapa orang yang mengenal saya, mengira cita-cita saya seperti itu karena dipengaruhi oleh ayah saya yang kini merupakan Sersan di salah satu Korps TNI. Tapi saya meyakinkan lagi bahwa ini adalah jalan saya. Tidak pernah sedikitpun orangtua saya ikut campur dalam mengambil keputusan tentang masa depan saya. Mulai dari tingkat rendah, saya selalu berusaha sendiri menentukan jalan ke arah tingkat selanjutnya, hingga saya lulus SMK dan jiwa saya menunjukkan cinta saya terhadap kedaulatan NKRI.

Cinta saja rasanya tidak cukup untuk meluluskan saya dalam ujian penyaringan itu, saya juga harus belajar, membetulkan otak saya yang sudah lama tak pernah di asah oleh materi pelajaran, bisanya tiap hari ke warnet, efbean, twiteran,n' blogging lah, tapi itu masih mending siih, dari pada maen social networking yang ga' jelas.
Saya harus menata ulang jadwal kegiatan saya, mulai jadwal ibadah, latihan, belajar, istirahat, have fun. Semua harus tertata rapi bak buku UUD 1945. RUntun dan terstruktur disertai dengan perjanjian darah bahwa saya tidak boleh melanggar jadwal itu. Karena salah satu kriteria menjadi TNI adalah disiplin bukan ? Saya siap untuk ini, karena memang saya diharuskan siap untuk ini. Karena 4 tahun lagi adalah hasil dari usaha saya atau tingkah saya di jakarta sini. Jangan sampe nanti sepulang saya ke orangtua, bukan membawa Ijasah, tapi malah membawa cucu' Naudzubillahi minzaliiq, jangan pernah dah.

Dan mungkin, musuh pertama saya adalah Nafsu. Ya, nafsu malas adalah faktor utama yang membuat saya harus terdampar ke Jakarta. Bisa di bilang di SMP saya merupakan siswa tidak neko-neko. Tidak terlalu banyak bergaul, prestasi di kelaspun selalu ada peningkatan. Namun setelah di SMK, otak saya seakan saya tutup mati untuk urusan berhitung. Akibatnya masalah pelajaran itung-itungan adalah masalah yang bukan hal yang pernah saya pikirkan. Jadi mungkin ketika pelajaran yang bukan berhubungan dengan itung-itungan, teman-teman saya sewaktu SMK berebut menjadi teman kelompok belajar, tapi jangan harap mereka mau demikian ketika pelajaran itung-itungan. "Uh,, pada kabur !"

Entah lah, semua sudah berbeda, semua sudah berubah sekarang. Pembuktian pada orangtua dan diri sendiri bahwa saya mampu membawa diri adalah janji utama.
Janji yan tak tertulis, namun selalu berbekas dalam waktu beberapa tahun kedepan. Penyesuaian keadaan harus terpaksa kulakukan. Walau diri rasanya sulit untuk demikian.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.