Rabu, 08 Juli 2009

Ketulusan,Kepasrahan atau Kemalasan?


Kota Mojokerto merupakan salah satu kota yang mulai beranjak menuju suatu kota yang besar, namun masih terdapat beberapa hal yang harus di benahi dalam hal penanganan kaum bawah seperti pengemis,pengamen dan gelandangan. Hal tersebut tidak dapat kita bantah, karena masih sering kita jumpai di beberapa sudut kota mojokerto begitu banyak pengemis,pengamen,dan juga gelandangan. Tidak hanya para orang yang sudah berumur, bahkan anak-anak kecil pun sering digunakan sebagai alat untuk melakukan pekerjaan yang kurang terpuji seperti ini. Memang pada saat ini Dunia sedang dilanda krisis global, namun apakah hal tersebut telah membuat pemerintah kehabisan langkah untuk mengatasi hal hal tersebut yang jelas berada d depan hidung para pemerintah kota mojokerto. Kenapa saya sebut demikian? karena hal ini sering di junpai di daerah pusat kota mojokerto. Dan mungkin bagi para warga kota mojokerto yang sering jalan-jalan di sekitar kawasan pusat kota mojokerto seperti Alun-Alun kota mojokerto dan juga di jalan Mojopahit kota mojokerto, terdapat para pengemis dan gelandangan yang menanti berkah dari sesamanya. Apalagi di toko-toko di kawasan jalan mojopahit, terdapat banyak sekali tulisan "Ngamen Gratis" ataupun "Ngamen Hari Jumat" hal tersebut mereka lakukan karena terlalu banyaknya jumlah kaum bawah yang bertebaran di sekitar kawasan tersebut. sehingga mereka memikirkan suatu cara hingga hal tersebut dapat di minimalisir. Namun tetap saja pada hari jumat kejadian tersebut bahkan menjadi bom nuklir karena pada saat-saat tersebut adalah waktu yang tepat bagi para kaum bawah demi mengais beberapa jumlah rejeki.


Pada saat SMP dulu, kebetulan saya bersekolah di SMP Negeri 7 Kota Mojokerto. Guru olahraga saya sering mengajak siswanya yang pada jam tersebut mendapat giliran pelajaran olahraga,untuk berolahraga ke Aloon-Aloon Kota Mojokerto karena lokasinya yang cocok dan juga strategis untuk di gunakan olahraga karena terdapat lapangan yang disertai dengan dua gawang sepakbola. Pada saat SMP kelas 9, olahraga saya dilakukan pada hari jumat di mulai dari jam 7.00 hingga jam 9.00 . Jadi dari SMP 7 Kota Mojokerto di Jalan Karyawan No.7, untuk mencapai Aloon-Aloon Kota Mojokerto kami seluruh siswa 9A menelusuri jalan karyawan menuju Jalan Mojopahit dan setelahnya menuju ke arah utara yaitu menuju ke Aloon-Aloon Kota Mojokerto. Pada saat berada di jalan mojopahit, saya seringkali melihat begitu banyak pengemis dan pengamen yang menyerbu toko-toko yang berada di jalan mojopahit dan tidak lupa dengan berbagai akting atau berbagai perlengkapan demi meraih untung yang sebanyak banyaknya misalnya membawa balita dan juga anak-anak serta menggunakan aksesoris layaknya orang yang baru terkena musibah kecelakaan. Saya menyebutnya hanya akting, karena sering saya nonton acara reality show di televisi bahwa mereka para pengemis terkadang melakukan berbagai cara untuk mendukung penampilan mereka sebagai pengemis sehingga para warga yang berada di sekelilingnya merasa iba dan kasihan terhadapnya.

