Kamis, 09 Juli 2009

Susahnya Jadi Pemerintah

Mungkin pada bulan-bulan ini masalah perebutan kekuasaan pemerintahan sedang menjadi headline di berbagai media di tahan air. Namun apakah perebutan kekuasaan itu memang betul-betul di perebutkan oleh anak-anak bangsa yang berkompeten? jawabannya adalah tergantung masyarakat, karena pada akhir jabatan Megawati Soekarno Putri sistem demokrasi di negara ini semakin jelas untuk rakyat mojokerto. Suatu sistem pemerintah mutlak di butuhkan demi terjadi kelancaran dalam setiap inci demi inci keberlangsungan suatu negara. 

Dan Pemerintahan tidak sepenuhnya hanya terdapat pada Ibukota suatu negara. Dan umumnya,jika kita membahas pemerintahan, tidak mungkin kita berpaling muka pada pemerintahan yang terdapat di Provinsi,kota atau kabupaten. Karena Pemerintah Kota dan Kabupaten juga ikut berperan dalam membentuk bangsa dalam elemen apapun. Dan di Kota Mojokerto,rasa-rasanya menjadi pemerintah bukanlah sesuatu yang gampang. Dibuktikan dengan alotnya prestasi kota ini dalam hal kebersihan. Hal tersebut mungkin telah di sadari oleh sedikit masyarakat dan entah bagi sebagian masyarakat yang lain. 

Piala Adipura adalah suatu bukti bahwa suatu kota dapat menjaga kebersihan lingkungannya tapi apa yang terjadi dengan kota mojokerto yang dalam kurun waktu yang sangat lama dan telah di nanti-nanti selama kurang lebih 14 tahun baru bisa menggendong Piala penghargaan tersebut ke dalam pangkuan kota ini? memang pemerintah adalah suatu lembaga yang sering disalahkan jika hal tersebut terjadi, tapi apakah sang penuduh pernah berintrospeksi diri atas apa yang terjadi, karena kota mojokerto bukanlah milik pemerintah kota saja melainkan milik seluruh warga mojokerto,jadi yang berkewajiban menjaga adalah seluruh warga kota mojokerto. 

Saat ini pemerintah sudah berhasil membuktikan hasil kerjanya dan usahanya untuk mengharumkan kota ini, tapi bagaimana jika kesadaran masyarakat tidak segera timbul,belum tentu tahun-tahun yang akan datang kota ini bisa kembali membawa piala itu dan memamerkan kepada mereka yang tidak mau menjaga kebersihan. Mungkin jika salah satu dari kita akhir-akhir ini sering jalan-jalan di sekitar kota mojokerto maka kita akan menjumpai berbagai papan himbauan agar kita menjaga kelestarian lingkungan, kebersihan lingkungan dan lain-lain. 

Dan salah satunya adalah memasang papan peringatan agar tidak berjualan, membangun ruko atau bangunan di area-area milik umum seperti trotoar jalan. Tidak dapat dipungkiri bahwa kegunaan trotoar jalan saat ini sudah jarang lagi digunakan untuk pejalan kaki sesuai kegunaannya namun menjadi lapak-lapak bagi pedagang kaki lima untuk mencari rejeki meski jelas-jelas terdapat larang keras di tempat tersebut. 

Seperti contoh di Jalan Pemuda kota mojokerto. Sepanjang jalan pemuda kota mojokerto, terdapat beberapa sekolah-sekolah unggulan di kota ini, seperti SMA Negeri 3 Kota Mojokerto, SD Negeri Gedongan 1 Kota Mojokerto, SD Negeri Gedongan 2 Kota Mojokerto, SD Negeri 3 Kota Mojokerto dan SDK Santo Jusuf Kota Mojokerto. Bisa di bayangkan bahwa pada jam-jam tertentu yang digunakan anak sekolah untuk masuk dan pulang adalah saat-saat terpadat dan macet, tapi kejadian tersebut bukan terjadi karena banyak kendaraan yang berhenti di sekitar pinggiran jalan melainkan para pedagang kaki lima yang memenuhi pinggir jalan Jl. Pemuda hingga memakan trotoar jalan yang kini kondisinya telah sangat rusaak dan mungkin tak lagi dapat digunakan untuk berjalan kaki. Dan para pedagang tersebut sepertinya tidak menghiraukan papan yang berisi larangan-larangan yang dibuat oleh pemerintah kota mojokerto. 

Dan yang lebih parah adalah, para pedagang tersebut terkadang membuang sampah-sampah dagangan mereka pada kali kecil yang berada disebelah Jl.Pemuda sehingga pada musim penghujan ketua RT ( Rukun Tetangga ) setempat menjadi sangat pusing untuk menggerakkan warganya untuk membersihkan kali tersebut dari kotoran-kotoran yang begitu sangat banyak dan jika tidak terurus maka akan menyebabkan meluapnya air hujan ke sepanjang jalan Jl.Pemuda dan akhirnya masuk kedalam pemukiman warga. Ini adalah satu contoh keegoisan warga mojokerto yang nyata adanya dan kita sendiri sebagai warga kota mojokerto hendaknya berpikir ulang terhadap segala tindakan yang mereka lakukan yang mungkin berpengaruh terhadap kualitas lingkungan.

Dan di kota mojokerto sendiri, saat ini pemerintah kota mojokerto telah menyediakan tempat-tempat sampah yang memisahkan antara sampah kering dan sampah basah namun seperti foto yang anda lihat di atas, salah satu taktik dari pemerintah ini sepertinya kurang di mengerti oleh warga kota mojokerto dan pada saat sore tadi saya mengambil foto tersebut, saya melihat tempat sampah tersebut masih sangat bersih, tak ada tanda-tanda atau sisa dari sampah yang pernah di buang ke dalam tempat tersebut. 


Dan kejadian ini berlawanan dengan apa yang saya lihat di pinggir jalan Mojopahit kota mojokerto, di sekitar jalan mojopahit malahan tempat sampah yang telah di buat untuk memisahkan antara sampah basah dan sampah kering malah berisi sampah yang tidak sesuai dengan yang seharusnya berada di dalam tempat itu. 

Seperti yang saya lihat, terdapat orang-orang yang membuang plastik-plastik minuman yang baru dibelinya dan masih terdapat sedikit minuman dan dibuangnya ke dalam tempat sampah yang berwarna kuning, entah mungkin karena warga tersebut adalah penggemar warna kuning atau memang warga tersebut memang tidak bisa membaca sehingga tidak memperdulikan usaha pemerintah dalam usahanya membersihkan dan menjaga kualitas kebersihan kota mojokerto ini.

Seandanya saja, kita sebaga warga kota mojokerto mau sedikit peduli, maka alangkah bahagianya kita jika pada penganugerahan Piala Adipura, Walikota Kota Mojokerto juga turut hadir untuk menerima piala penghargaan tersebut. dan kita sebagai warga kota mojokerto pun akan benar-benar merasakan kebahagiaan meraih penghargaan tersebut secara bersama.

Dan jika terdapat satu orang saja warga kota mojokerto yang membawa perubahan untuk menjaga kebersihan lingkungan, coba bayangkan jika anda dan keluarga anda serta tetangga-tetangga anda juga turut serta dalam menjaga kebersihan lingkungan, kebersihan kota, dan kelestarian lingkungan maka sudah jelas bahwa pada tahun-tahun yang akan datang, untuk meraih piala penghargaan adipura bukanlah suatu yang yang sulit dan tidak perlu untuk di tunggu-tunggu untuk waktu yang cukup lama.

Posting Komentar

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search