Dan juga bagi Mereka yang pernah menonton Film "Around the World at 80days" yang dibintangi oleh Jaky Chan. Pada saat itu, majikan Jackie Chan Menyadari hal yang disembunyikan oleh jackie chan dan memutuskan untuk melakukan perjalanan sendiri, namun di tengah jalan dia dirampok oleh seorang wanita sehingga akhirnya seluruh uang yang dimiliki hilang dan sang majikanpun menjadi gelandangan. Pada saat menjadi gelandangan, majikan Jackie Chan memutuskan untuk menjadi Pengemis,namun pada setiap aksinya, dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan melainkan hanya percikkan air ludah yang mendarat di wajahnya. Dan ketika itu, Majikan Jackie Chan didekati oleh seorang Pengemis yang tampaknya ahli di bidangnya dan dia pun dengan bangga memamerkan keahlian dan juga memberi contoh bagaimana menjadi pengemis yang handal yaitu harus memiliki tampang yang buruk dan juga memiliki aroma tubuh yang sangat tidak menyenangkan. Setelah sang Pengemis ahli tersebut mencontohkan nasihat yang di berikan beserta praktenya, sang majikan tadipun mempraktekkan dan alhasil, usahanya pun berhasil.

Dari Film yang bertingkat Internasional tersebut, kita bisa mengetahui bahwa Pengemis,Pengamen dan juga para Gelandangan bukan hanya milik Bangsa Indonesia atau Kota Mojokerto khususnya tetapi hal tersebut adalah suatu masalah yang bertaraf UNIVERSAL dan bukan pemerintah kota setempat,hal tersebut akan berakar dan selalu tumbuh menutupi berjuta pemandangan indah yang berada di kota tersebut, kota kita tercinta Kota Mojokerto.

Dan akhirnya ini semua adalah salah satu tugas Pemerintah Kota Mojokerto yang di harapkan untuk lebih dan lebih lagi meningkatkan kualitas pekerajannya demi mencapai Mojokerto Sejahtera. Karena sesuai UUD pasal 34 ayat 3 menyebutkan bahwa " Anak yatim dan Orang terlantar di pelihara Negara," dan sudah jelas bahwa di samping meningkatkn APBD untuk mendidikan,seyogyanya pemerintah merancang APBD untuk membangun panti-panti atau yayasan,dan sudah sewajibnya kita sebagai waga kota mojokerto yang menginginkan pelayanan yang terbaik dari pemerintah kota mojokerto maka kita diwajibkan membayar pajak utuk membantu kelancaran AD/ART Daerah. Dan sebagai pelajar, kita semua harus sedikit lebih menghargai keberadaan mereka sebab merekapun saudara kita yang hanya kurang beruntung dalam menjalani hidup ini.
Pada saat mengumpulkan materi untuk mengikuti kompetisi blogger kota mojokerto dan saya hendak menulis tetang judul ini, saya sempat berurusan dengan mobil patroli Satpol PP.
Ketika itu saya dengan menggenakan seragam olahraga SMK Negeri 1,Saya berjogging sembari mencari dan memfoto objek-objek yang sesuai dengan judul yang saya cari,namun sial ketika sampai di per-empatan jalan Gajahmada-Jalan Pemuda saya memotret gelandangan-gelandangan dan pengemis yang berada di lampu merah tanpa sengaja terdapat mobil patroli Satpol PP Kota Mojokerto dan entah apa yang saya pikirkan ketika itu, dengan sengaja saya memotret mobil patroli tersebut dan mungkin saya bernasib buruk,karena terdapat beberapa bapak dari satpol PP yang melihat aksi saya dan menghampiri saya ketika saya telah berada di sekitar jalan Tamansiswa. Dengan wajah tak bersalah namun jantung bedegub kencang saya menjawab setiap pertanyaan dari para satpol pp yang tampak garam. Dan dengan jelas saya menyebutkan alasan saya bahwa melakukan hal tersebut demi mendapatkan artikel yang bagus untuk mengikuti Kompetisi Blogger Kota Mojokerto, dengan segera Mobil Patroli itu meninggalkan saya tanpa berucap satu kata perpisahanpun. Mungkin itu adalah kenangan pribadi terunik saya dalam hal mengikuti lomba dan saya menghaturkan beribu maaf kepada segenap Satpol PP yang berada di dalam mobil patroli tersebut atas tindakan saya.

Posting Komentar

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search